⚠️ Retorika Seorang De Luca⚠️

1437 Kata

Karangan bunga berbalut pita hitam dengan tulisan “Turut Berduka Cita – Klan Carvelli” masih tergeletak di dekat pintu masuk area pemakaman. Kehadirannya menusuk lebih dalam daripada liang lahat yang baru saja menutup tubuh Ellise. Matteo berdiri kaku. Tatapannya tajam, tangannya terkepal. Urat di pelipisnya menegang, seolah setiap detik bisa berubah menjadi ledakan amarah. Ia menatap para pengawal yang berjejer, wajah mereka pucat karena tahu apa arti kiriman bunga itu. Kebocoran. Ada pengkhianat. “Bagaimana bunga ini bisa sampai ke sini?” suara Matteo rendah, tapi bergetar oleh ancaman yang tertahan. Tak ada yang berani menjawab. Hanya ada keheningan, suara tanah yang masih lembap, dan isak Leon yang belum benar-benar mereda di pelukan Arielle beberapa langkah di belakang. Dari sisi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN