BAB 41-2

916 Kata

Sabtu sore. Cahaya matahari tak lagi seterik siang tadi. Angin datang berembus, menyingkirkan hawa hangat yang sebelumnya menggantung kokoh di udara. Amanda baru saja turun dari sebuah sedan yang membawanya. Jendela di sisi kemudi perlahan turun. “Jangan macem-macem lo, Kang. Matanya Papi di mana-mana,” ujar Eldra. Sofi yang duduk di sampingnya mendaratkan cubitan di lengan Eldra. Aku dan calon abang iparnya Amanda itu terkekeh kompak. “Jangan lupa dianter pulang ya, Kang,” ujar Sofi. “Papi paling nggak suka sama cowok yang beraninya ngajak ketemu dan ninggalin anaknya di luar.” “Tapi ini aman nggak?” tanyaku. “Aman!” sahut Amanda. Aku menoleh sejenak, lalu menatap Sofi lagi. “Aman, Kang. Soalnya alibi Amanda bisa diterima,” timpal Sofi. “Okelah. Thanks, El, Sof.” Amanda melamb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN