Episode 8

701 Kata
"Na. Gue mau ikut ekskul dance keren gak, ya?" Yudha menyikut lengan Hana saat penampilan ekskul dance yang pecah hampir selesai. Hana yang sejak tadi terkagum-kagum dengan penampilan Tio dan kawan-kawan hanya mengerjap bodoh. "Keren, sih. Tapi yakin lo bisa?" "Bisa lah. Ntar besok gue tunjukkin ke lo ya tarian gue." Yudha tersenyum simpul. "Bukan goyang dombret, kan, tariannya?" Hana nyengir dan Yudha menoyor jidat manusia satu itu. "Jangan kasar dong, tsay." Hana tertawa keras saat menggoda Yudha. Lagian kenapa lucu banget jadi orang. Hana kan jadi senang godainnya. "Mau ikut ekskul teater aja gua mah entar." Kali ini Esa yang berkomentar seraya menyunggingkan smirk menggodanya. "Tebar pesona teroos!" *** Matahari sudah naik ke atas ubun-ubun saat penampilan dari klub teater dimulai. Ceritanya bagus, sayang Hana kelaparan sehingga tidak bisa fokus nonton. Lagi pula kenapa teater tampilnya harus siang bolong begini? Harusnya nanti saja setelah makan siang. Ah, sudahlah. Akhirnya penampilan selesai. Tepuk tangan meriah pun terdengar. Entah tepuk tangan sebagai apresiasi untuk penampilan klub teater yang bagus, atau tepuk tangan karena akhirnya mereka bisa membubarkan diri dan makan siang. Yang tahu hanya diri mereka masing-masing. "Lo mau ikut ekskul apaan, Na?" tanya Dikta sambil berjalan di sisi Hana menuju kantin. "Belum tahu." "Ikut ekskul dance aja ayok sama gue!" Yudha antusias. "Ogah!" Hana membuang muka. "Entar gue kena encok. Jalan aja belum bener suka kepeleset, apalagi ngedance? Cari mati." Yudha, Esa, dan Dodit terbahak karena ungkapan jujur Hana tersebut. "Bener, sih. Yang ada entar lo patah tulang kalau ngedance." "Iya. Seneng lo seneng ledekin gue?" ujar Hana galak. "Gak ada ekskul seni, ya? Kayak ngelukis gitu. Lo kan jago tuh." "Gak ada, Yud. Ah, lagian ngegambar mah cuma iseng doang." "Gak ada niat buat diseriusin gitu?" Esa tanya. "Belum tahu. Tapi kalau diseriusin sama cowok mah gue mau." Hana cengengesan tidak jelas. Mata terfokus ke seseorang yang baru memasuki kantin dengan tampang datarnya. Siapa lagi orang yang bisa bikin Hana cengengesan gaje kalau bukan Juno? "Yah, gue masih sekolah. Mau nyeriusin juga belum punya penghasilan sendiri buat bahagiain elo-nya." Esa mendesah kecewa, kemudian ditempeleng Yudha. "Eh, curut dasar. Lagian siapa yang mau diseriusin sama lo?" Hana menatap Esa sebal. "Katanya mau diseriusin cowok?" "Ya, bukan elo juga sih, Bambang!" Hana manyun dan makhluk menyebalkan itu cuma terkekeh. "Hei, Yudhaaa!" Mata Hana tiba-tiba mendelik begitu siswa yang tidak asing baginya duduk di sisi Yudha dan merangkulnya sok akrab. "Moko? Ngapa lo? Minta traktir?" Yudha melepaskan rangkulan Moko, tetangga sekaligus temannya. "Sebenernya mau nyapa doang. Tapi kalau mau nraktir ya Alhamdulillah. Memang rezeki anak sholeh." Moko terkekeh. Tapi kekehannya berhenti saat ia menatap Hana—yang juga tengah menatapnya menelisik. "Kalian saling kenal?" tanya Hana datar. "Iya. Tetanggaan." Moko mengangkat alis. "Hadeuh. Tetangga si Yudha kagak ada yang bener perasaan." Hana geleng-geleng kepala. "Udah si Rara yang dulu hobi banget niruin gaya gue, sekarang ini bocah hobi nabrak gue." "Lah. Lo kenal Moko emang?" "Nggak!" ujar Hana ketus. Moko mah malah masa bodoh. Senyum pepsodent everytime everywere. Idupnya kayak gak punya beban. "Eh eh! Ayok balik lagi ke Aula!" Tiba-tiba Hana buru-buru berdiri. Padahal baksonya masih nyisa. Tidak biasanya Hana membiarkan makanan mubazir begitu saja. "Kenapa weh? Ini belum abis—" "Cepetan, elah. Mau mulai lagi kayaknya acara!" Hana tergopoh-gopoh berlari ke Aula. Bukan. Bukannya mau nonton acara, sengaja aja ngikutin Juno barusan. Tapi memang kebetulan setelahnya acara kembali dimulai. Yang tampil, anggota padus. Ada Juno di sana! "Yud, gue ikutan padus ah!" Hana tiba-tiba berbisik semangat. "Kesambet apaan, Nyai? Biasanya lo sadar diri suara mirip kayak tikus kejepit, makanya suka kabur kalau ada praktik vocal. Kenapa tiba-tiba sekarang mau ikut padus?" "Pokoknya gue mau ikutan padus, Yud!" "Lo serius?" "Seratus rius!" "Naksir anggota padus, ya?" Tiba-tiba Moko nyeletuk. "Hilih. Nggak." "Mending ikut OSIS aja hayuk sama gue. Ketosnya cakep, tuh. Siapa tau kepincut." Dikta terkekeh. Pentolan jarum! Gue emang udah kepincut keles sama Kak Juno:( "Gak usah maksain masuk lingkungan yang bukan gaya lo cuma demi deketin seseorang, Na. Lo tuh cewek, harus punya harga diri tinggi." Yudha menggumam. "Y-yaiyalah. Gue ikutan ekskul karena gue mau bukan karena cowok!" "Ya baguslah. Jangan kecentilan dulu, entar kayak yang udah-udah. Giliran potek lo nangis-nangis di ketek gue." "Heh. Si b**o malah buka aib!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN