(Pov Wawan)
"Tidakk! Apa yang terjadi semalam, Dewi?" tanyaku sambil membangunkan Dewi yang masih tertidur pulas. Wanita itu pun terkejut dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain.
"A-Aku. Maafkan aku, Wan," jawabnya gugup.
"Apa yang terjadi, Dew? Apa yang kita lakukan semalam? Aaaarrrrggggghhhh ... aku tak ingat apa-apa," sesalku sambil mengacak-acak rambut.
"S-Sebenarnya tadi malam kamu terus memanggilku, Aira. Kamu memaksaku, Wan. Aku tidak bisa menghindari karena aku memang masih sangat mencintaimu. Kita melakukannya. Maafkan aku," jelas Dewi sambil menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ya Allah ... dosa apa yang telah kuperbuat? Aku sudah mengkhianati Aira," teriakku kesal. Aku meninjukan tangan berkali-kali di dinding. Andai waktu bisa diputar, aku tidak akan meminum minuman laknat itu. Tanpa tersadar aku menangis, tapi penyesalanku sudah tiada gunanya. Aku telah membuat kesalahan yang fatal, padahal pernikahanku sudah di depan mata, bahkan pagi ini aku tak punya nyali untuk menelepon Aira. Aku merasa kotor dan hina. Ya Allah ... ampuni dosaku.
"Wan, maafkan aku. Aku tidak akan merusak kebahagiaanmu. Menikahlah dengan Aira. Aku tak kan menghalangimu meskipun--"
"Meskipun apa Dew?"
“Meskipun bisa saja suatu saat nanti aku hamil anakmu. Aku sedang dalam masa subur, sedangkan tadi malam kita melakukannya tanpa pengaman," jelas Dewi membuatku ternganga. Bagaimana jika Dewi nantinya hamil anakku?
"Apa? Tidaaak!" teriakku semakin kacau. Pada saat yang sama, beberapa kali ponselku berbunyi. Sebuah panggilan dari Aira. Dia pasti mengkawatirkan aku karena tadi malam aku tidak meneleponnya. Aku malu padanya, bahkan saat ini aku tak berani mengangkat telpon darinya. Dering telepon terhenti membuatku lega. Namun, beberapa saat kemudian sebuah pesan chat dari calon istriku itu masuk.
[Mas gak apa-apa, kan? Kok teleponku gak diangkat? Nanti siang kamu jadi pulang, kan?]
Aku menghela napas panjang. Terpaksa aku harus berbohong pada Aira. Aku mengetikkan pesan balasan yang langsung berubah menjadi dua centang biru.
[Maaf, Sayang. Batreku lowbet. Iya, nanti siang aku pulang, tapi kamu gak usah jemput karena aku langsung ke kantor] Aku berbohong pada Aira agar dia tidak menjemputku ke Bandara. Sungguh, aku belum sanggup bertemu dengannya.
[Ya, Mas. Jaga kesehatan kamu, ya. Kita bertemu besok saja pas akad nikah.]
[Iya, Sayang. Jaga dirimu baik-baik, ya!]
Aira mengirimkan emot dua mata love. Aku kembali menyunggar rambutku dengan kasar, Aku bahkan tak punya nyali untuk bicara apalagi ketemu dengan Aira. Bagaimana bila nantinya Dewi benar-benar hamil anakku? Ya Allah .... Tiba-tiba kepalaku serasa mau pecah.
***
Aku sampai di bandara Adi Sucipto dengan selamat saat hari menjelang malam. Aku sampai berfikir lebih baik pesawat yang kutumpangi jatuh ke laut dan aku mati dimakan ikan, sehingga aku tak harus bertemu Aira lagi. Aku tak sanggup menatap wajah polosnya setelah dosa besar yang aku lakukan bersama Dewi.
Harusnya hari ini aku berbahagia karena pernikahanku sudah di depan mata. Namun, semua kebahagiaan itu lantas sirna setelah bayangan perbuatan dosa yang kulakukan bersama Dewi terus melintas di kepala bagaikan hantu yang terus menteror pikiranku.
Setiba di rumah aku langsung masuk kamar tanpa menghiraukan Mama dan Hadi yang membrondongku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar persiapan pernikahanku yang mungkin sudah mereka siapkan jika aku pulang. Aku terdiam dalam kamar penuh penyesalan.
Keesokan harinya tibalah hari pernikahanku. Aku harus segera bersiap karean akan melaksanakan akad nikah di rumah Aira. Tiba-tiba hatiku menjadi ragu. Aku merasa tidak pantas menjadi menantu Abah Abdullah, Pak Ustadz yang baik dan sholih. Aku merasa tidak pantas menjadi suami Aira yang begitu baik dan polos. Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan?
Jas dan celana putih yang akan kukenakan untuk akad nikah sudah tergantung rapi di depan lemari baju. Hatiku bergetar mengingat pengkhianatanku pada Aira. Aku sudah melakukan dosa besar dengan Dewi. Aku seorang pezina. Apa pantas seorang pezina sepertiku menjadi menantu H. Abdullah, seorang pemuka agama yang terhormat?
Ah, aku dilema dengan perasaan berdosaku. Bayangan perbuatan kotorku dengan Dewi kembali menghantui pikiran, hingga suara ketukan di pintu kamarku membuyarkan semua lamunanku.
"Wawan, cepat keluar! Kita harus sampai di rumah Aira satu jam sebelum acara akad nikahnya dimulai," seru Mama dari luar kamar.
"Iya, Ma. Bentar," balasku. Aku bertambah bingung. Apa yang harus aku lakukan saat ini?
Akhirnya kuputuskan untuk pergi jauh, meninggalkan pernikahan ini. Aku tak sanggup melanjutakan pernikahan dengan Aira. Rasa bersalah terhadap gadis itu terus menghantuiku. Selain itu, aku juga khawatir jika suatu saat nanti Dewi hadir kembali di dalam kehidupan pernikahanku.
Bagaimana jika nanti Dewi datang meminta pertanggungjawabanku atas anak yang mungkin saja hadir di rahim Dewi akibat hubungan terlarang kami?
Aarrgghhhh .... Kepalaku rasanya seperti terbelah dua. Aku segera memasukkan beberapa baju dan surat-surat penting ke dalam tas ransel ukuran sedang. Aku harus pergi dan menghilang dari Yogyakarta untuk sementara ini.
Hp yang sudah aku matikan sejak kemarin kini aku aktifkan sebentar untuk memesan taksi online. Nanti akan segera aku matikan setelah mendapatkan taksi. Aku takut Aira menelepon lagi. Tidak sanggup rasanya jika harus bicara dengan dia. Aku tidak mau berbohong lagi.
Aku juga meninggalkan pesan singkat di atas secarik kertas untuk Mama dan Papa. Selain itu, aku mengiirim pesan singkat lewat aplikasi whats app kepada Aira yang isinya bahwa aku tak bisa jalani pernikahan ini.
Dengan berat hati aku meninggalkan rumah dengan meloncat jendela kamar setelah taksi online sampai di depan gang rumahku. Stasiun kereta api menjadi tujuan utamaku. Aku akan pergi jauh, maafkan aku Aira. Selamat tinggal. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal. Aku tidak pantas untukmu. Kamu berhak mendapatkan suami yang jauh baik daripada aku.
Kereta api jurusan Surabaya pun bergerak meninggalkan kota kelahiranku, Yogyakarta. Aku ingin memenangkan pikiran. Aku memang pengecut.Aku pecundang. Selamat tinggal Aira! Semoga kamu bahagia tanpa aku.
Seminggu berlalu sejak hari pernikahanku yang gagal. Aku mengganti nomor telepon, sehingga tidak ada seorangpun bisa menghubungiku. Aku juga tidak tahu bagaimana nasib Aira setelah aku meninggalkannya di hari pernikahan kami. Kini aku tinggal di Surabaya, di rumah kakekku yang berada di daerah Wonokromo.
Alhamdulillah hari ini aku dapat pekerjaan di sebuah perusahaan asuransi. Memang kedudukanku tak setinggi saat aku bekerja di perusahaan asuransi di Yogya, tapi setidaknya aku bisa memulai lagi dari bawah.
Pagi itu ketika hendak masuk kantor untuk pertama kalinya, aku sarapan soto ayam khas Lamongan yang ada di dekat bandara Juanda. Soto ayam di situ memang terkenal enak. Ketika sedang asyik menyantap soto, tiba-tiba aku melihat Dion datang ke arahku dengan sorot mata tajam.
Aku panik. Sial ... kenapa aku selalu bertemu musuh bebuyutanku sejak SMA ini. Dion seperti hantu yang bisa tiba-tiba muncul maupun menghilang. Aku tahu dia sekarang tinggal di Surabaya, tetapi aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya di sini. Bukankah Surabaya itu luas?
Dion pasti sudah tau kalau aku meninggalkan Aira di hari pernikahan kami, tapi untuk menjelaskan alasanku kepadanya sangat tidak mungkin. Aku pasti akan babak belur kena hajar dia, padahal hari ini adalah hari pertamaku masuk kerja.
Aku tidak ingin terlibat perkelahian dengan Dion. Percuma juga meladeni dia. Toh Aira sudah menjadi masa lalu yang harus aku lupakan. Meski sebenarnya aku belum bisa sepenuhnya melupakan gadis itu. Akhirnya aku memilih lari saja menghindari Dion. Biar dia anggap aku pengecut karena kenyataanya memang begitu. Aku juga pecundang,
"Wawan ... tunggu! Jangan lari, Pengecut!" Dion terus berteriak memanggil ku. Aku tetap lari sebisaku menghindari Dion.