Aku menghempaskan napas, lalu berjalan ke kamar mandi. Membasuh wajah dan mandi dengan cepat. Air dingin menyentuh kulitku, rasanya menenangkan. Meski... tak sepenuhnya. Ekspresi Kang Iyal tadi. Tatapan kosongnya. Caranya menggenggam tanganku yang terlalu erat. Semua itu masih mengisi penuh kepalaku. Beberapa menit kemudian, aku meninggalkan kamar. Turun kembali ke ruang tengah, disambut suasana yang lebih hangat. Papi duduk di sofa, tangannya memegang cangkir yang kuduga berisi jahe hangat. Di depannya, Bang Eldra duduk santai di atas karpet sambil mengudap tahu goreng dengan sambal kecap. Dan bersama mereka ada Kang Iyal. Ia duduk tegak. Tampak canggung. “Iya, Om… dulu sempat kepikiran juga kuliah di luar, malah sudah nyari-nyari beasiswa,” ujarnya. “Terus kenapa nggak jadi?” tanya

