Bab. 23 Penemuan Pertama
"Kenapa bisa seperti itu, Mister?"
"Entahlah. Aku pun belum terlalu mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi," balas Albern tanpa memindahkan pandangannya dari layar komputer itu.
"Apa karena saya sedang berpikir, Mister," ucap Sharon tiba-tiba. Chloe dan Albern pun tersentak.
"Bisa jadi. Coba, kamu berpikir lebih keras lagi. Apa saja yang bisa kamu pikirkan. Misalnya, tentang balas dendam Pho yang bisa membahayakan nyawa Chloe dan keluarganya," pinta Albern.
"Baiklah. Akan kucoba." Sharon memusatkan pikirannya. Membayangkan satu per satu kejadian di Kerajaan Fabelion. Termasuk kata-kata Pho yang tidak sengaja ia dengar. Jika ia ingin membalas dendam dengan manusia dengan menyerang mereka. Pikiran Sharon pun langsung berpindah pada hari-hari bersama Chloe dan Adam sejak ia masih kecil. Sungguh, merekalah keluarga Sharon yang sebenarnya. Mereka sering bermain bersama, makan bersama dan tidur di dalam selimut yang sama saat salju turun menutupi seluruh kota. Sungguh, betapa indahnya saat-saat itu. Namun, tiba-tiba benak Sharon membayangkan dirinya dikendalikan oleh Pho untuk menyakiti Chloe dan Adam. Keduanya terluka parah. Bahkan sampai tergeletak tak bernyawa.
Bluk. Bluk. Bluk. Sebuah kejadian besar terjadi. Mata Chloe dan Albern melotot dengan mulut yang menganga lebar.
Mendadak tubuh Sharon merespon saat emosinya meningkat. Massa ototnya mendadak bertambah dengan pesat. Sehingga membentuk otot-otot tubuh yang sangat kencang. Bak seorang binaragawan.
"Mister. Ini kenapa? Kenapa Sharon jadi seperti ini?" tanya Chloe panik.
"Aku juga tidak tau pasti, Chloe. Tapi, sepertinya emosi Sharon berpengaruh besar pada massa ototnya. Lihat! Otot-ototnya terus bertambah pesat seiring dengan emosinya yang semakin meningkat," jelas Albern.
"Apakah itu berbahaya pada Sharon?"
"Sepertinya tidak. Tapi, dia berbahaya untuk kita. Jika dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Chloe cepat tenangkan Sharon. Badannya yang berubah kekar, terjepit di alat CT-SCAN. Aku tidak bisa mengeluarkannya," kata Albern panik.
"Aduh. Apa yang harus aku lakukan? Aku jadi bingung?"
"Lakukan apa saja! Yang penting Sharon bisa tenang dan kembali bahagia! Cepat, Chloe!!!" teriak Albern sambil terus menatap ke arah layar.
"Ba… baik," timpal Seruni panik lalu ia berlari ke samping kanan Sharon. "Sharon! Sharon! Bangun!" ujar Chloe sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sharon. Sayangnya, Sharon tidak merespon sama sekali. Ia tetap memejamkan matanya dengan rapat-rapat. Sepertinya khayalannya terlewat batas. Sehingga, ia malah tidak bisa mengendalikan emosinya.
Albern terus memperhatikan layar di depannya dengan seksama. Namun, saat sabuk pengaman yang melilit tubuh Sharon putus satu per satu. Ia segera bergegas memegangi kedua tangan Sharon. Agar tidak merusak alat yang sedang dipakainya. Albern paham betul. Dengan tenaga Sharon sekarang. Anjing itu bisa memporak-porandakan laboratorium pribadinya ini.
"Chloe. Cepat! Tenangkan dia! Sebelum menghancurkan tempat ini! perintah Albern semakin panik.
"Ba… baik, Mister!" Chloe pun sebenarnya sangat panik bercampur ketakutan. Namun, ia harus tetap tenang. Mendadak ide brilian melintas. Huft. Chloe pun segera menghembuskan nafas beratnya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sharon. "Twinkle, twinkle, little star How I wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky. Twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are." Chloe menyanyikan lagu yang dulu sering dinyanyikan Adam agar Chloe dan Sharon dapat tertidur pulas. Dan benar saja. Mendengar nyanyian itu emosi Sharon sedikit mereda. Tenaganya tak sekuat tadi. Begitu juga dengan massa ototnya yang kembali mengendur. Sedetik demi sedikit.
"Bagus Chloe. Ayo, nyanyikan lagi!" perintah Albern dengan nada lirih. Tak mau mengusik ketenangan Sharon yang kini mulai terbangun.
"Heeh. Baiklah," balas Chloe. "Twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky. Twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are," ulang Chloe. Sharon pun semakin tenang. Bahkan kerutan di dahinya tak lagi kelihatan. Matanya pun tak lagi terpejam dengan erat. Makanya, Chloe kembali mengulangi nyanyiannya. "Twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky. Twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are." Setelah selesai menyanyikan lagu 'Twinkle Twinkle Little Star' perlahan mata Sharon terbuka. Albern pun segera mengeluarkan Sharon dari alat CT-SCAN itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa sangat lemas?" tanya Sharon bingung.
"Kau kehilangan kendali, Sharon. Hampir saja kau akan menghancurkan tempat ini," jawab Albern jujur.
"Apa benar seperti itu, Chloe?" tanya Sharo pada Chloe yang berdiri di sampingnya. Chloe langsung mengangguk mantap.
"Iya, Sharon. Mendadak badan kamu seperti atlet angkat besi. Penuh dengan otot."
"Benarkah? Sepertinya hal itu terjadi akibat aku dimasukkan ke dalam kapsul itu," gumam membayangkan apa yang sudah terjadi padanya saat itu.
"Kapsul?" kata Chloe dan Albern bersamaan.
"Iya. Benda itu yang merangsang pertumbuhan massa ototku secara tak terkendali."
"Namun, hal itu terjadi saat kau emosi. Sedangkan, saat kau tenang begini. Kau baik-baik saja," ujar Albern memberikan hipotesis awalnya.
"Yah, sepertinya kau benar."
"Kalau begitu kita harus mengajarimu. Bagaimana cara mengendalikan emosi. Karena hanya itu kunci kita bisa lakukan. Lihat! Saat kau emosi otakmu langsung berubah gelap dan pekat. Berbeda dengan saat kau tenang seperti ini. Sepertinya tidak hanya massa ototmu. Tapi, neuron otakmu juga sudah dibentuk agar setara dengan manusia."
"Kenapa bisa begitu, Mister?" tanya Chloe yang sedari tadi hanya diam.
"Ini baru kesimpulan awalku. Tapi, sepertinya Sharon dan anjing-anjing lainnya. Dibentuk agar seimbang dengan otak dan tenaga manusia. Hanya saja kapasitas rongga kepala anjing tidak bisa menampung volume otak manusia yang bisa dibilang berkali-kali lipat lebih besar dari otak anjing. Makanya, neuron mereka lebih kecil dan padat. Sehingga warnanya cenderung menghitam. Hanya saja, aku masih merasa bingung. Kenapa kinerja otak mereka juga dipengaruhi oleh faktor emosi. Bukan ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu lainnya?"
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mister?" tanya Chloe sambil menggendong tubuh Sharon yang masih terlihat lemas.
"Pulanglah dulu. Rawat Sharon dengan baik. Hingga tenaganya kembali pulih. Besok-besok datanglah lagi untuk penyelidikan selanjutnya. Sambil kita akan melatihnya untuk mengembalikan emosi."
"Baik, Mister. Terima kasih untuk hari ini. Aku mohon. Jangan ceritakan ini pada siapapun. Aku tidak ingin Sharon jadi obyek penelitian orang-orang yang tidak bertanggung jawab," pesan Chloe.
"Tentu saja. Lagian apapun yang terjadi hari ini belum bisa dipastikan kebenarannya seratus persen. Kita butuh banyak penelitian lagi. Agar kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh mahluk itu."
"Iya, Mister. Kalau begitu kami permisi dulu. Untuk baju ini. Aku akan segera membersihkannya."
"Jangan khawatir. Aku masih punya banyak di lemari. Tunggu sebentar. Buat aku antar kau sampai depan rumah."
"Tapi, Mister?"
"Hust. Jangan menolak. Bagaimana jika kau bertemu Alice lagi. Lagian kau harus menggendong Sharon. Jadi, jangan tolak tawaranku," desak Albern.
"Baiklah. Kalau kau memaksa."
"Ayo keluar!" ajak Albern kemudian mereka berdua keluar dari rumah itu. Albern segera mengeluarkan mobil dari garasi samping rumahnya. Kemudian berhenti tepat di depan Chloe berdiri.
"Ayo!" ajak Albern seraya membuka pintu mobilnya. Chloe tersenyum lalu masuk ke dalam mobil Albern. Kemudian mobil pun melaju meninggalkan rumahnya.
Tak lama berselang mobil Albern berhenti tepat di depan rumah Chloe. Lelaki itu pun keluar dari dalam maupun mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Chloe turun. Chloe yang masih menggendong Sharon perlahan keluar.
Blak! Albern menutup pintu mobil itu lagi.
"Terima kasih," ujar Chloe tulus.
"Sama-sama. Istirahatlah yang cukup. Sampai jumpa besok," balas Albern sambil melambaikan tangan.
"Sampai jumpa besok," timpal Chloe. Kemudian di tempatnya berdiri seraya menatap kepergian Albern, Chloe mengembangkan senyum manisnya. Setelah mobil si guru baru itu menghilang dari pandangan. Chloe berbalik badan untuk pulang ke rumahnya. Namun, belum sampai di depan pintu seseorang berhasil menahan langkahnya.
"Chloe," panggil Damian sambil memegang tangan sahabat kecilnya itu.
"Damian. Sedang apa kau ada disini?" tanya Chloe bingung.
"Harusnya aku yang tanya. Kemana saja kau seharian ini? Dan apa saja yang kau lakukan dengan guru baru itu?"
"Apakah itu urusanmu?" balas Chloe sengit. Ia pun membalikkan badannya kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Damian yang masih berdiri di tempat tadi.
Blak! Chloe menutup pintu rumahnya dengan cukup keras. Lalu ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu itu. 'Maafkan, aku Damian. Lebih baik kita seperti ini,' batin Chloe sambil memeluk Sharon dengan erat.