Hujan malam itu adalah hujan yang tak akan pernah mereka lupakan. Hujan yang mengiringi luka dan meluruh seiring dengan jatuhnya air mata. Riuh angin terasa menyesakkan, memekakkan, membuat suasana semakin kelam. Suara gemericik air terdengar sedih, layaknya melodi sendu yang menyayat hati. Dan, teriakan sesak itu menggema. Bukti nyata dari patahnya beberapa jiwa. Menangisi sebuah raga tanpa nyawa, di dalam sebuah ruang yang terasa hampa. Kematian itu datang, seperti katanya. Tanpa persiapan, tanpa pemberitahuan. "Temenin Juno," bisik Papa, mengedikkan dagu ke sosok berbaju formal yang duduk di sudut ruangan tanpa ekspresi. Hana hendak menolak, tetapi begitu papanya menggeleng tegas, ia hanya pasrah. Berjalan ragu, menghampiri sosok itu. Tidak banyak yang berubah tentangnya. Hanya, se

