Bab. 17 Albern si Guru Baru
Chit! Mobil Damian berhenti di parkiran sekolah. Melihat hal itu Chloe langsung membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya. Ia memang sudah ingin segera pergi dari depan Damian. Bahkan, sejak tadi Chloe terdiam. Hanya menjawab sesekali jika Damian mengajukan pertanyaan. Chloe pun segera membuka pintu di samping tempat duduknya. Namun, saat Chloe hendak membukanya, ternyata pintu mobil masih dikunci lewat central lock.
Krek! Krek! Chloe berusaha membuka pintu itu beberapa kali, tapi tetap saja tidak bisa dibuka. Dengan kesal Chloe pun menoleh ke arah Damian yang sedang memandangnya dengan tatapan mengejek.
"Damian! Cepat dibuka pintunya. Nanti aku bisa telat," protes Chloe dengan kesal.
"Oh, ya. Kita masih punya waktu sepuluh menit lagi untuk mendengar suara bel masuk berbunyi," balas Damian sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Ya… tapi, aku ada tugas membersihkan ruang kelas sebelum bel masuk berbunyi," elak Chloe lagi. Damian malah menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum meremehkan.
"Kamu lupa siapa aku? Aku ini leadership di kelas kita. Mana mungkin aku lupa kapan jadwal kamu membersihkan kelas." Damian membalas dengan mudah. Chloe meremas kepalan tangannya sendiri. Ingin rasanya ia memaki Damian dan memintanya agar menjauh, tapi jika Damian mempermasalahkan alasannya. Haruskah ia menjelaskan apa yang sudah dilakukan Sarah padanya kemarin? Jika Damian tau kelakuan Sarah pada Chloe, sama saja dia membuka rahasianya sendiri. Dan entah apa jadinya jika Damian sampai tau perasaan yang selama ini Chloe simpan dalam hati. 'Mungkin Damian akan menertawakan aku dan menganggap aku teman munafik,' batin Chloe bingung. "Jadi, gimana? Kau masih ingin mendiamkan aku seperti ini?" tanya Damian dengan wajah yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
Chloe pun langsung gelagapan. Jantungnya berdetak kencang, sedangkan keringat dingin mengucur di dahinya yang tidak terlalu lebar. Chloe menatap mata Damian yang memandangnya dengan intens. Deg. Deg. Deg. Debaran jantung Chloe semakin membabi buta saat wajah Damian semakin dekat dengan wajah Chloe. Chloe pun menutup matanya rapat-rapat saat jarak antara wajahnya dengan wajah Damian semakin dekat. Hanya saja sampai beberapa menit kemudian….
Klek! Damian membuka pintu mobilnya yang berada di samping Chloe. Mendengar itu Chloe pun langsung membuka matanya lebar-lebar. Untuk beberapa saat Chloe masih terpaku di tempatnya duduk.
"Jika kau masih ingin bersamaku bilang saja. Kenapa harus malu-malu," sindir Damian yang membuat Chloe langsung tersadar.
"Tidak usah berpikir macam-macam. Urusi saja wajahmu yang sebentar lagi penuh jenggot itu," ucap Chloe asal. Segera ia keluar dari dalam mobil Damian sebelum Sarah atau teman-teman Alice melihatnya bersama cowok itu. Damian sendiri malah masih mematung di tempat.
"Aku jenggotan?" gumam Damian mengingat-ingat ucapan Chloe tadi. Lalu ia pun langsung menghadap ke arah spion yang menggantung di depannya. Dengan seksama ia terus memperhatikan bayangan wajahnya yang masih terlihat mulus. "Mana jenggotnya? Perasaan aku selalu membersihkannya setiap hari. Apa ada yang terlewat dari pandanganku?" gumam Damian sambil terus menatap wajahnya sendiri.
Di saat yang sama Chloe tengah berjalan cepat menuju kelasnya dengan perasaan was-was. Sesekali ia melirik ke kiri dan kanan mencari tau apakah ada sosok Sarah atau teman-teman Alice lainnya. Tentunya dia khawatir akan diperlakukan sama seperti apa yang mereka lakukan kemarin, kalau sampai mereka tau Chloe berangkat bersama Damian sekarang. Mendekati pintu ruang kelasnya yang berada beberapa meter di depan matanya tiba-tiba seseorang menarik tangan Chloe. Menariknya ke belakang kelas lalu mendorongnya hingga menabrak dinding.
"Aw," pekik Chloe saat badannya menghantam tembok kelas.
"Selamat pagi, Chloe," sapa Sarah yang melangkah mendekat dengan tangan yang terlipat di depan d**a. Wajahnya yang cantik terlihat begitu menakutkan dengan seringaian khasnya.
"Sarah. Apalagi yang ingin kau lakukan padaku? Apa kejadian kemarin tidak cukup?"
"Hahaha." Sarah tertawa garing. "Harusnya aku yang berkata begitu padamu! Apa peringatan kemarin belum cukup membuatmu jera membuat masalah denganku, hah?!" kata Sarah dengan nada yang semakin meninggi.
"Masalah? Aku tidak pernah ingin mencari masalah dengan siapapun disini. Termasuk juga kamu, Sarah. Percayalah."
"Hahaha. Sarah. Sepertinya dia ingin mengejekmu. Lihat saja! Apa yang dia ucapkan tidak seperti apa yang dia lakukan," sindir Alice memanas-manasi.
"Tidak. Tidak Sarah. Kau salah paham. Daddy tidak bisa mengantarku untuk beberapa hari kedepan. Jadi, dia meminta tolong Damian untuk menggantikannya." Chloe berusaha menjelaskan keadaan yang terjadi padanya. "Aku sudah berusaha menolak, tapi Daddy memaksa," tambah Chloe dengan nada bergetar. Sarah terdiam sejenak. Rasionalnya berusaha mencerna ucapan Chloe.
"Heh. Apa kau akan percaya dengan omongannya, Sarah?" kata Alice mempengaruhi emosi Sarah yang hampir tenang. Sarah tak membalas, tapi ia melirik ke arah Alice sekilas. Melihat ada kesempatan untuk mempengaruhi Sarah lagi, Alice tak mau menyia-nyiakannya. Alice berjalan mendekati Sarah seraya berkata, "Kalau aku jadi kau. Aku tidak akan percaya begitu saja. Ingat! Tujuan dia sekolah di sini karena dia mengejar Damian. Jadi, amat sangat tidak mungkin. Jika dia menolak berdekatan dengan lelaki tampanmu itu. Selain itu, hati manusia siapa yang tau. Benar, bukan?"
"Tidak, Sarah. Sungguh. Aku berkata yang sejujurnya padamu. Aku tidak ada niat untuk mengelabui mu sedikit pun," kata Chloe berusaha terus mengelak.
"Diam!!!" bentak Sarah yang sudah terhasut ucapan Alice. "Simpan saja bualanmu itu untuk berkenalan dengan nyamuk-nyamuk di hutan belakang sekolah lagi. Hahahaha!" tambah Sarah disambut dengan tawa kerasnya Alice dan teman-temannya.
"Jangan! Jangan lakukan itu lagi, Sarah. Aku mohon. Jangan!" rengek Chloe dengan air mata yang bercucuran. Ia benar-benar merasa sangat ketakutan saat ini. Melihat hal itu Sarah malah semakin kalap. Ia raih dagu Chloe dengan satu tangannya.
"Hentikan air matanya buayamu itu! Aku tidak sudi untuk menatap wajahmu yang menjijikkan!" kata Sarah dengan nada tinggi. Bukannya menghentikan tangisannya, Chloe justru menangis dengan sesegukan. Sehingga semakin memancing emosi Sarah. "HENTIKAN WAJAH JELEKMU ITU!!!" teriak Sarah sambil mengangkat tangannya hendak menampar pipi Chloe. Belum sempat permukaan tangan Sarah mendarat di pipi mulus Chloe tiba-tiba seseorang menahan tangan Sarah dari belakangnya.
"Hentikan diskriminasi di sekolah. Atau kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal," kata lelaki yang memakai kemeja dan celana katun khas para Guru. Sarah, Alice dan teman-temannya tak mampu menjawab. Sarah hanya menepis tangan lelaki itu. Kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu pada Chloe yang masih terlihat ketakutan. Chloe tak menjawab, tapi kepalanya menggeleng dengan pelan. "Kalau begitu kita ke kelas sekarang. Sebentar lagi kelas akan dimulai," ajaknya. Lagi-lagi Chloe tidak menjawab, tapi anggukan kepalanya mewakili ucapan bibirnya.
Kemudian lelaki itu berjalan lebih dulu, baru Chloe segera mengikutinya di belakang. Sambil terus berjalan Chloe bertanya-tanya dalam hati. 'Siapa ya laki-laki ini. Rasanya aku baru lihat dia di sekolah ini. Kalau dari penampilannya sudah jelas kalau dia bukan seorang siswa. Apa mungkin dia guru? Tapi guru masih muda dan tampan seperti itu. Bukannya, sekolah ini melarang merekrut guru muda ya. Biar anak-anak fokus belajar.' Saat Chloe terus berpikir dalam hati. Tak disangka laki-laki itu menghentikan langkahnya. Bruk! Mau tidak mau Chloe pun menabrak punggung lelaki itu yang terasa kokoh.
"Maaf, maaf, maaf, Pak. Saya tidak sengaja," kata Chloe takut-takut. Ia yang sedari menundukkan kepalanya. Kini semakin takut untuk mengangkat kepalanya dan membalas tatapan laki-laki itu. Laki-laki itu pun memutar badannya hingga mereka berhadapan.
"Kamu ini masih siswa kan disini?" tanya lelaki itu dengan lembut, tapi cukup membuat bulu kuduk Chloe merinding. Chloe langsung menggerakkan kepalanya ke atas dan bawah dengan cepat.
"Iya. Iya, Mister. Saya hanya seorang siswa," jawab Chloe cepat.
"Lalu kenapa kamu mau ikut saya masuk ke teacher rooms?" tanya lelaki itu yang langsung membuat Chloe gelagapan.
"Oh, iya benar. Saya salah arah. Kalau begitu terima kasih, Mister. Saya permisi dulu." Chloe berucap kemudian ia segera balik badan dan segera berlalu dari hadapan laki-laki itu. Sambil terus berjalan Chloe merutuki kebodohannya barusan.
"Aduh malu-maluin banget sih," gumam Chloe sambil memukul keningnya pelan.
Tanpa Chloe sadari laki-laki itu masih memandangi punggung Chloe yang kian menjauh. Sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia pun membalikkan badannya untuk melanjutkan langkahnya menuju teacher rooms.
Baru saja masuk ke dalam kelasnya. Langkah Chloe langsung dicegat Damian.
"Chloe. Chloe. Darimana saja kau? Kenapa kau baru saja masuk kelas?" cerca Damian cepat. Chloe tidak langsung menjawab, ia malah melirik Alice dan teman-temannya yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Aku baru saja sarapan di kantin," jawab Chloe berbohong.
"Hah? Apa?!" Damian langsung mengerutkan keningnya seketika. Ketika mendengar jawaban Chloe yang sangat janggal di telinganya. "Apa aku nggak salah dengar? Bukannya tadi pagi kamu udah sarapan pakai sandwich buatan Daddy? Kenapa kamu sarapan lagi? Enggak. Enggak. Kamu pasti bohong?" kata Damian. 'Aduh. Damian terlalu banyak tau tentang kehidupan aku. Jadi, tidak semudah itu membohonginya,' batin Chloe bingung. "Jawab, Chloe. Kamu dari mana sebenarnya? Jawab jujur Chloe," desak Damian sambil memegang kedua pundaknya. Chloe melirik ke arah Alice dan teman-temannya lagi. Dan mereka masih memandangnya dengan penuh kebencian.
"Ak… aku…. Aku." Chloe bingung harus menjawab apa. Di saat yang sama datang seorang guru yang diikuti oleh guru lain di belakangnya.
"Ada guru. Kita lanjutkan obrolan kita nanti," kata Damian yang akhirnya membuat Chloe bernafas lega. Damian berjalan menuju bangkunya, tak lama kemudian Chloe pun melakukan hal yang sama. Chloe duduk di bangku pertama dengan kursi yang paling tidak layak di kelas ini. Maklum, karena dibully teman-temannya ia sampai mendapatkan bangku paling jelek di sekolahan ini. Dan yang paling tidak manusiawi lagi para guru yang ada disini tutup mata dan telinga pada kejadian itu. Hanya karena Adam sering menunggak pembayaran biaya sekolah Chloe.
Kembali pada Chloe yang baru saja mengangkat kepalanya setelah sedari tadi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Baru saja menatap sosok di depan kelas. Mendadak mata Chloe membulat. 'Itu kan lelaki tadi,' batinnya.
"Morning, class," ujar Mister Raymond dengan lantang.
"Morning," balas anak-anak serempak.
"Kalian semua pasti sudah mendengar kabar jika Mister Robert sudah pensiun beberapa hari yang lalu. Jadi, sebagai penggantinya saya perkenalkan Guru Biochemistry baru kalian Mister Albern Davidson. Beliau adalah lulusan muda dengan hasil terbaik dari Universitas of Aberdeen," jelas Mister Raymond. Sedangkan Albern hanya tersenyum sambil terus menatap Chloe.