Vena menggeliat-geliat malas. Cahaya matahari pagi yang menembus sela-sela jendela kamar telah membangunkannya. Menyilaukan dan sedikit terasa hangat. Namun kedua matanya masih terasa berat untuk dibuka. Semalam Vena, sangat sulit tidur bukan karena orang misterius yang dilihat Adam tapi karena telah berciuman dengan Adam Natapraja. Itu adalah sebuah kesalahan besar namun menurutnya sangat sulit untuk dihindari. Vena menyalahkan dirinya, mengapa begitu mudah tersihir pesona Adam. Tak Ada rayuan. Hanya tatapan saja. Dengan mudahnya menyerahkan bibir pada pria yang belum dia ketahui statusnya itu. Ciuman Adam sangat lembut telah menghanyutkan dirinya. Tidak kasar namun pelan dan seakan begitu menikmati. Vena menggambarkan ciuman Adam bagaikan seolah bibirnya seperti permen yang sangat dia su

