3 - Edisi Ada Ada Aja Nih Mama

1396 Kata
"Ma, Yumna kepo kenapa Mama nikahin Yumna sama Kak Juan? Apa karena uang Ma? Mama sama Papa punya utang ke keluarga mereka berapa besar? Apa karena perjanjian bisnis? Ma, Yumna kasih tau ya, kalau nikah karena ada perjanjian tertentu, kalau ada maksud itu gak sah loh nikahnya Ma. Mama mau Yumna menanggung dosa zina?" cerocos Yumna tidak memberikan Mama nya kesempatan untuk menjawab. "Naudzubillah Ma, amit amit" lanjutnya sambil mengetuk ngetuk tangannya ke kepala dan meja. "Ngide dari mana itu kamu heh?" tanya Mama sedikit sewot. "Dari Novel-novel onlen Ma, kan biasanya begitu cerita nya" kata Yumna sambil terkekeh kecil. "Jangan halu kamu wkwk, taaruf ini namanya" jawab Mama. Taaruf katanya wkwk. Yumna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. gak habis thinking sama apa yang diucapkan Mama. "Mana ada taaruf kayak gini. Kalo Taaruf napa Mama bawel terus Yumna buat deket-deket sih" ucap Yumna. "Sutt, Taaruf versi Mama" kata Mama tak ada serius-seriusnya. Yumna menyerah, Mamanya gak mau ngalah sama sekali, gak mau ngasih tau alasan juga. Jadi mari kita biarkan semuanya jadi rahasia, wong seiring dengan waktu Yumna juga bakalan tau. "Na, standby gih. Juan lagi di pom bensin depan bentar lagi sampe ke sini" kata Mama setelah membaca pesan di handphone nya. Yumna tidak membalas, hanya memberikan simbol oke dengan tangannya. Yumna mengecek handphone nya, takutnya Kak Juan kirim pesan pribadi ke nomor WA nya, tapi eh setelah di scroll tidak ada tuh. Perasaan yang akan nikah sama Kak Juan itu Yumna, tapi yang sering tukar pesan itu Mama. Kan aneh :') "Yumna buru, udah di depan" teriak Mama dari bawah. Yumna yang tadinya mau ngambil tas, malah jadi rebahan. Mendengar suara nyaring Mama, tanpa basa-basi dia bangkit dari ranjang, mengambil tas, dan tak lupa semprat semprot dulu parfum. -o0o- Benar saja, Kak Juan ini udah ada di depan, posisinya kali ini membelakangi Yumna. Juan sendiri sadar dengan keberadaan Yumna, diam-diam dia memperhatikan Yumna lewat kaca spion. Juan menawarkan helm untuk dipakai Yumna. Lah iya Yumna lupa gak punya helm, efek pake helm ojek onlen mulu jadi gak ngerasa butuh. Yumna mengambil helm itu, dan memakainya. "Pegangan ya, bebas mau pegang dimana juga" Yumna awalnya menghiraukan kata-kata Juan, lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar tapi akhirnya dia mengikuti perintah Juan untuk pegangan. Gila aja kalau Yumna gak pegangan, udah kepental mungkin dia. Kak Juan terus tancap gas, lupa kali ya dia lagi bonceng Yumna, apa memang sengaja biar mepet mepet? Juan mengernyitkan dahinya, Yumna tidak gerak sama sekali, tapi tangan Yumna masih kuat mencengkram jaket Juan. "Una?" tanya Juan "Pelan-pelan ka" ucap Yumna dengan lirih. Tapi Yumna perlu acungi jempol sih, karena ngebut perjalanan mereka jadi sebentar dan cepat sampai. Cuman jangan di contoh ya temen-temen, jangan ngebut kalau belum ahli dalam kebut-kebutan. Juan terkekeh karena Yumna yang ternyata takut kalau diajak ngebut. "Bilang dong kalau takut" kata Juan. "Bisa turun gak?" tanya Juan pada Yumna yang masih meremas jaket yang dipakai Juan. "Bisa-bisa" kata Yumna sedikit linglung dan langsung turun, namun sedikit oleng. Lagi-lagi Juan terkekeh dengan sikap Yumna, baru kali ini dia ketemu sama perempuan polos. Entahlah Yumna ini pura-pura polos atau memang benar polos, Juan belum mengenal siapa Yumna yang sebenarnya, tapi yang terpenting sikap Yumna ini sangat menggemaskan. Oke, Yumna sudah kembali ke mode normal, ia segera melepaskan helm yang ia pakai dan mengembalikan pada Juan. Dari sudut mata-nya Yumna melihat Juan yang terkikik, Yumna terheran-heran dan bertanya pada dirinya sendiri tentang alasan mengapa Juan tertawa? Apakah ada yang salah darinya? Yumna jadi malu kan. “Yok ke atas, aku anter kamu ke ruang pendaftaran ya” kata Juan dengan percaya diri. Yumna hanya mangut-mangut dan setelah itu mengekor Juan yang sudah melangkah menjauh dari parkiran. Yumna nih sebenernya pengen berjalan beriringan sama kak Juan, tapi malu ah. “Una, mau kemana?” teriak Juan pada Yumna yang terus berjalan lurus, padahal arahnya belok. Yumna yang merasa terpanggil langsung celingukan dan tersadar. ‘eh mana Kak Juan?’ Ternyata tadi Yumna sedikit melamun sampai tidak sadar dia jalan sendiri. Haduhh ini Yumna masih jetlag gak sih? Yumna masuk ke ruang pendaftaran, ternyata tidak sedikit yang daftar ke kampus ini, telat sedikit kayaknya bakalan penuh deh. Yumna segera mengambil antrian dan duduk di kursi kosong. Kak Juan tidak ikut masuk, dia menunggu di luar. Yumna menengok ke arah Juan berada, Juan sedang berbincang dengan beberapa orang, 2 laki-laki dan 1 perempuan cantik. Itu pasti temannya. Yumna tahu bahwa Kak Juan adalah mahasiswa kampus ini, kemarin saat stalker Yumna membaca sedikit, tapi Yumna tidak tahu Kak Juan adalah mahasiswa jurusan mana, yang penting Yumna tau aja dulu dia kuliah dimana. Sambil menunggu gilirannya, Yumna mengecek lagi berkas-berkas yang ia bawa takutnya ada yang tertinggal, tapi gak mungkin sih karena Yumna sudah siapin sampai berulang kali, namun karena gabut nunggu Yumna akhirnya buka-buka lagi. Maafin guys heboh memang nih Yumna. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya giliran Yumna, dengan semangat ia bangkit dari kursi dan segera mendekat ke arah petugas. Yumna menyerahkan berkas yang ia bawa dan langsung di terima oleh petugas, Yumna melihat tangan petugas yang mencocokan dan mencentang-centang persyaratan. Tidak butuh waktu lama, karena seperti yang telah dia jelaskan sebelumnya, Yumna sudah membawa seluruh berkas. Yumna bangkit setelah mengucapkan terima kasih. Akhirnya pikirannya bisa tenang sejenak. Yumna berjalan ke arah luar, Kak Juan masih ngobrol bersama teman-temannya, Yumna berjalan pelan namun berhenti dari kejauhan. Gak sopan kan kalau Yumna tiba-tiba nimbrung, takutnya pada risih, ntar disebut bocil ganggu. Namun kakak cantik itu sepertinya tahu keberadaan Yumna, karena tadi tak sengaja Yumna bertatap dengan Kakak itu, dia langsung menyenggol tangan Kak Juan, dan benar Kak Juan langsung berbalik dan menyadari keberadaan Yumna. “Dah beres Na? tanya Kak Juan pada Yumna. Yumna mengangguk sebagai balasan. “Lanjutin aja kak ngobrolnya, Yumna mau jalan-jalan sendiri dulu” lanjut Yumna. Yumna paham kok mereka lagi asik ngobrol, masa iya Yumna ganggu. Yumna sadar diri kok, Yumna hanya orang asing bagi mereka. Tanpa menunggu jawaban dari Kak Juan, Yumna pun melenggang dan berjalan sendiri. Keputusan ini sebenarnya tidak spontan, Yumna memang ada niatan untuk keliling-keliling, syukur-syukur kan dia kenal sama kampusnya duluan. Udah pede aja nih Yumna bakalan keterima. Hahaha -o0o- Singkat cerita, Yumna telah sampai di rumahnya dengan selamat. Untuk perjalanan pulang, Yumna cukup menikmati, karena Kak Juan mengendarai motor dengan mode normal, sehingga Yumna bisa bernapas dengan normal juga. “Juan Prananda” kata Yumna pelan. Yumna yang tengah berbaring seketika teringat dengan calon suaminya. Ia ingin tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Juan tentang pernikahan ini, bukankah ini terlalu buru-buru? Mengapa dia hanya diam saja, bukannya pernikahan ini akan mengubah masa depannya ya. Yumna bingung. “Kenapa nurut banget sih dia?” lagi-lagi pertanyaan itu keluar dari mulut Yumna. “Apa jangan-jangan dia memang suka sama aku dari dulu?” lanjut Yumna langsung menggelengkan kepala nya. Jangan halu Yum belum cukup umur. Drrt…Drrt Yumna yang sedang menghalu seketika tersadar saat handphonenya berdering. Tertera nama Juan Prananda disana, dengan enggan Yumna menjawab sambungan telfon tersebut. “Assalamu’alaikum, Na” kata Juan dalam sambungan telfon, samar-samar Yumna mendengar perkataan Juan karena suara bising menutupi suara Juan “Wa’alaikumsalam iya kak” “Haduh sebentar aku cari tempat yang agak sepi dulu” kata Juan tapi lebih tepatnya dia berbicara pada dirinya sendiri. “Rin! Rini! aku tinggal sebentar ya” kata Juan lagi pastinya bukan ke Yumna. Siapa itu Rini? Ah mungkin salah satu temannya Kak Juan, mungkin mereka sedang kumpul bersama dengan teman-teman lainnya. pikir Yumna. Yumna hanya bisa menebak-nebak dan berpikiran positif saja. “Na, besok lusa Mama bakalan jemput kamu untuk fitting baju dan persiapan acara. Kamu ada waktu luang kan?” terdengar lagi suara Juan, kali ini sudah tidak terlalu berisik dari sebelumnya. “Iya kak, aku kosong kok gak ada kegiatan apapun” balas Yumna. “Syukur deh. Sorry kalian bertiga aja perginya, aku lagi banyak kerjaan di kampus dan gak bisa ditinggal. Nanti kalau masalah perhiasan atau dress kamu pilih sendiri aja atau Kamu bisa tanya Mama” jelas Juan tanpa Yumna bertanya. “Iya kak” lagi-lagi Yumna hanya bisa mengiyakan. “Oke kalau gitu aku tutup ya, makasih” Tanpa menunggu lama sambungan pun mati sepihak. Yumna bahkan belum berpamitan. “Beda banget sikap Kak Juan waktu pagi sama tadi. Apa gara-gara ada Rini gitu ya?” kata Yumna pada dirinya sendiri “Aaah mikir apa sih kamu Yumna, Kak Juan lagi sibuk aja kali” katanya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN