Suasana kantor Matteo diselimuti udara dingin, bukan karena suhu, tapi karena keputusan yang baru saja diteken. Massimo berdiri kaku di hadapan pria itu, rahangnya mengatup rapat. “Kau dipindahkan ke utara. Wilayah beku, jauh dari pusat, tempat yang hanya didatangi orang-orang putus asa dan nyaris mati,” ujar Matteo seraya menyelipkan map ke dalam laci. “Mulai besok, kau yang bertanggung jawab di sana.” Massimo terkekeh kecut. “Kau serius?” Matteo melayangkan tatapan tajam. “Kau pikir ini lelucon?” Massimo menahan napas. Ia tahu itu bukan tawaran. Itu pengusiran yang dibungkus dengan kata ‘penugasan’. “Aku sudah bertahun-tahun di pusat, aku—” “Kau juga sudah terlalu sering melampaui batas. Hari ini waktumu habis.” Langkah kaki terdengar dari arah pintu. Reina masuk tanpa mengetuk. T

