Aku mengangkat benda di genggamanku. “Ini.” “Gaiter,” ujarnya. “Nda tau namanya, Kang,” balasku. “Tapi, makenya gimana ya?” Kang Iyal menatapku sejenak, lalu jongkok di depanku tanpa berkomentar apa pun lebih dulu. “Siniin, Nda,” pintanya. Aku menyerahkan gaiter itu. Ia membuka pengaitnya, lalu menunjuk bagian bawah. “Ini masuk ke bawah sepatu. Buat nahan kerikil dan pasir biar nggak nyelip.” Aku mengangguk, pura-pura paham. “Angkat kaki kanannya dulu, Nda,” ujar Kang Iyal lagi. “Hah?” “Kalau mau pakai sesuatu, kanan dulu,” lanjutnya. Anehnya, mungkin karena gugup, aku menurut begitu saja. Kaki kanan kuangkat sedikit. Kang Iyal memasangkan gaiter itu dengan cekatan. Ia pasti sudah sering melakukan ini. Sementara aku justru salah tingkah karena tersadar pada fakta bahwa seorang l

