Pujian

1287 Kata

Di meja makan yang akhirnya terisi lengkap oleh seluruh penghuni rumah besar itu, Diana justru merasa semakin tak nyaman. Terlebih saat ibu Rama sejak tadi selalu memalingkan pandangannya dari perempuan itu, bahkan ketika ia bahkan tak sengaja bertabrakan mata. Sejak tadi ia hanya mengaduk-aduk nasi yang ada di hadapannya. Rama memberitahu bahwa sarapan kali ini adalah masakan ibunya. Meskipun di tentunya mendapatkan bantuan kecil dari ART-nya namun, mengetahui fakta itu justru membuatnya semakin tak berselera makan. “Mas,” panggilannya berbisik pada Rama sambil menarik lengan bajunya. “Kenapa Di?” sahut Rama ikut berbisik, ia bahkan menunduk sedikit ke samping, pada perempuan itu. “Habis sarapan kita pulang ya,” cetusnya. “Habis ini banget?” Rama terkejut. Ia sampai tak sadar bahwa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN