Pemakaman jenazah Pak Wasiono disertai isak tangis dari keluarga besar dan juga rekan serta tetangga yang turut datang ke upacara pemakaman guna memberikan penghormatan terakhir untuk lelaki itu. Jerit tangis dari Naomi semakin menyesakkan hati seluruh orang yang ikut mengantarkan Pak Wasiono ke peristirahatannya yang terakhir. Dipeluknya erat batu nisan yang masih baru, begitu juga aroma tanah basah bercampur dengan aroma wewangian dari kelopak bunga yang bertebaran memenuhi seluruh sisi makam Pak Wasiono.
Seperti janjinya, keluarga Devan membiayai seluruh biaya pengurusan jenazah sampai tidak ada yang kurang. Devan telah menyelesaikan proses interogasi dan juga serangkaian pemeriksaan tes urine yang menyatakan dirinya sehat dan tidak dalam pengaruh alkohol maupun obat-obatan terlarang lainnya.
Dengan kemeja berwarna hitam, dan celana jeans berwarna blue wash. Devan berdiri di antara para pelayat yang lainnya. Ditatapnya sosok wanita yang kini menangis histeris di atas pusara mendiang sang ayah. Hati Devan remuk, tidak ada penyesalan yang lebih menyesakkan hati selain melihat ada orang yang terluka karena dirimu.
Devan mengusap air matanya, sekuat apapun dia tahan Devan tidak akan menahan bulir air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Netra Devan kini memerah, rasa sakit yang dirasakan Naomi rupanya membuat Devan ikut hanyut dalam perasaan yang sama.
“Naomi, ayo bangun,” ucap Bu Lek Nar merengkuh pundak Naomi, mengajak wanita itu untuk berdiri dari sana.
Ustad yang mengawal jalannya prosesi pemakaman mendekati Naomi. “Nduk cah ayu, jangan menangis di atas pusara makan ayahmu. Kasihan beliau, kamu hanya akan menambah siksa kuburnya,” ucap Pak Ustad sambari mendekati Naomi.
Naomi sudah seperti anak bagi Pak Ustad. Kebiasaan Naomi yang suka sekali mampir di rumahnya membuat hubungan mereka menjadi dekat.
“Berhenti menangis, kita doakan arwah beliau semoga diberikan tempat yang layak oleh Allah,” ucap Pak Ustad akhirnya mampu membuat Naomi mengerti. Naomi mengangguk dan menghapus air matanya sebisa mungkin meski akhirnya air matanya kembali meluruh.
Bu Lek Nar mengelus pundak Naomi, memegangi tangan anak dari kakak sepupunya dengan erat. Pak Ustad segera memimpin doa untuk menutup prosesi pemakaman dari Pak Wasiono. Isak tangis mengiringi doa yang Pak Ustad lantunkan dengan khidmat. Naomi memeluk Bu Lek Nar dengan erat.
“Naomi jadi yatim piatu Bu Lek,” isak Naomi tak tertahankan.
Ucapan yang keluar dari mulut Naomi membuat pertahanan semua orang luntur. Mereka menangis menyaksikan Naomi kehilangan orang tua satu-satunya. Setelah mengambil sang ibu, kini Tuhan mengambil ayahnya yang hanya dia miliki di muka bumi ini.
Haruskah Naomi ikut mati menyusul ayahnya saja? Lagi pula, untuk apa Naomi hidup sebatang kara tanpa orang tua yang menemani. Bersama dengan kerabat? Mereka mana ada yang siap menampung Naomi, di saat perekonomian kerabat Naomi dalam kondisi pas-pas’an.
“Kita semua ada untuk kamu, Nduk. Yang sabar, ikhlaskan ayahmu. Biarkan dia pergi dengan tenang,” ucap Bu Lek Nar yang sejak semalam mencoba menenagkan Naomi.
Siapa yang sanggup melihat air mata yang menetes dan isakan histeris Naomi karena kehilangan ayahnya? Semua orang di sana bagai terhipnotis, air mata semua orang tumpah ruah tanpa bisa mereka tahan lagi. Bahkan Siska menangis sesegukan dalam pelukan suaminya karena sudah tidak sanggup melihat semua ini.
Devan menghapus air matanya dengan kasar. Azahra yang melihatnya langsung menggenggam tangan lelaki yang telah mengisi penuh hatinya dengan cinta.
“Ini semua sudah takdir,” ucap Azahra mengisi pikiran Devan dengan positif thinking.
Tidak ada yang menginginkan musibah seperti ini terjadi kepada siapapun. Semua orang pasti berharap untuk keselamatan mereka. Namun apalah dikata, takdir telah menentukan jalan hidup semua orang.
Bahkan Azahra dengan berat hati meminta maaf kepada Jenny dan pihak wedding organizer akan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika masalah ini tidak kunjung menemukan titik terang penyelesaiannya.
Azahra terus menyisipkan doa dalam setiap hembusan napasnya. Kalaupun dirinya berjodoh dengan Devan, seberat apapun cobaan yang menghadang, dan juga sebanyak apapun rintangan yang datang, mereka akan tetap dipersatukan.
Betapa tidak tahannya Devan melihat Naomi yang terus menangis dalam pelukan Bu Lek Nar, ingin rasanya Devan berjalan melangkah mendekati wanita itu dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Devan akan membagi pundaknya untuk tangisan yang Naomi tumpahkan.
Lelaki itu melangkah tanpa sadar mendekati Naomi, ditariknya tangan Naomi hingga membuat Naomi terkejut, begitu juga dengan Azahra yang kini menatap Devan dari tempatnya.
Devan menarik Naomi dalam pelukannya. “Menangislah, menangislah dalam pelukanku dan kutuk aku sepuas dirimu. Aku akan menerima segala caci maki yang kau ucapkan, aku akan menerima penghukumanku,” lirih Devan mendekap tubuh Naomi dalam pelukannya.
Mata Azahra terbelalak melihat keberanian Devan memeluk Naomi di tengah pemakaman ayahnya.
“Apa dia gila?” bisik Azahra menatap Devan dengan tatapan tak percaya.
Naomi memberontak, wanita itu tahu bahwa Devan adalah lelaki yang telah membuat ayahnya meninggal. Devan adalah lelaki yang telah membuatnya menjadi seorang yatim piatu, dan lelaki itulah yang telah membuat Naomi kehilangan keluarga satu-satunya.
Mengutuk lelaki itu? Bahkan Naomi enggan mengucapkan satu patah katapun di depan lelaki itu. Naomi tidak akan memaafkan Devan yang telah memberikannya kesakitan sepahit ini di dalam hidupnya.
Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan orang tua lain yang diambil? Kenapa harus kedua orang tuanya? Naomi tidak tahu kenapa takdir sangat jahat kepada dirinya. Salah apa Naomi?
“Maafkan aku,” lirih Devan memeluk Naomi erat.
“Naomi!” pekik semua orang ketika tubuh Naomi limbung ke tanah.
Mata Devan mengerjap, semua yang tadi dia pikirkan hanya bayangannya saja. Suara teriakan semua orang membuat lelaki itu kembali ke alam sadarnya. Dengan langkah lebar Devan menghampiri Naomi yang kini pingsan, tidak sadarkan diri.
“Biar aku yang bawa ke mobil,” ucap Devan, membawa tubuh Naomi ke dalam gendongannya.
Azahra dan Bu Lek Nar berjalan mengikuti Devan menuju mobil.
“Biar saya saja yang di belakang Mbak,” ucap Bu Lek Nar kepada Azahra.
Azahra mengangguk, beberapa kali Azahra menoleh menatap Naomi yang kini berada di bangku penumpang tidak sadarkan diri. Azahra merasa terenyuh, dirinya bisa memposisikan jika dia menjadi Naomi. Azahra pasti sangat terpukul kehilangan ayah yang menjadi orang tua kita satu-satunya.
“Naomi, bolehkah aku menganggapmu adikku?” batin Azahra merasakan hatinya seperti tercubit ketika menatap bekas air mata yang kini masih tersisa di pelupuk mata Naomi.
Azahra selalu berharap, semoga Tuhan memberikan Naomi kekuatan. Dan memberikan Naomi alasan untuk kembali bangkit dari keterpurukannya kali ini. Sebuah kebahagiaan yang mungkin telah menanti Naomi di depan sana.