Pintu ruang inap terbuka, Naomi menoleh sekilas ke arah pintu. Ternyata Devan masuk ke dalam sana dengan membawa satu paper bag yang diberikan pihak ruang administrasi kepada keluarga pasien setelah melakukan pendaftaran. Naomi kembali memejamkan matanya kembali, malas untuk bertegur sapa dengan Devan meskipun mereka berada dalam satu ruangan. Devan memilih ruang inap VIP agar Naomi bisa beristirahat dengan baik di sana. Devan merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu. Lelaki itu menatap sosok Naomi yang kini terbaring lemas di ranjang pasien. Hembusan napas panjang akhirnya keluar dari mulut Devan. “Sudah tahu memiliki penyakit magh masih saja telat makan,” cibir Devan tidak tahu bahwa Naomi tidak benar-benar terlelap. ‘Apa urusanmu Buldog!’ sahut Naomi dalam hatinya. “Padahal makanan y

