Bab 17

1004 Kata
Selama tiga hari ini, Devan terus wara-wiri ke kantor polisi untuk membuat laporan sampai dirinya mendapatkan tanda tangan dari Naomi  atas perjanjian kesepakatan damai di antara mereka. Setiap kali Devan hendak meminta mendekati Naomi untuk membicarakan masalah itu, pasti Naomi akan menghindar dan tidak pernah sudi menemui Devan. Devan sampai bingung harus melakukan apa untuk meminta maaf kepada Naomi. “Makasih, sudah mau menemani Mas,”ucap Devan kepada Azahra yang kini duduk di samping kursi kemudi. “Ih Mas Devan kayak sama siapa aja,” jawab Azahra tersenyum lembut. Keluarga Devan dan keluarga Azahra telah membuat keputusan, bahwa  pernikahan Devan dan Azahra akan ditunda untuk beberapa bulan bulan ke depan. Pernikahan yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan malah menjadi hari yang menyusahkan bagi Devan dan Azahra. Bagaimana tidak, kecelakaan itu terjadi saat mereka hendak menemui pemilik wedding organizer yang mereka berikan kepercayaan mengurus beberapa kebutuhan pernikahan. Kemarin, keluarga Devan menyempatkan mampir ke rumah Azahra sebelum menghadiri tahlilan ketiga hari kematian Pak Wasiono. Niat hati, keluarga Devan ingin mengganti biaya yang telah keluarga Azahra keluarkan untuk pernikahan Devan dan Azahra. Namun keluarga Azahra menolaknya, lagi pula keluarga Devan tengah tertimpa musibah yang belum menemukan titik terang penyelesaiannya. “Mas merasa tidak enak hati dengan papa mamamu,” ucap Devan menyuarakan perasaannya. Azahra menoleh ke arah Devan. “Mereka ikut susah melihat Mas Devan tertimpa masalah seperti sekarang ini. Mereka justru akan merasa tidak enak kalau pernikahan kita tetap berlangsung di tengah rasa berkabung yang masih menyelimuti keluarga kita, Mas.” Devan tersenyum, lelaki itu meraih jemari Azahra dan menciumnya. “Mungkin wanita lain akan kabur dan sakit hati karena pernikahan yang dia impikan batal. Tidak sedikit pula wanita yang akan mencari pengantin lelaki lain yang mau menikahinya,” ucap Devan membuat Azahra memutar bola matanya kesal. “Ya kali Mas mencari calon suami kayak cari es krim. Tinggal belok ke mini market dapet gitu? Aku yang pacaran tahun-tahunan aja gagal menikah gini,” cibir Azahra membuat Devan tertawa geli. Becandaan-becandaan kecil di antara mereka berdua yang membuat Devan merasa daya kekuatan dalam dirinya kembali terisi. Senyuman di wajah Azahra membuat perasaan Devan yang sempat memburuk kini telah membaik. Masalah apapun yang dilewati bersama-sama pasti akan terasa ringan. “Kamu tahu enggak, Mas merasa beruntung bisa memiliki wanita sepertimu,” ucap Devan mengelus puncak kepala Azahra dengan lembut. Tangan Devan mengacak pelan rambut Azahra. “Oh iya, bagaimana Jenny? Dia pasti seneng kan ucapannya kenyataan kita enggak jadi menikah?” tanya Devan akan sosok teman mereka, Jenny. Pemilik sanggar rias pengantin yang akan menjadi perias nganten mereka berdua di hari pernikahan yang seharusnya akan tiba tiga hari lagi. Bagaimana bisa mereka menikah di tengah-tengah status Devan yang mungkin saja bisa menjadi seorang tersangka atas kecelakaan tempo hari. Kasus masih terus berjalan dan diproses pihak kepolisian sesuai prosedur yang berlaku. Maka dari itu, Devan tidak pernah bisa tidur nyenyak beberapa hari ini karena statusnya yang bisa berubah kapan saja. Menjadi seorang tersangka atas kasus hilangnya nyawa atas kealpaan? Itu mimpi buruk bagi Devan. “Kalau Mas jadi tersangka gimana? Kamu mau nunggu Mas sampai keluar dari penjara?” tanya Devan membuat Azahra menatapnya tidak suka. “Apaan sih Mas Devan ini, mana ada jadi tersangka. Polisi tidak serta merta menjadikan orang tersangka. Kan pengacara keluarga Mas Devan tengah mengupayakan yang terbaik. Kita berdoa saja, semoga Naomi luluh hatinya dan mau menandatangani perjanjian damai dengan Mas Devan,” ucap Azahra mencoba untuk meyakinkan Devan bahwa masalah mereka akan segera berlalu, secepatnya atas izin dari Sang Pencipta. “Makanya Mas tanya sama Azahra, semua orang kan hanya berusaha saja. Apa kamu mau menunggu Mas kalau mas dipenjara?” Kini tatapan Devan berubah menjadi serius. “Ya aku cari baru dong Mas, enak aja,” jawab Azahra mencoba mencairkan suasana. Mereka berdua tertawa, kali ini mereka akan menemui Angela pemilik dari wedding organizer untuk membicarakan pembatalan pernikahan mereka. Tangan Devan dan Azahra saling bergenggaman. Untuk mengurangi rasa tidak enak hati mereka terhadap pemilik wedding organizer, maka Devan dan Azahra memilih untuk mendatangi langsung rumah sang pemilik wedding organizer agar komunikasi mereka bertiga berjalan dengan lancar. Rumah yang alamatnya telah Angela kirim kepada Azahra setelah Azahra mengatakan niatnya lebih dulu lewat telepon. Mereka berhenti di rumah berlantai dua sederhana yang terdapat di permukiman padat penduduk di Kota Semarang. Devan dan Azahra keluar dari mobil, Azahra menelepon Angela untuk mengatakan bahwa mereka berdua telah sampai di rumahnya. “Mbak, aku sudah sampai di depan rumah ini,” ucap Azahra ketika panggilannya telah terhubung dengan ponsel milik Angela. “Iya sebentar aku ke sana,” ucap Angela menyahut. Tidak berapa lama Angela keluar dengan menggendong putranya yang masih berusia enam bulan. Angela tersenyum dan membuka gerbang rumahnya agar Devan dan Azahra bisa masuk ke dalam. “Kenapa tidak bertemu di luar saja?” tanya Angela sambari tersenyum. Wanita itu sangat baik, bahkan ketika dirinya mendapatkan kabar jika pernikahan Devan dan Azahra dibatalkan dirinya menganggap jika itu bukanlah rejekinya. “Ayo masuk,” ucap Angela mempersilahkan Devan dan Azahra untuk masuk. Devan dan Azahra melangkah masuk mengekori Angela yang lebih dulu. Angela mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumahnya. “Duduk dulu ya aku biar bocah sama bapaknya dulu dari pada mengganggu,” pamit Angela masuk ke dalam rumah. Wanita itu segera kembali dan membawakan minuman untuk kedua tamunya. “Kenapa batal? Sayang sekali ya,” ucap Angela sambari tersenyum ramah. “Ya kami sih enggak mau batal menikah Mbak, tapi mau bagaimana lagi. Kasus kan masih tetap bergulir dan putri dari almarhum belum mau berdamai,” jawab Devan menjelaskan. “Mbak sendiri tidak masalah, semua barang-barangnya kan dari pihak Mbak sendiri. Cuma bunga dekorasi sudah terlanjur kami pesan dari Bandungan. Jadi kami tetap membayar biayanya,” jelas Angela diangguki oleh Devan dan Azahra. Angela menjelaskan kepada Devan dan Azahra sejak pertama kali mereka bertemu. Bahwa down payment atau yang sering kali disebut dengan DP tidak bisa dikembalikan. “Kami memperikan kompensasi hanya sepuluh persen. Maaf ya,” ucap Angela mengeluarkan amplop yang tadi dia taruh di saku celananya. Angela menyerahkan amplop itu kepada Azahra. “Kami minta maaf karena mengecewakan pihak dari Mbak Angela. Mohon doanya saja, semoga kami bisa segera melangsungkan pernikahan secepatnya,” ucap Azahra. “Tentu saja Mbak doakan, semoga kalian berjodoh dan segera dipemudah untuk menikah. Sekali lagi maaf karena terpaksa kalian harus kehilangan down paymentnya.” Baik Devan maupun Azahra sangat mengerti dengan kebijakan dari pihak wedding organizer Angela. Devan dan Azahra tidak mempermasalahkan semua yang terlanjur mereka keluarkan. Doa-doa dari semua orang, semoga mempermudah jalan Devan untuk segera menyelesaikan masalahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN