Kesalahpahaman

1664 Kata
Pagi yang mendung. Mobil Diana sudah siap ke luar dari rumahnya. Sebelum berangkat ia sempatkan untuk melihat rumah tetangga depan dari dalam mobilnya. Sudah 3 hari batang hidungnya tak tampak, alias sebenarnya mereka belum bertemu lagi semenjak pertemuan terakhir mereka di kafe. Lampu rumahnya pun masih menyala padahal hari sudah siang. Ke manakah penghuni rumah itu? Diana mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu mencari nama Rama di daftar kontaknya. Ia berniat menghubungi tetangganya itu. Belum sempat ia menekan tombol panggilan ia segera mengurungkan niatnya. “Buat apa cari dia?” Segera ia masukkan lagi ponselnya dan melanjutkan perjalanannya menuju kafe. Pagi ini cuaca sedang tak baik. Hujan tak kunjung turun namun mendung terus menyapa sejak subuh. Bahkan alam pun menunjukkan rasa gundahnya. Kemacetan rutin yang ia alami setiap pagi kali ini tak begitu mengganggunya. Yang ia pikirkan hannyalah ke mana Rama selama ini? Sebelumnya ia sempat agresif menghubungi ya melalui chat bahkan lelaki itu berani meneleponnya. Semenjak Diana menegaskan bahwa ia tak suka dipaksa olehnya tempo hari, Rama tak pernah menghubunginya sama sekali. Mungkinkah ia marah dan pergi. Namun terlalu ekstrem jika memang benar itu yang terjadi, pikir Diana. Lalu ke mana dia? Diana melampiaskan rasa tak enaknya dengan menggigiti kukunya. Meski ibunya selalu melarang itu sejak kecil, namun kebiasaan itu cukup membuatnya merasa sedikit tenang ketimbang dia harus uring-uringan. Kafe sudah buka seperti biasa. Dia ngeloyor masuk begitu saja tanpa menyapa karyawannya. Suasana hatinya sedang tak enak sehingga ia memutuskan untuk berdiam diri di dalam ruangannya saja, bukan di meja favoritnya. “Sepertinya aku kurang tidur,” ujarnya pada diri sendiri padahal semalam pulang tepat waktu dan tidur sebelum pukul 10 malam. Membohongi diri sendiri memang jalan terbaik untuk menutupi rasa gundah di hati. Ada sebuah sofa panjang di ruangannya yang memang ia sediakan untuk istirahat. Lalu ia merebahkan dirinya di sana sambil berusaha terpejam. Masih pagi memang untuk tidur siang, tapi apa salahnya. “Permisi Kak Dian.” Suara Maya membangunkannya yang sebenarnya belum terlelap. “Masuk May.” Karyawannya itu melangkah memasuki ruangan sambil membawa nampan yang belum sempat ia simpan. “Ada Kak Manda di luar.” Diana membuka matanya sedikit dengan lengan masih terlipat di d**a. “Manda nyari gue?” “Iya kak, dia datang sama cowok.” Mendengar penjelasan Maya barusan Diana buru-buru bangkit dari tidurnya. “Sama Rama?” “Bukan kak, kurang tau deh siapa.” “Ya udah gue bentar lagi keluar deh. Makasih ya.” “Iya kak, aku balik lagi ya ke depan.” “Iya sana May.” Kemudian Diana bangkit untuk membuka pintu sedikit, melihat dari dalam siapa lelaki yang dibawa oleh Manda. Sayangnya hanya terlihat punggungnya saja dari tempatnya berdiri. Sepertinya ia memang harus menghampiri Manda untuk mendapatkan jawabannya. Kemudian ia pergi menuju Manda yang sedang duduk di mejanya, ia tersenyum dari jauh dan melambai saat melihat Diana datang menghampirinya. “Aduh!” Diana terkesiap saat seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun sedang membawa es krim menabraknya. “Ya ampun Diana! Maafin anak aku ya.” Manda tiba-tiba bangkit dari duduk dan menghampiri mereka. Keterkejutan itu semakin menjadi tatkala mengetahui bahwa Manda ternyata sudah memiliki anak. Perlahan-lahan ia membantu anak laki-laki itu untuk berdiri karena ia jatuh terduduk. Lelaki yang disebut datang bersamanya juga ikut menghampiri. “Enggak apa-apa kok Manda. Es krimnya biar diganti sama karyawan aku aja,” ucap Diana, berusaha mengembalikan pikirannya yang masih terkejut. “Thankyou Diana. Duh blazer kamu jadi kotor deh. Minta maaf dulu sama tante.” “Maaf tante,” ucap anak itu. Wajah tampan perpaduan bule dan Indonesia. Tak perlu heran jika Manda memiliki anak yang good looking seperti dirinya. “Enggak apa-apa sayang. Nanti es nya biar diganti ya sama kakaknya,” ujar Diana sambil memegang pipi anak itu Segera ia memberi isyarat pada Ane agar segera membersihkan sisa es krim yang terjatuh di lantai. “Tolong kasih es krim yang baru ya Ne. Kalau bisa pake mangkok aja.” “Baik kak,” ujar Ane sambil mengepel lantai kotor di hadapan Diana. “Kenalin Diana, ini David suami aku,” ucap Manda, memperkenalkan lelaki yang dari tadi berdiri di sampingnya. Pantas saja anaknya berwajah campuran bule dan Indonesia. Ternyata ayahnya memang bule. Beruntung ia mendapatkan Manda yang cantik. “Hai, Diana,” siapanya sambil mengulurkan tangan. “Aku David. Maafkan kelakuan anak kami Diana.” “Oh enggak apa-apa David, silakan duduk yuk.” Diana mempersilakan para tamunya untuk duduk. “Hari ini anak aku ngerengek minta ikut, terpaksa aku bawa dia ke sini sama suami aku untuk nemenin. Baby sitter kami kebetulan lagi pulang kampung jadi ya gini deh, agak ribet ya,” terang Manda sambil membersihkan pakaian anaknya yang juga kotor terkena es krim menggunakan tissue. Benar. Merawat anak memang tidak menyenangkan bagi Diana. Beberapa temannya yang sudah menikah dan memiliki anak tampak kewalahan dan tak sedikit dari mereka yang mengalami baby blues ketika awal kelahiran bayi mereka. Salah satu faktor yang membuatnya berpikir ratusan kali untuk menikah adalah karena ia merasa tidak dikaruniai pemberian oleh Tuhan untuk merawat anak. Ia bukanlah tipe perempuan yang sabar dengan hal-hal seperti itu. “Siapa namanya sayang?” tanya Diana, mencoba ramah pada anak Manda. Biasanya anak-anak tidak begitu menyukainya. Entah karena tak ada aura keibuan yang terpancar dari dirinya atau apa. “Mario.” Betapa manisnya anak Manda saat menjawab namanya. Bukan tipe anak kecil yang menyebalkan pikirnya. Beruntungnya Manda memiliki anak yang manis seperti ini. “Salam kenal Mario,” ujar Diana, mengulurkan tangannya. Mario pun menjabat tangannya dengan lembut lalu tersenyum. Senyuman dengan lesung di pipinya. Bahkan lesung pipi di wajah manis seorang anak kecil pun membuatnya semakin manis. Ia jadi teringat dengan lelaki yang juga memiliki lesung di pipinya. “Ngomong-ngomong Rama ke mana Manda? Udah beberapa hari ini enggak kelihatan?” tanya Diana mencoba menggali informasi dari bos Rama. “Kamu kenal dengan Rama Diana?” tanya David seakan terkejut mendengar nama Rama disebut olehnya. “Kan ternyata Rama itu tetangga dia honey,” terang Manda. “Kebetulan yang mengejutkan sekali,” ucap David. “Aku juga awalnya terkejut tapi ya beginilah adanya. Dunia emang sempit,” ujar Manda tertawa kecil yang diikuti suaminya. Diana mencoba untuk ikut tertawa meski tak ingin, justru wajahnya terlihat seperti kuda yang sedang meringis. Ia benar-benar buruk dalam hal berpura-pura. Untung saja kedua pasangan ini tak begitu memperhatikannya. “Rama tuh ada kerjaan di Kalimantan. Aku enggak bisa nemenin jadi dia pergi sendiri.” “Oh gitu.” Entah mengapa Diana merasa lega mendengar penjelasan dari Manda barusan. “Mama aku mau pulang” rengek Mario pada Manda. “Mau pulang? Ok sayang kita pulang.” “Tapi es krimnya belum datang Mario,” ucap Diana berusaha menahan anak itu untuk tak pulang dulu. “Mau pulang.” Menurut Diana anak kecil yang merengek lebih menyeramkan jika tidak dituruti permintaannya. Alias bisa-bisa ia akan mengamuk. Sebaiknya memang benar Manda pulang saja. “Es krimnya next time aja Diana. Kayaknya mood Mario lagi enggak baik,” timpal David. “Iya Diana. Kami permisi dulu,” ujar Manda lalu bangkit hendak beranjak pergi. “Oh silakan silakan.” Diana mempersilakan kadua pasangan itu yang kemudian meninggalkannya di meja sendirian. Hal-hal yang selama ini ia pikirkan tentang Rama dan Manda tidaklah benar. Tiba-tiba ia merasa bahwa sikapnya yang ketus pada Rama waktu itu sedikit kelewatan. Lagi pula untuk apa dia bersikap keras terhadap Rama? Toh ternyata Manda tidak memiliki hubungan spesial dengannya. Ia segera kembali ke ruangannya kemudian mengambil ponselnya di dalam tas. Hanya ada satu nomor yang ingin ia tuju kali ini. Rama. Rasa penasarannya dan rasa gengsinya kali ini bertengkar hebat di kepalanya. Ia bimbang antara harus menelepon atau sebaiknya mengirimkan chat saja pada Rama. Namun tak butuh waktu lama baginya untuk merasa bingung. Dalam mengambil keputusan Diana adalah ahlinya. Tentu saja ia memutuskan meneleponnya. “Halo Di?” Sebuah suara yang selama ini ia cari akhirnya terdengar menyapanya dari seberang telepon. “Halo mas,” jawabnya tanpa dilanjutkan apa-apa. “Kamu apa kabar?” Tanya lelaki itu terdengar penuh perhatian. “Baik mas, lagi di Kalimantan ya?” ucap Diana akhirnya mencoba memulai percakapan. “Iya. Ada urusan kantor nih. Kenapa Di? Mantan suami Bu Rike datang lagi ya?” pertanyaan yang keluar dari Rama sangat tak disangka-sangka. “Kok mantan suami Bu Rike?” Ia tertawa mendengar jawaban Diana yang terdengar bingung itu. “Habis kamu kenapa dong nelepon aku? Dari kemarin kan telepon aku selalu di-reject sama kamu.” Apa yang diucapkan olehnya terdengar masuk akal. Lagi pula mengapa Diana buru-buru meneleponnya setelah mendengar penjelasan dari Manda bahwa Rama sedang di Kalimantan. “Enggak, cuma penasaran aja kok lampu rumahnya nyala terus udah 3 harian,” ucap Diana, berusaha mencari alasan. “Oh gitu, iya aku emang lagi di luar kota,” jawab lelaki itu singkat. Lalu terjadi keheningan yang cukup membingungkan keduanya. Tak ada yang berbicara setelah itu. Mereka sama-sama menunggu lawannya untuk berbicara. “Kamu udah enggak marah?” tanya Rama akhirnya. “Siapa juga yang marah?” elak Diana. “Kalau gitu besok aku mau ketemu sama kamu. Kita makan malam di luar,” pinta Rama, terdengar memaksa namun sulit untuk dilewatkan. “Besok mas?” “Iya, pagi aku udah landing di Jakarta. Malamnya kita dinner. Ajakan aku masih berlaku kan?” Diana diam sesaat. Bukan untuk berfikir. Hanya ingin diam saja. Kemudian tanpa pikir panjang iya mengiyakan ajakan lelaki itu. “Iya Mas.” “Kalau gitu aku tutup teleponnya ya Didi, masih ada urusan di sini.” “Iya mas.” “Assalamualakum.” “Waalaikumsalam.” Siapa yang menyangka Rama akan mengajaknya makan lagi, namun kali ini bukan makan biasa. Ini adalah ajakan untuk dinner. Sesaat Diana tak dapat menutupi rasa senangnya. Ia tersenyum lebar cukup lama. Namun ia segera tersadar bahwa ia dan Rama tak memiliki hubungan apa pun sehingga ia merasa tak perlu merasa senang hanya karena tetangganya mengajaknya dinner. Itu hannyalah sebuah bentuk sopan santun karena ia telah menolongnya tempo hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN