Tujuh hari telah berlalu, rumah yang akhir-akhir ini ramai oleh sanak keluarga mendadak sepi. Semua telah kembali ke rumah masing-masing. Menyisakan wanita itu seorang diri di sana. Hanya tinggal Mbah Ji yang kini masih menemani Naomi sampai akhir pekan nanti ketika anaknya menjemput Mbah Ji untuk kembali ke Solo. Naomi harus menerima semua bagian dari takdir hidupnya.
Tinggal seorang diri, tanpa bapa, dan juga tanpa biyung. Bu Lek Nar menawarkan diri untuk Naomi tinggal di rumah beliau sampai nanti Naomi menemukan lelaki yang akan mengajaknya membina rumah tangga. Bu Lek Nar, anak sulung dari Mbah Ji memang sangat dekat dengan Pak Wasiono, ayah dari Naomi. Beberapa kali juga Bu Lek Nar menerima bantuan dari ayah Naomi tanpa pernah mau diberikan imbalan.
Rasanya, tidak akan cukup balas budi Bu Lek Nar jika mengingat kebaikan dari almarhum.
“Kalau Nana pulang pas weekend, ke rumah Bu Lek Nar saja yo. Kalau Pak Lek Aryo ada waktu biar nanti Mbah Ji diantarkan ke sini untuk menemani Nana,” ucap Mbah Ji saat mereka tengah bersih-bersih barang ayah Naomi agar tidak semakin memberatkan perasaan Naomi.
“Nggeh Mbah, nanti Naomi kalau weekend pulang ke rumah Bu Lek Nar saja,” jawab Naomi agar Mbah Ji tidak kepikiran tentang dirinya.
Naomi tidak ingin merepotkan siapapun juga. Naomi mengerti benar, bahwa seluruh keluarganya hidup pas-pas’an dan memiliki tanggung jawab mereka sendiri-sendiri. Apalah dikata, Naomi harus siap dengan semua yang akan terjadi ke depannya. Naomi harus menjadi seseorang dengan kuat dan tegar.
Kalau banyak anak diberikan keberuntungan dengan masih diberikan orang tua lengkap, maka Naomi akan diberikan keberuntungan dengan memiliki hati yang kuat untuk menjalani hidupnya seorang diri.
“Mbah Ji mau berpesan sama kamu, pikirkan tawaran yang diberikan pihak keluarga Rewangga atas dirimu, Nduk,” ucap Mbah Ji dengan ekspresi wajah serius.
Naomi diam mematung, tidak bisa memberikan jawaban atas apa yang diucapkan Mbah Ji. Bagaimana bisa Naomi menukar nyawa ayahnya dengan uang yang mereka tawarkan untuknya. Dan lagi, entah kenapa mereka tidak benar-benar tulus akan permintaan maaf yang mereka ucapkan. Justru dari sinyal yang Naomi tangkap, mereka menguangkan segalanya, dan menganggap bahwa segalanya bisa diukur dengan materi semata.
Mbah Ji bisa mengerti bagaimana perasaan Naomi saat ini. Wanita sepuh itu hanya mampu memberikan arahan agar Naomi tidak berkubang dalam kesakitan dan juga rasa marahnya terlalu lama. Bagi keluarga besar Naomi, masa depan Naomi lebih penting dari pada menuruti ego Naomi.
Setiap hari, Devan harus wajib lapor ke kantor polisi sampai Naomi bersedia menandatangani kesepakatan damai di antara mereka berdua. Bahkan seluruh keluarga Devan sampai frustasi membayangkan masalah yang membelit putranya tidak kunjung menemukan titik terang menuju jalan damai.
“Mbah, tidak semua bisa diukur dengan uang,” jawab Naomi menatap Mbah Ji lekat.
“Terus apa yang kamu dapatkan? Menjebloskan lelaki itu ke dalam penjara? Apakah dengan itu ayahmu akan kembali hidup? Apakah dengan begitu kamu masih tetap bisa kuliah lagi?” tanya Mbah Ji, ingin membuka mata Naomi untuk menatap jauh ke depan.
“Lalu Mbah Ji mau Naomi mengambil uang dari mereka?” tanya Naomi menatap Mbah Ji tidak percaya.
Wanita itu berdiri. “Naomi mau mandi,” pamit Naomi meninggalkan Mbah Ji dengan perasaan bersalahnya.
Mungkin Naomi berpikir jika pihak keluarga besarnya hanya tidak ingin direpotkan Naomi atas biaya hidupnya sampai dia mampu bekerja sendiri. Padahal dalam pikiran mereka akan lebih mudah bagi Naomi menjalani hidupnya dengan berbekal uang bela sungkawa yang akan keluarga Rewangga berikan kepadanya.
Esok hari pun telah tiba, Devan dan Azahra berencana menemui Naomi di rumah wanita itu dengan membawakan lauk yang telah Aisyah masakkan untuk bekal makan siang suaminya dan Azahra. Aisyah meminta Devan dan Azahra mengantarkan masakan untuk Naomi sebelum Devan mengantarkan Azahra ke kantornya.
“Tidak ada orang Mas?” tanya Azahra menyusul Devan di belakangnya.
Devan menggeleng. “Tidak ada, apa mungkin Naomi sudah masuk ke kampus?” tanya Devan meminta pendapat Azahra.
Rumah itu nampak sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
“Ya sudah, kita datang lagi nanti,” ucap Azahra diangguki setuju oleh Devan.
Mereka kembali masuk ke dalam mobil, membelah jalanan Kota Semarang untuk menuju kantor tempat Azahra bekerja, salah satu anak perusahaan dari Corlyn Company. Selama perjalanan, Devan dan Azahra tumben sekali saling diam seribu bahasa. Keduanya nampak sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
“Ini lauk yang buat Naomi, Mas Devan bawa ke studio saja buat makan siang,” ucap Azahra kepada Devan.
“Maaf ya, nanti siang Mas tidak bisa makan siang bersama. Mas ada pekerjaan,” ucap Devan kepada Azahra.
Azahra tersenyum dan mengangguk, wanita itu mengerti kalau Devan pasti memiliki banyak kesibukan setelah meninggalkan pekerjaannya beberapa hari ini.
“Hati-hati ya Mas,” ucap Azahra, memberanikan dirinya mencium pipi Devan hingga lelaki itu mengulum senyumnya malu.
“Kamu ya, sudah berani nakal sekarang,” kata Devan dengan senyumnya menggoda.
Wanita itu justru terkekeh mendengar perkataan dari Devan. Azahra segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
“Hati-hati di jalan, Mas.”
Devan menjawabnya dengan klakson mobil, sebelum lelaki itu melajukan mobilnya meninggalkan kantor tempat Azahra bekerja. Matahari yang mulai menampakkan wajahnya dengan malu-malu. Pikiran Devan kembali membayangkan atas sosok Naomi, entah bagaimana kabar wanita itu saat ini.
Berbagai macam pikiran buruk menghinggapi diri Devan. Lelaki membayangkan jika Naomi akan melakukan hal nekad semacam bunuh diri atau lari ke jalan yang tidak sepantasnya hanya untuk menghibur dirinya yang tengah terluka.
“Jangan-jangan Naomi bunuh diri,” gumam Devan tidak tenang arah pikirannya saat ini.
Lelaki itu memutar kemudi mobilnya menuju kampus tempat Naomi menimba ilmu Strata Satu. Devan harus menemui Naomi, dan segera menyelesaikan permasalahan di antara mereka berdua. Devan harus segera menunaikan tanggung jawab yang telah Pak Wasiono berikan kepada dirinya.
Menjaga putrinya, Naomi Indira.
Satu kalimat yang membuat Devan tidak pernah lelah untuk mendapatkan maaf dari Naomi. Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Wasiono sebelum ajal menjemputnya. Satu kalimat yang mampu membuat Devan berani bertanggung jawab atas sosok Naomi Indira.
Setelah melakukan perjalanan hampir 40 menit lamanya. Devan akhirnya sampai di kampus tempat Naomi berkuliah.
“Astaga, bodohnya aku. Aku mana tahu dia berada di kelas mana. Tidak mungkin aku bertanya bagian kemahasiswaan,” gumam Devan merutuki kebodohannya sendiri.
Devan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang masuk utama Universitas Negeri Semarang. Devan menyenderkan punggungnya ke kursi.
“Baiklah, ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami,” ucap Devan sambari membuka jendela mobilnya.
Mata Devan menatap lurus ke depan, meneliti bagai penyelidik yang tengah mencari wajah criminal. Devan meraih ponselnya, menyambungkan ponsel dengan sound untuk memutar lagu kesukaannya.
Tiga puluh menit berlalu, Devan sampai menghela napas panjang menunggu sosok yang dia cari melintas di depannya. Belum lagi panggilan-panggilan telepon dari Mas Arip menanyakan di mana lelaki itu saat ini berada.
“Dua puluh menit lagi, kalau tidak ada lewat berarti aku akan mencobanya lagi seperti gosokan Ale-Ale,” ucapnya dengan kekehen geli.
Pucuk dicinta ulampun tiba, wanita yang dia cari-cari akhirnya lewat di depannya. Devan hafal benar motor Scoopy berwarna merah yang terparkir di luar rumah Naomi saat dirinya datang tahlil ke sana.
“Itu pasti Dedek Naomi,” ucap Devan.
Lelaki itu dengan cepat menghidupkan mobilnya, dan mengikuti Naomi dari belakang. Seperti menang lotre, Devan berteriak bahagia begitu melihat Naomi ada di depannya saat ini. Devan segera memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil. Setelah itu Devan beranjak keluar dari sana untuk menghampiri Naomi di tempat parkiran motor.
Devan tidak lupa juga membawa bekal makan yang tadi telah diberikan kepada dirinya.
“Naomi,” teriak Devan melambaikan tangannya antusias.
Naomi menoleh mendengar namanya dipanggil seseorang. Kening wanita itu berkerut melihat Devan berjalan ke arahnya.
“Sepertinya aku mengenal lelaki itu,” gumam Naomi karena penglihatannya sedikit kabur setelah terkena sinar matahari.
Mata Naomi terbelalak begitu melihat siapa sosok yang kini melambaikan tangan ke arahnya.
“Dia kan pembunuh itu,” ucap Naomi melebarkan matanya saat menyadari bahwa sosok itu adalah Devan.
Naomi dengan cepat meletakkan helmnya di kaca spion motornya. Naomi berjalan cepat meninggalkan Devan di belakangnya tanpa memperdulikan teriakan yang keluar dari mulut Devan.
“Naomi, tunggu dulu,” teriak Devan memanggil Naomi.
Langkah Devan sangat cepat, nampaknya Devan sangat kukuh untuk berbicara dengan Naomi. Lelaki itu bahkan berlari kecil dengan teriakan memanggil nama Naomi sampai mahasiswa di sana menatapnya penuh tanda tanya.
“Diputusin kali,” kekeh mereka menatap Devan dengan iba.
Terserah apa yang mereka pikirkan kini tentang Devan. Yang penting Devan bisa menemui Naomi dan berbicara dengan wanita itu.
“Na, elo kenapa?” tanya teman Naomi ketika berpapasan dengan Naomi.
“Ada lelaki sinting yang ngejar gue, please halangi dia yaaa,” jawab Naomi sambil berteriak.
Teman Naomi saling menatap, namun pertanyaan dalam pikiran mereka terjawab sudah saat sosok Devan muncul dengan berteriak memanggil nama Naomi. Seperti pesan Naomi, mereka berpura-pura berjejer untuk menghalangi Devan menjangkau Naomi di depan sana.
“Permisi, permisi,” ucap Devan setengah berteriak karena kedua teman Naomi tidak juga menyingkir dari jalannya.
Naomi menengok ke belakang, napasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja dikejar setan. Naomi menyunggingkan senyumnya ketika melihat kedua temannya berhasil menghalau Devan untuk mendekat ke arahnya.
“Minggir, Mbak. Saya harus menemui kekasih saya,” ucap Devan berteriak keras.
Mata kedua teman Naomi membulat sempurna. “Mas pacarnya Nao?” pekik mereka tidak menyangka.
Mereka memicingkan matanya, mana mungkin Naomi memiliki pacar? Iya sih lelaki itu tampan dan sangat cocok jika bersanding dengan Naomi. Tapi rasanya Naomi tidak pernah terlihat dekat dengan lelaki manapun.
Mengambil celah dari tatapan penasaran kedua wanita itu. Devan menerobos lewat melewati mereka berdua.
“Naomi, tunggu aku,” teriak Devan menenggelamkan rasa malunya ke dalam lautan lepas.