Bab. 4 Disandera Bangsa Fab

1298 Kata
"Sharon…. Sharon…. Sharon…," gumam Chloe lirih. Sangat lirih malah. Bibirnya pun hanya terlihat bergetar. Sementara badannya tidak bergerak sama sekali. Namun, suara itu ternyata sampai di telinga Adam. Sehingga lelaki itu segera bangkit dan bergegas mendekati tubuh putri tercinta yang masih terbaring lemah. "Chloe. Kamu sudah sadar?" tanya Adam dengan senyum sumringah. "Sharon…. Sharon…. Sharon." Chloe tak membalas ucapan Daddy-nya. Ia malah kembali menyebutkan nama anjing kesayangannya. Perlahan Chloe membuka matanya. "Dad. Mana Sharon? Dia sudah pulang, kan?" tanya Chloe tak berdaya. "Chloe. Kita bicarakan hal itu nantinya. Setelah kamu sembuh benar." Adam berusaha mengalihkan perhatian sang putri semata wayangnya. "Tapi, Dad Sharon_" "Hust!" Adam menempelkan jarinya di bibir Chloe. "Percaya sama Daddy. Sharon pasti baik-baik saja. Dia itu anjing yang pintar dan kuat. Sehingga, dia pasti bisa pulang dengan selamat," ujar Adam sambil tersenyum. Akhirnya bibir Chloe itu pun menyunggingkan senyumannya. Waktu pun cepat berlalu, hari pun telah berganti. Kini kondisi Chloe sudah lebih baik. Sehingga ia bisa pulang sekarang. Harusnya hari ini menjadi hari bahagia bagi Chloe. Namun, gadis itu justru terlihat sebaliknya. Ia malah tampak murung dan tidak bersemangat. Wajahnya pun cemberut dengan tatapan mata kosong. "Chloe. Kenapa kamu hanya terdiam sejak tadi? Kamu tak senang mau pulang sekarang?" tanya Damian sambil duduk di samping teman gadisnya itu. Chloe pun menghembuskan nafas perlahan. "Dimana Sharon sekarang? Apa kamu sudah mendapatkan kabar tentang dia?" balas Chloe balik bertanya. "Oh…. Sharon ya…. Ehms…. Mengenai dia…. aku masih berusaha," jawab Damian terbata. "Tapi, kamu jangan khawatir. Aku pasti segera menemukannya. Aku punya teman seorang Ketua Tim Penyelamat Hewan. Dan aku sudah meminta dia mengerahkan pasukannya untuk mencari keberadaan Sharon sekarang. Jadi, dia pasti akan segera temukan," jelas Damian sambil terus tersenyum. Mendengar ucapan sahabat sejak kecilnya. Chloe pun langsung menoleh. "Benarkah?" tanya Chloe cepat. "Iya. Tentu saja. Makanya, sekarang kamu tersenyum. Aku tidak ingin kamu pulang dari sini dengan wajah tak bahagia." Setelah dibujuk Damian akhirnya Chloe pun mengangkat kedua ujung bibirnya bersama-sama. Dan inilah awal kali ia tersenyum setelah kepergian Sharon. "Nah, itu kan terlihat lebih baik." "Chloe," panggil Adam yang baru saja sampai di ambang pintu. Ia yang harus berangkat bekerja memang meminta Damian untuk datang ke rumah sakit terlebih dahulu. Chloe dan Damian pun menoleh. "Dad," balas Chloe dengan senyum yang mulai mengembang. Melihat hal itu Adam berlari ke arah Chloe lalu memeluk anak kesayangannya itu. "Chloe. Daddy sangat bahagia kamu terlihat jauh lebih baik." "Dad. Damian bilang. Temannya akan membantu kita mencari Sharon. Ternyata Damian orang yang sangat keren. Dia punya teman seorang Ketua Tim Penyelamat Hewan. Dan teman Damian akan meminta semua anak buahnya untuk mencari Sharon," cerita Chloe dengan senyum penuh harap. Mendengar cerita Chloe, Adam malah melunturkan senyumannya. Kemudian ia pun menoleh ke arah Damian dengan gerakan yang cukup pelan. Adam mengerutkan keningnya yang memang sudah mulai berkerut itu. Namun, Damian sendiri b malah mengangkat kedua pundaknya perlahan sambil menghembuskan nafas panjang. "Dad. Ayo, kita pulang. Aku mau menunggu Sharon di rumah saja," ujar Chloe dengan penuh semangat. "Oh, iya-iya. Mari kita pulang segera." Sementara itu, di Kerajaan Fab. Semua anjing yang baru saja melewati proses penggabungan sel di kumpulan di sebuah lapangan yang sangat luas. Sharon pun terkejut karena ia baru sadar. Jika anjing-anjing yang berhasil mereka culik jauh lebih banyak dari perkiraannya. Awalnya ia berpikir jika kelompok aneh ini hanya menculik anjing-anjing yang berada di ruangan yang sama dengannya. Namun, ternyata itu jauh lebih amat sangat banyak dari itu. 'Apa-apaan ini? Kenapa anjing-anjing yang berhasil mereka kumpulkan sebanyak ini? Mungkinkah mereka mengumpulkan dari seluruh dunia?' tanya Sharon dalam hati. Ia pun menghentikan langkahnya sesaat. Ketika ia baru saja melewati pintu yang terlihat mirip rolling door itu. Matanya menyapu lahan yang sangat luas tanpa terlihat satu batang pohon pun menghiasi tempat itu. Sejauh mata memandang hanya ada tanah yang gersang. Di depan lapangan itu terdapat sebuah gunung yang menjulang tinggi. Tatkala Sharon menstap tempat itu lekat-lekat. Tiba-tiba ada yang menabraknya dari belakang. "Hei! Jangan berhenti di tengah jalan. Kau pikir ini jalan nenek moyangmu, hah?" omel anjing ras French bulldog sambil melewati Sharon yang masih berdiri di tempat dan membiarkan anjing-anjing lain melewati begitu saja. "Ma… maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu," balas Sharon merasa bersalah. Sambil kembali melanjutkan langkahnya. Ekor mata Sharon pun terus mengamati anjing tadi. Hingga akhirnya saat melewati seekor anjing dari Bangsa Fab yang sudah berdiri layaknya manusia. Mendadak ia diserang dengan tongkat komando yang ada di tangannya. Anjing yang tampak berotot besar seperti badan atlet angkat besi itu memukuli anjing-anjing yang melintas di depannya satu per satu. Bruk! Sharon pun mendapat perlakuan yang sama. Dengan sekali hentakan di badannya. Ia langsung tersungkur sambil merintih kesakitan. Si penjaga itu pun menatap Sharon sejenak. Dan saat ia melihat bandul kalung yang melingkar di leher Sharon berbentuk tulang dengan warna golden. Ia pun sedikit tersentak. Dengan wajah yang terlihat ketakutan. Anjing penjaga itu membantu Sharon berdiri. "Kau? Kenapa kau bisa berada jauh dari rombongan?" ujarnya. "Terima kasih," balas Sharon. "Biar ku antar kau hingga sampai di rombonganmu lagi," kata anjing itu. Namun, saat ia hendak melangkah pergi. Tiba-tiba di barisan belakang ada yang membuat kerusuhan. Sehingga membuat langkah anjing tadi berhenti melangkah. "Jangan khawatirkan aku. Aku pasti bisa menemukan kelompokku lagi," sahut Sharon. "Baiklah. Berjalan cepat. Dan pastikan kau sampai di rombongan satu ruangmu." "Baik." Sharon menjawab singkat lalu melanjutkan langkah dengan cepat. Sesekali ia menoleh ke anjing tadi yang masih menatap kepergiannya. 'Kenapa dia begitu mengkhawatirkan keberadaanku? Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini? Dimana ini sebenarnya?' batin Sharon sambil terus menatap ke sekitar. Di saat yang sama tak sengaja ia menabrak seekor anjing lain di depannya. "Maaf. Maaf. Aku tidak sengaja," ujar Sharon sambil memutar otot lehernya agar kembali menatap ke depan. Mendadak Sharon pun terkejut saat mendapati sosok anjing itu masih satu ras dengannya. Sama-sama berjenis Siberian Husky. "Oh, tidak apa-apa. Aku juga salah tidak bisa berjalan dengan cepat. Karena aku sedang mengandung bayi pertama," sahutnya terlihat merasa tidak enak. "Oh. Begitu ya. Hei. Ternyata kita satu keluarga!" ujar Sharon terlihat bahagia. "Oh, benar," balas anjing itu yang ternyata seekor betina. "Tapi, sebaiknya. Kita jangan terlihat dekat. Karena mereka tampak tak suka dengan itu," tambahnya sambil melirik ke arah Anjing penjaga lain yang tengah menatap mereka dengan tajam. Sharon pun menyadari hal itu. Tak mau membuat mereka marah dan melukai anjing betina ini. Apalagi kondisi tubuhnya yang sedang mengandung bayi. "Baiklah. Aku harus cepat sampai ke kelompokku," timpal Sharon kemudian berjalan cepat menerobos ribuan anjing yang lain. Ia ingat betul. Semula ia berada di barisan paling depan. Hanya saja ketika melewati terowongan berujung pintu yang menembus sebuah gunung batu tadi. Banyak hal yang begitu menarik perhatiannya dan membuatnya tertinggal jauh. Setelah berusaha keras untuk mencapai barisan awalnya. Sharon pun berhasil berdiri di antara anjing-anjing satu ruangan dengannya. Tempat itu begitu teduh karena ada gunung batu yang menghalangi pancaran sinar bintang yang begitu membakar kulit. Sedangkan semakin ke belakang, panas bintang itu semakin terasa, terasa dan terasa menyiksa. Sharon pun tak menyadari hal itu. "Hei, Kalian semua! Saya tau kalian semua merasa kelaparan saat ini. Dan sebentar lagi. Tepat di hadapan kalian akan muncul makanan enak yang harus kalian makan. Untuk itu! Nikmatilah hidangan yang ada!" teriak seorang Panglima yang berdiri di atas gunung batu itu. Tepat setelah ucapan itu berhenti. Muncul makanan anjing yang keluar dari tanah depan mereka berdiri. Semua anjing pun merasa girang. Dan seketika mereka menikmati hidangan yang tersaji. Sharon merasa ada yang aneh. Ia memang merasa lapar dan haus sekarang. Namun, ia tak begitu antusias seperti lainnya. Melihat kanan dan kirinya terlihat begitu menikmati makanan di depannya. Sharon pun mulai menundukkan kepalanya untuk memulai makannya. Belum sempat mulutnya menyentuh isi mangkoknya. Tiba-tiba…. Bruk!!! "Aaargh!!!" teriak seekor anjing dari barisan belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN