Bab 9

1438 Kata
Sepasang insan yang kini tengah berbunga bahagia, saling merajut cinta serta tali kasih sayang. Tangan mereka bergandengan, seakan tidak ingin ada hal buruk yang memisahkan keduanya. Sang lelaki mencium tangan sang wanita, senyuman merekah di bibir indah keduanya. Tidak ada lagi kata yang mampu mewakili kebahagiaan Devan dan Azahra. Mereka berdua, pasangan yang paling bahagia untuk saat ini. Restu kedua belah pihak keluarga adalah kebahagiaan di atas segala-galanya. Bukannya apa, restu dari keluarga adalah restu dari Tuhan. Kata pepatah, restu Tuhan berawal dari restu orang tua. Dan, mereka berdua sangat beruntung mendapatkan restu orang tua, wakil dari Tuhan. “Kamu sudah menghubungi Jenny?” tanya Devan sambari mengelus pipi Azahra. Azahra mengangguk, masih dengan senyuman bahagia yang melengkung di bibir ranumnya. “Sudah, aku juga sudah kirim pesan sama Jenny kalau kita mau datang ke sanggar riasnya,” jawab Azahra. “Tapi kamu sudah bilang kan, kalau kita mau harga teman?” tanya Devan terkekeh geli. “Ish, Mas Devan ini gimana sih! Masa iya, baru menikah pertama kali kok mau endorse. Malu lah Mas sama orang-orang. Nanti dikira kita enggak modal lagi,” cibir Azahra dengan mencebikkan bibirnya kesal mendengar ucapan dari Devan. Bukannya tersinggung, Devan malah tertawa terbahak-bahak mendengar cibiran dari calon istrinya. “Lah kenapa malu, Sayang? Kamu tahu nggak, para artis, model, selebgram, mereka itu suka banget nerima endorse untuk acara-acara penting mereka. Kecuali satu, itu Mbak Yona Anantasya William sama calon suaminya, Mas Reganera Abimanyu Louis,” ucap Devan. “Mas kenal sama mereka? Yona AW itu kan? Yang menjadi model agensy Perancis?” tanya Azahra dengan matanya berbinar bahagia. Devan mengangguk. “Kamu juga mengikuti Yona AW? Ah, jangan-jangan kamu penggemarnya?” goda Devan menatap Azahra penuh selidik. “Aish, mereka itu mah couple goals sejati, Mas. Lamarannya aja di kapal pesiar, di Miami,” jelas Azahra dengan menggebu-gebu. Membayangkan moment romantic antara Yona AW dan Reganera saat lamaran di kapal pesiar yang berlayar dari Miami. “Kemaren waktu Mas ke Bandung kan pemotretan sama beliau,” ucap Devan yang sontak saja membuat mata Azahra membulat sempurna. “Apaaa? Mas ke Bandung pemotretan sama Mbak Yona AW? Huhh, kenapa tidak mengajakku sih, aku kan juga mau kenalan sama model internasional, Mas,” gerutu Azahra menyayangkan dirinya tidak bisa ikut Devan ke Bandung saat itu. Devan tertawa, melihat wajah lucu yang kini Azahra tampilkan menjadi suatu pemandangan menarik bagi dirinya. Devan sebenarnya tidak tahu jika Azahra salah satu penggemar dari Yona Anantasya William. Kalau tahu, pasti Devan akan mengajak Azahra ikut bersamanya. Atau paling tidak Devan akan memintakan tanda tangan dan video dari Yona seperti ABG lainnya yang bertemu dengan idola mereka. “Bagaimana kalau kita mengundang mereka ke pernikahan kita?” tanya Devan mengusulkan. Azahra langsung berbinar bahagia, wanita itu mengangguk dengan antusias mendengarkan usul yang keluar dari mulut lelakinya. “Pernikahan kita pasti diliput media karena kedatangan model internasional. Aku jadi nggak sabar untuk bertemu dengan Mbak Yona AW dan Mas Regan,” ucap Azahra membayangkan jika dirinya bertemu langsung dengan Yona AW dan Reganera Abimanyu Louis. “Jangan memanggilnya dengan sebutan Mas, panggilan itu hanya untuk diriku saja,” protes Devan tidak terima Azahra memanggil Regan dengan sebutan Mas. Wanita itu menjulurkan lidahnya. “Biarin aja, wlek,” ucap Azahra mengejek. Devan tersenyum lembut, kalau kedatangan Yona AW dan Regan menjadi kebahagiaan untuk Azahra, maka Devan tidak akan sungkan untuk mengundang mereka secara pribadi agar datang ke pernikahan dirinya dengan Azahra. Tentu saja kedatangan salah satu publick figure menjadi suatu kehormatan sendiri untuk Devan maupun Azahra. Dua tikungan lagi, mereka memasuki area perumahan Candi Biru, di mana rumah Jenny tinggal bersama dengan keluarganya. “Belok kiri,” ucap Azahra memberikan komando. “Sudah tahu, memangnya aku pikun yang tidak tahu daerah sini,” jawab Devan kesal. “Uluh-uluh, aku sampai lupa calon suami acu mantan anak motor yang suka kelayapan ke mana-mana sambil bawa kamera,” jawab Azahra menyindir halus kebiasaan Devan di masa lalu yang menurutnya sendiri sangat-sangat unfaedah, hanya buang-buang waktu saja. Bagaimana tidak, jika Devan sudah memiliki jadwal touring seperti itu, pastilah akan berhari-hari tidak masuk kuliah. Hasilnya, Azahra harus meluangkan waktu, tenaga, sekaligus pikirannya untuk mengerjakan tugas dari Devan dengan imbalan kencan malam minggu. Astaga, betapa polosnya Azahra saat itu yang dengan sukarela mau mengerjakan tugas kekasihnya yang gila fotografi dan juga touring. Devan tertawa mendengar sindiran halus dari Azahra. Lelaki itu tidak menampik jika dirinya saat dulu begitu membuang-buang waktu dengan acara yang menurutnya hanya menuruti hobby semata. Untung saja ada Azahra, yang selalu menemaninya sejak titik awal perjuangannya meniti karir. “Aku sangat beruntung loh bisa dapetin kamu, udah cantik, baik, polos lagi,” kekeh Devan geli mengingat Azahra yang mau-maunya mengerjakan tugas kuliah Devan. “Iya, mau-maunya dibodohin sama kamu. Kalau sekarang mah ogah, enggak malam mingguan juga enggak masalah,” ketus Azahra menekuk wajahnya kesal. Kekesalan Azahra semakin membuat Devan tertawa terbahak-bahak, wajah merah padam Azahra sangat lucu di matanya. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah minimalis berlantai dua dengan gerbang berwarna hitam. Azahra keluar lebih dulu dari mobil, wanita itu segera melangkah ke gerbang dan menekan tombol bel di sana. Beberapa kali Azahra menekannya, sosok Jenny keluar dengan senyuman menyapa teman semasa menempuh pendidikan S1 saat itu. “Azahra, Devan, senang sekali kalian beneran datang,” ucap Jenny sambari membuka gerbang rumahnya. Azahra memeluk Jenny. “Lama sekali kita tidak bertemu, Jen,” ucap Azahra kepada Jenny. Jenny mengangguk, membenarkan apa yang Azahra ucapkan. “Iya, kalau kamu enggak direct message di i********: mana mungkin ya kita kontekan lagi,”jawab Jenny tersenyum. Wanita itu merangkul lengan Azahra, dan berkata, “Aku tidak menyangka kalian beneran menikah,” lanjutnya mengutarakan apa yang mengusik pikirannya. Mata Azahra dan Devan membulat dengan kompaknya. “Kamu tidak percaya kami mau menikah?” Tanya Devan. “Iya, makanya aku bilang sama Azahra kalau serius mau pakai jasa sanggar riasku datang aja ke rumah. Eh, tahunya kalian beneran datang loh. Seneng aku, kalian beneran nikah setelah sepuluh purnama kalian hanya pacaran kayak anak SMA,” ejek Jenny yang memang gaya pacarannya sudah bebas sejak semester satu. “Ck, dasar.”  Jenny mengajak Devan dan Azahra untuk masuk ke sanggar rias keluarganya yang kebetulan berada tepat di depan rumahnya. Sengaja mereka tempatkan seperti itu agar memudahkan para kliennya yang datang untuk negosiasi harga maupun fitting baju pengantinnya. Jenny mempersilahkan Devan dan juga Azahra duduk. Wanita itu menuju kulkas untuk mengambil minuman soda dari sana. “Soda nggak apa-apa kan?” Tanya Jenny. “Aku sih terserah, asal enggak dicampur sianida,” jawab Azahra membuat Jenny terkekeh. Begitulah Azahra dan Jenny, mereka sempat dekat selama berkuliah di dalam organisasi kemahasiswaan yang sama sampai akhirnya Jenny menikah dan kehilangan kontak dengan Azahra. “Bagaimana, kalian ini seriusan mau menikah?” Nampak sekali ekspresi wajah Jenny yang menelisik, mencari kebohongan di mata Azahra dan Devan. “Kamu pikir kita ke mari mau ngundang kamu buat rias karnaval hari jadi Semarang?” Tanya Devan sudah mulai gondok hatinya. Jenny terkekeh renyah. “Siapa tahu ini hanya prank, kamu kan punya banyak kamera,” sahut Jenny. Devan maupun Azahra menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Jenny. Wanita itu memang sangat ngeyel dari jaman pertama kali mereka saling mengenal. Azahra mengedarkan pandangannya, menatap gaun-gaun pernikahan sanggar rias milik Jenny yang kini terpampang di patung display, dan sebagian digantung di lemari kaca. Azahra berdiri, mendekati satu gaun yang menurutnya begitu menarik di matanya. “Jenny, apakah gaun ini baru?” Tanya Azahra sambari memegang gaun pernikahan di depannya. “Iya itu baru, kemarin baru sampai di sini. Cium saja masih bau toko,” jawab Jenny. “Enak saja main cium-cium, ciuman Azahra kan khusus aku,” ucap Devan membuat Jenny dan Azahra kompak berdecih. Devan ikut menghampiri Azahra, lelaki itu terlihat menimang gaun yang sepertinya telah membuat Azahra jatuh hati pada pandangan pertama. “Kamu menyukai ini?” Tanya Devan kepada Azahra. “Bagaimana menurut Mas Devan? Warna putih tulang sangat kalem dan juga elegan untuk pernikahan.” Ditatapnya gaun itu dengan penuh pertimbangan. Gaun yang memiliki ekor tiga meter, serta manik-manik dengan desain yang begitu pas menempel sangat indah di bagian d**a. Azahra akan menjadi pengantin paling cantik dalam sejarah. “Coba dipakai. Mas pengen lihat,” pinta Devan. Jenny membuka gaun itu dari patung display. “Di sana ruang gantinya,” ucap Jenny sambari menyerahkan gaun itu kepada Azahra. “Bantu aku,” ucap Azahra. “Ayo, aku bantu,” jawab Devan dengan cepat menyahut. Mata Azahra mendelik. “Bukan kamu, Jenny maksud aku Mas!” Jenny terbahak. “Cari kesempatan saja terus, takennya kapan?” ejek Jenny membuat Devan menjadi kesal. Memangnya tidak boleh mengintip sedikit saja keindahan yang dimiliki calon istrinya? Ckck, tentu saja agama melarang keras. “Oke Devan, tunggu saja giliranmu nanti,” gumam Devan menatap tirai ruang ganti yang kini tertutup. Tidak berapa lama, Azahra keluar dengan memakai gaun yang telah mereka pilih. Mata Devan seperti terhipnotis melihat Azahra. Wanita itu begitu ayu, sangat cocok dengan gaun indah yang kini dia pakai. “Kedip, Van,” goda Jenny. Devan berdecak kagum, luar biasa sekali. Bahkan hanya memakai gaun tanpa polesan make up pengantin saja sudah membuat Azahra begitu cantik dan sempurna. Rasa takut kini menyelimuti diri Devan, kalau boleh Devan tidak ingin mengadakan resepsi segala. “Kita batalkan saja pesta resepsi pernikahan kita,” ucap Devan membuat Azahra dan Jenny menatapnya bingung. “Mas, tidak boleh berkata begitu. Nanti ada Wali lewat, omongan Mas Devan dijabah bagaimana?” tegur Azahra. “Mas hanya tidak mau, ada mata lain yang terpukau melihat kecantikan istri Mas. Kamu terlalu mahal untuk jadi bahan tontonan, Sayang.” “Tontonan apa? Emangnya aku wayang orang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN