"Tu... wa... ga... pat...” Diana tengah sibuk melakukan peregangan di halaman rumahnya sebelum memulai aktivitas jogingnya.
Minggu pagi yang cerah. Diana memang sudah merencanakan akan melakukan joging hari ini. Sudah lama ia tidak berolah raga dalam beberapa minggu terakhir. Tak ada salahnya untuk berjoging hari ini pikirannya.
Dengan hanya menggunakan t-shirt oversize-nya yang berwarna putih dan celana training ia mulai berlari-lari kecil keluar melewati pagar rumahnya sambil membawa handuk kecil di tangannya.
“Joging mbak?” sapa Rama yang tiba-tiba membuat Diana terpaksa menghentikan langkahnya.
Ia hampir lupa bahwa rumah kosong yang berdiri tepat di depan rumahnya kini sudah berpenghuni. Bahkan mereka sudah sempat menghabiskan waktu untuk makan siang bersama kemarin. Jika saja Rama tak menyapanya barusan, ia mungkin tidak ingat akan hal itu.
“Iya mas, mumpung minggu,” jawab Diana lalu berlari kecil menghampiri Rama yang tengah duduk di halaman rumahnya sedang berkutat pada karung tanah dan beberapa tanaman hias di sana.
“Emang kalau minggu kafenya tutup mbak?” lelaki itu bertanya sambil melepaskan sarung tangan lateks yang ia gunakan untuk berkebun dari tangannya.
“Enggak sih, emang lagi pingin aja. Kebetulan kalau minggu kafe bukanya siang,” terang Diana sambil masih berlari kecil di tempat.
Rama manggut-manggut saja mendengar penjelasan Diana. Ia tak sadar perempuan itu sudah memasuki halaman rumahnya karena penasaran melihat beberapa tanaman hias yang belum tertata rapih di sana.
“Kemarin kayaknya saya enggak lihat ada tanaman hias sebanyak ini mas. Baru datang ya?”
“Iya mbak, ini baru datang kemarin dari rumah lama.”
Perlahan matanya menyisir seisi halaman milik tetangga barunya itu, memperhatikan satu persatu tanaman hias yang ada di sana. “Kok bisa telaten sih mas, ini tanamannya bagus-bagus loh masih seger-seger. Kalau saya yang punya pasti udah pada mati kali.”
“Awalnya juga saya enggak terlalu tertarik mbak, tapi karena mantan saya dulu penyuka tanaman hias jadi saya ketularan deh.”
“Mantan pacar?”
“Mantan istri mbak.”
Sontak Diana menghentikan lari-lari kecilnya karena terkejut mendengar fakta bahwa Rama adalah seorang duda. “Maaf loh mas saya enggak bermaksud bikin Mas Rama jadi keinget masa lalu.”
“Tenang aja mbak, saya udah lama kok pisah sama mantan. Jadi udah move on lah.” Rama berdiri dari bangku kecil yang ia pakai untuk berkebun lalu menghampiri Diana yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapan rak yang penuh dengan aneka bunga. Perempuan itu tampak tertarik dengan hobi yang ditekuni oleh tetangga barunya.
“Tapi kalaupun pasangan saya suka tanaman hias, saya enggak bakal tuh tiba-tiba jadi ikutan suka taneman juga mas.”
Lelaki itu tertawa kecil mendengar pernyataan Dian sambil menggelengkan kepalanya. Seolah ia ingin berkata bahwa Diana tak tahu cerita yang sebenarnya.
“Panjang mbak ceritanya, dulu mantan saya itu lebih heboh dari saya kalau urusan tanaman. Rumah yang lama bisa kaya toko tanaman hias. Tapi karena dia jarang di rumah, jadinya semua tanaman pada hampir mati. Dari pada sayang kan, mending saya yang ngelanjutin aja. Eh keterusan deh sampe sekarang jadi suka sama tanaman hias,” terangnya.
“Jarang di rumah karena sibuk kerja juga mas?” tanya Diana lagi karena merasa penasaran.
“Sama laki-laki lain mbak, dibawa bule prancis.”
Jawaban Rama kali ini membuat suasana berubah menjadi hening dan canggung. Mendadak Diana tak tahu harus berkomentar apa. Ia tak menyangka rasa penasarannya justru membawanya pada situasi yang tak nyaman.
“Yang warna kuning itu mawar mas?” Diana berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka yang terlanjur canggung itu.
“Yang ini?” tanya Rama sambil menunjuk sebuah bunga yang berada di ujung rak.
“Iya mas, mawar kan?”
“Iya ini mawar kuning.”
“Ternyata mawar kalau warnanya kuning tu cantik juga ya,” ujar Diana.
“Suka warna kuning mbak?”
“Iya mas, kebetulan aja suka warna kuning.”
“Mbak Diana mau? Ini saya kasih kalau mau,” ucap Rama yang tiba-tiba mengambil mawar kuning itu beserta potnya.
“Eh enggak usah mas, saya enggak telaten kalau sama taneman gini. Lihat aja rumah saya cuma ada pohon palem sama enggak tahu deh itu tanaman apa, dikasih ibu saya waktu itu. Padahal enggak pernah saya siram tapi anehnya enggak pernah mati,” ujar Diana.
“Jadi mbak Diana sukanya dikasih apa? Kucing enggak mau, tanaman hias juga enggak mau,” seru Rama lalu meletakkan kembali pot itu pada tempatnya.
“Apa aja lah mas, asal jangan benda yang harus dirawat begitu.” Diana menggaruk-garuk keningnya sambil berusaha memikirkan benda apa yang sebenarnya ia suka. Sebab tak ada benda spesifik yang benar-benar ia sukai.
“Boneka?” tebak Rama.
“Ih jangan yang menye menye begitu, kaya ABG aja mas,” seru Diana.
“Kalau saya yang ngasih hadiah tapi diterima kan mbak?”
“Terima enggak ya?” Goda Diana.
“Kalau pacarnya biasanya ngasih hadiah apa dong mbak?”
“Saya enggak punya pacar mas.”
“Beneran enggak ada pacar mbak?” tanya Rama mencoba mempertegas apa yang barusan ia dengar.
“Enggak,” tegas Diana.
“Berarti saya aman dong kalau mau ngasih hadiah ke Mbak Dian?”
Mendadak Diana jadi terdiam kembali. Lagi-lagi ia bingung harus menjawab apa. Lagi pula untuk apa tetangganya itu berniat memberikannya hadiah? Mereka tak sedekat itu untuk saling memberikan hadiah.
Sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah Bu Rike. Rama dan Diana serempak menengok keluar untuk memastikan siapa yang datang. Namun mereka tak begitu yakin siapa lelaki yang baru saja memasuki rumah Bu Rike.
“Temennya Bu Rike kali,” celetuk Diana.
“Mungkin, saya juga kan baru di sini jadi enggak kenal mbak.”
“Saya juga enggak kenal sih mas,” ucap Diana sambil mengelap keringatnya yang mengalir di pelipisnya menggunakan handuk kecil yang dibawanya.
Rama yang menyadari bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya sedang kepanasan buru-buru mengajaknya berteduh di dalam. “Eh mbak masuk yuk, dari pada ngobrol di luar. Mata hari juga udah mulai naik itu. Jogingnya lain kali aja.”
“Duh, jadi kelupaan gara-gara keasikan ngobrol,” keluh Diana sambil mengikuti Rama yang mempersilakannya duduk di teras.
“Mbak mau minum apa?” tanya Rama sebelum memasuki Rumahnya.
“Apa aja mas.”
“Oke tunggu sebentar saya masuk dulu.”
“Oya mas,” ucap Diana, membuat Rama segera menghentikan langkahnya.
“Kenapa mbak?”
“Boleh minta tolong enggak?”
“Minta tolong apa?”
“Boleh enggak manggilnya Diana aja? Kayaknya aku lebih muda deh dari kamu mas.”
“Oke Diana,” ucap Rama sambil tersenyum, membuat lesung pipinya nampak semakin dalam. Senyuman itu tak pernah gagal membuat Diana salah tingkah.
Rama pun memasuki rumahnya, meninggalkan Diana yang sedang salah tingkah di teras. Tak lama ia kembali membawa secangkir teh dengan toples yang penuh dengan camilan.
“Nih minumnya mbak,” ujar Rama sambil meletakkan cangkir teh tepat di hadapan Diana.
“Wow english breakfast tea. Kamu pecinta teh juga mas?” Seru Diana yang kagum pada tetangganya yang memiliki teh yang tak biasa dihidangkan oleh orang pada umumnya.
“Oh enggak, saya perhatiin kamu kayaknya lebih suka teh ketimbang kopi jadi saya hidangin teh aja,” tebak Rama.
“Sok tau deh masnya,” ujar Diana setelah menyesap teh hangat buatan tetangganya itu.
“Loh salah ya tebakan saya? Habis pas di kafe kamu enggak minum kopi dan malah minum teh. Terus pas makan bakso juga kamu mesen teh sih. Jadi saya nyimpulin kalau kamu lebih suka teh.”
“Iya sih aku emang lebih suka teh mas. Kebetulan udah lama enggak minum teh jenis ini. Stoknya udah abis dan enggak kepikiran buat beli lagi.”
Sebenarnya Diana sedikit heran pada lelaki yang duduk di hadapannya itu, ternyata selama ini ia memperhatikan dirinya. Bahkan ia tahu bahwa Dina lebih menyukai teh ketimbang kopi.
“Saya ada loh mbak beberapa stok teh yang enggak terlalu familiar di lidah saya kayak yang ini. Mungkin Mbak Diana mau? Nanti saya kasih. Itu oleh-oleh dari Manda kemarin habis dari UK.”
“Diana aja deh ya. Kan udah dibilang tadi,” protes Diana yang tak ingin dipanggil mbak.
“Oh iya maaf saya lupa.” Ekspresi Rama berubah menjadi merasa bersalah karena masih memanggil Diana dengan sebutan mbak.
“Terus enggak usah terlalu formal lah kan udah jadi tetangga mas,” imbuh Diana.
“Oke deh, aku enggak akan manggil mbak lagi. Diana? Gitu kan?”
“Nah gitu dong! Kan jadi lebih akrab,” seru Diana bersemangat.
“Berarti kamu manggil aku Rama dong?”
“Mas aja lah kan lebih tua kamu,”
“Ya udah terserah kamu aja Di.”
“Di? Nangung amat sih. Diana dong, yang lengkap gitu,” protes Diana lagi.
“Anggap aja Di itu panggilan kesayangan aku ke kamu. Di for Didi.”
“Kesayangan?” tanya Diana nyaris tanpa ekspresi. Ia tak tahu harus merasa bingung atau senang? Bingung karena lelaki yang baru ia kenal beberapa hari sudah memanggilnya dengan nama kesayangan atau senang karena tetangganya yang memiliki senyuman manis itu berniat memanggilnya dengan nama kesayangan?
“Kenapa Di? Enggak boleh ya?” tanya Rama kecewa.
“Em... Bo... Boleh, terserah kamu aja mas,” jawab Diana terbata-bata.
“Tapi kalau enggak nyaman, aku panggil Diana aja deh,” ucap Rama, mengurungkan niatnya.
“Eh enggap apa-apa kok, bebas manggil aku apa aja. Didi juga boleh.”
“Nah gitu dong, Didi,” ucap Rama sambil tersenyum .
Diana buru-buru menyesap kembali teh hangatnya untuk menutupi rasa groginya karena tetangganya itu lagi-lagi membuatnya salah tingkah.
“Eh dimakan loh ini cemilan dikasih sama Manda, kemaren dia yang bawain dari...”
“Oleh-oleh lagi?” potong Diana. “Kali ini dari mana si Manda?”
Kali ini Diana hampir yakin bahwa Rama dan Manda memang memiliki hubungan khusus. Buktinya banyak makanan di rumah Rama yang ternyata adalah oleh-oleh darinya.
“Dari mana ya? Kayaknya pas itu dia bilang dari Jogja deh.” Rama mencoba mengingat kembali apa yang diucapkan bosnya itu.
“Oh pothil. Ini mah bukan dari Jogja, dari magelang tau,” ibuku sering bawain sih kalau lagi main ke sini,” terang Diana kemudian melahap cemilang berbentuk seperti cincin lebar dengan rasa gurih ketumbar. Makanan itu memang salah satu favorit Diana.
“Emang Magelang sama Jogja dekatan?”
“Iya deket.”
“Kamu asli Jogja?”
“Heem,” jawab Diana singkat. Ia sibuk mengunyah pothil yang disajikan rama. Tak sadar camilan itu sudah mulai berkurang.
Meski Rama mengetahuinya ia membiarkan saja Diana terus memakannya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa lucu melihat Diana yang tak merasa jaim melahap cemilan yang disajikannya tanpa peduli dengan sekeliling. Bahkan ia tak sadar ada ulat yang menempel di kepalanya.
“Sorry Diana, ada ulat di situ,” ujar Rama.
“Di mana?”
“Di rambut kamu.” Rama menunjuk ulat yang ada di kepala Diana.
“Tolong ambilin dong mas,” pinta Diana santai sambil terus mengunyah.
“Maaf ya.” Rama berdiri lalu mencondongkan badannya pada Diana hingga hanya berjarak beberapa senti saja. Saking dekatnya Diana bahkan dapat mencium aroma deodoran yang dipakai oleh Rama. Wangi yang segar dan tidak menyengat membuatnya tercekat terdiam tak ingin beranjak dari duduknya. Ia sampai berhenti mengunyah untuk menghirup aroma itu. Haruskah ia menahan nafas atau tidak, pikirnya.
“Sudah aku buang,” ujar Rama setelah menyentil ulat itu dari kepala Diana hingga terpental jauh. “Kamu enggak takut sama ulat ya?”
Diana yang masih terpaku tak menjawab apa-apa.
“Halo? Diana?”
“Eh apa? Gimana?” Diana akhirnya tersadar dari lamunannya. Aroma deodoran milik Rama sungguh telah membuat Diana menjadi hilang akal untuk sesaat.
“Kamu enggak takut sama ulat?” ulang Rama.
“Enggak kok,” jawab Diana singkat. Ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang melayang entah ke mana.
“Pantes kok enggak jerit-jerit pas aku bilang ada ulat di rambutmu.”
“Yang penting bukan ulat bulu aja. Soalnya ulat bulu kan gatel,” ucap Diana, akhirnya kewarasannya kembali semua.
“Oh enggak kok, tadi cuma ulat kecil aja.”
Diana segera menutup toples cemilan yang ia peluk sedari tadi dan meletakkannya kembali ke atas meja. Tiba-tiba ia ingin segera pergi dari tempat itu. “Mas enggak dilanjutkan berkebunnya? Kalau aku ganggu aku pamit aja mas.”
“Enggak kok, lagian bisa dilanjutkan nanti.”
Namun Diana yang memang sudah ingin beranjak tak mendengarkan ucapan Rama. Ia buru-buru ingin kembali ke rumahnya. Berlama-lama di dekat Rama bukan hal yang baik menurutnya. Tak biasanya ia bersikap seperti ini pada seorang lelaki. Apa lagi lelaki ini baru ia kenal beberapa hari yang lalu.
“Mbak kalau doyan sama itu, bawa pulang aja aku masih ada satu bungkus di dalam.”
“Beneran?” tanya Diana sebelum benar-benar beranjak dari tempatnya.
“Iya mbak.”
“Makasih mas, kalo ini saya enggak nolak,” ucap Diana terkekeh senang akhirnya ia bisa menikmati cemilan kesukaannya lagi setelah sekian lama.
“Tolong!” sebuah suara teriakan membuat Rama dan Diana saling bertatapan mencoba mengingat milik siapa suara familier itu.
“Suara Bu Rike!” Ucap mereka bersamaan.
Mereka pun berhamburan keluar menuju asal suara jeritan Bu Rike.