Sinar matahari mulai terlihat muncul dari suasana yang gelap, pertanda pagi telah datang menyapa. Di sebuah kamar yang berukuran 3x5 meter, dengan beberapa perabot mewah di dalamnya, terlihat seorang gadis yang masih tertidur dengan lelap. Beberapa kali ia terlihat menggeliat dan menguap dengan matanya yang masih tertutup rapat. Sovia terjaga sepanjang malam karena kebingungan mencari sebuah kartu nama. Ia lupa menaruh kartu nama Alvin entah dimana, sampai semalaman ia sibuk mencarinya kemana-mana. Pukul tiga dini hari ia baru menemukannya, jatuh di bawah kolong tempat tidur. Kartu nama itu sangat berarti baginya. Setelah pertemuannya dengan Alvin kapan hari, ia belum sempat menyimpan nomor telepon laki-laki itu. Di dalam tidurnya yang lelap ia dikejutkan oleh suara alarm yang keras dari HPnya. Gadis itu pelan-pelan mulai membuka mata, meraih Hpnya di atas nakas, kemudian mematikan alarmnya. Ia melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sudah waktunya untuk bangun dan bersiap-siap mengantarkan Ibunya ke dokter. Sebenarnya Ibunya menderita penyakit jantung sudah lama. Namun beberapa tahun terakhir, sakit ibunya tersebut sering kambuh sehingga harus check up rutin sebulan sekali ke dokter.
Perlahan-lahan ia mulai bangun kemudian duduk di tepi ranjangnya. Ia terlihat sibuk memainkan jari-jari lentiknya di atas layar Hp sambil sesekali mengucek matanya. Mengetikkan beberapa pesan untuk dikirimkan pada seseorang. Setelah pesan itu terkirim ia pun tersenyum, senyuman yang sangat sulit diartikan.
****
Alvin mengambil benda pipih yang ada di saku celananya, sembari satu tangannya memegang kemudi mobil. Dari jam tujuh pagi ia sudah berangkat untuk bekerja karena harus mengambil data ke rumah salah satu konsumen, baru setelah itu ke kantor. Di lihatnya layar Hpnya yang tiba-tiba berbunyi, pertanda ada sebuah pesan masuk dari seseorang. Chat dari nomer tidak di kenal, kemudian ia membacanya.
Vin, aku Sovia. Kamu ada waktu hari ini? bisa kita ketemuan sebentar? Ada yang mau aku bicarakan.
Alvin cuma membaca isi chat Sovia, kemudian memasukkan kembali Hpnya ke saku celana. Ia tidak ada sedikitpun keinginan untuk membalas chat itu, karena baginya Sovia adalah bagian dari cerita masa lalunya. Sebisa mungkin ia akan menjauhi Sovia, karena sekarang yang ada di kehidupannya hanyalah Alena.
***
Siang harinya, sepulang dari mengantarkan ibunya ke rumah sakit, Sovia melajukan mobilnya tanpa tujuan. Hatinya bimbang dan tidak tenang karena chat yang ditujukan untuk Alvin sudah dibaca oleh pemiliknya, tapi tidak ada balasan apapun juga. Sudah beberapa kali ia memutari jalanan di taman kota, akhirnya ia pun berhenti dan menepikan mobilnya. Ia kembali mengambil kartu nama di dalam tasnya dan sejenak memandanginya. Tertera nama Alvin, alamat kantor dan no telepon di sana. Setelah memandangi kartu nama tersebut, gadis itu tiba-tiba tersenyum. Ia menemukan sebuah ide cemerlang di kepalanya. Setelah berhenti beberapa saat ia kembali melajukan mobilnya. Beberapa saat kemudian dengan hanya berbekal google map, ia sampai juga di depan sebuah gedung berlantai sepuluh milik sebuah bank swasta. Ia memarkir mobilnya, bergegas masuk ke dalam gedung dan langsung menuju lift untuk ke lantai enam. Gedung tersebut terdiri dari beberapa lantai dan setiap lantai berbeda-beda bagian, tapi tetap dibawah naungan Manajemen yang sama. Untuk bagian banking ada di lantai satu, sedangkan lantai enam adalah bagian finance, tempat Alvin dan Alena berkerja. Setelah pintu lift terbuka dia sudah di sambut oleh seorang satpam.
“Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak satpam itu dengan sopan.
“Bisakah saya bertemu dengan Pak Alvin, bagian marketing executive di sini?”
“Mohon maaf apakah Ibu sudah ada janji sebelumnya?”
“Bilang saja saya Sovia, ingin bertemu sebentar. Ada perlu penting, tolong sampaikan ya, Pak!”
“Baik Bu, silahkan Ibu duduk dulu di ruang tunggu. Saya sampaikan dulu pada Pak Alvin!” kata Pak satpam mengarahkan.
“Iya Pak, terimakasih.” Setelah itu Sovia duduk di ruang tunggu. Beberapa pasang mata memeprhatikan penampilan Sovia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hari ini ia memakai celana jeans warna hitam dengan kemeja warna putih di padu padankan dengan sepatu hak tinggi warna hitam. Penampilannya hari ini terlihat sangat simple dan elegan. Memang Sovia tidak pernah gagal dalam hal penampilan. Apapun yang dikenakan dia selalu terlihat cantik di tubuhnya.
Pak Satpam menemui Alvin di dalam ruangan marketing. Ia bergegas menuju ke meja Alvin yang berada di tengah-tengah ruangan marketing. Saat itu kebetulan Alvin ada di kantor dan terlihat sedang sibuk mengisi aplikasi konsumen.
“Pemisi Mas Alvin, ada tamu di depan.”
“Siapa dan darimana?” tanya Alvin tidak menatap ke arah Pak satpam yang berdiri di depannya, karena ia terlalu sibuk dengan layar komputernya dan beberapa map aplikasi di atas mejanya.
“Dari Ibu Sovia, mas!” mendengar nama Sovia, Wajah Alvin kelihatan terkejut. Seketika itu ia langsung menghentikan aktifitasnya.
“Kenapa gadis itu datang ke sini. Nekat sekali dia.” Batin Alvin sembari berfikir. Ia menatap ke arah Pak Satpam. Kemudian memberikan intruksi padanya.
“Bilang saja saya tidak ada!” kata Alvin dengan entengnya.
“Tapi, Mas …?” kata Pak Satpam terlihat ragu-ragu.
“Udah bilang saja gitu. Pokoknya setiap kali wanita itu datang ke sini bilang saja, saya tidak ada di tempat!” tegas Alvin. Pak satpam itu keheranan, dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Alvin tidak mau menemui orang secantik itu, malah Alvin terkesan menghindar. Tapi ia tetap profesional dengan tidak ikut campur masalah orang lain.
“Iya Mas, siap!” jawab Pak satpam sambil berlalu ke depan menemui Sovia di ruang tunggu. Di sana terlihat Sovia sedang duduk gelisah sambil memainakan jari-jari tangannya. Pak satpam menghampirinya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Alvin.
“Permisi Bu Sovia.”
“Iya Pak, gimana apakah Alvinnya ada?”
“Mohon maaf sekali Bu, Pak Alvin ternyata sudah tidak ada di tempat. Satu jam yang lalu dia sudah meninggalkan kantor.”
“Oh … gitu ya Pak? kalau boleh tau dia keluar kemana Pak?”
“Waduh kebetulan saya kurang tahu Bu.”
“Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu, Pak. Kapan-kapan saya akan datang lagi ke sini.”
“Iya Bu Sovia, mari saya antarkan!”
“Iya terimaksih Pak.” Mereka berdua keluar dari ruang tunggu. Kebetulan saat Sovia keluar dari ruangan tanpa sengaja ia berpapasan dengan Alena. Mereka tidak saling kenal tapi entah kenapa nalurinya menyuruhnya untuk menoleh ke arah Alena. Akhirnya mata mereka saling bertabrakan, dan dalam hati mereka saling memuji satu sama lain. Sovia menuju lift dan kembali pulang dengan kekecewaan karena ia gagal bertemu dengan Alvin. Bahkan memang Alvin terkesan sengaja menghindarinya.
***
Alena masuk ke dalam kantor dan kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia baru saja pergi ke lantai tiga utnuk meminjam toilet yang ada di sana, karena toilet di lantai enam sangat antri dan ia sudah tidak tahan menunggu terlalu lama.
“Kamu tadi kemana? tiba-tiba ngilang gitu aja?” tanya Alena.
“Ke toilet lantai tiga, abisnya toilet di sini penuh keburu nggak kuat aku nahan.”
“Oalah pantesan tiba-tiba ngilang.”
“Van, kamu tau nggak sih. Tadi kan aku masuk ke kantor nih, aku papasan sama cewek cantik banget.”
“Masak sih? sekarang di mana dia masih ada di depan nggak? tanya Vania penasaran.
“Udah pulang tadi, dianter Pak Tomo. Cewek secantik itu jodohnya kayak gimana ya, Van?” tanya Alena sambil menopang dagunya di atas kedua tangannya.
“Daripada kamu mikirin jodoh orang, mending kamu mikirin jodoh temenmu ini deh! Sampai sekarang nggak kelihatan hilalnya, nggak tau nyangkut kemana!” kata Vania dengan wajah memelas.
“Ha … Ha … Ha …” tawa Alena pecah mendengar celoteh sahabatnya itu.
“Kok malah ketawa sih? seneng banget liat aku susah.”
“Udah kamu sama Mas Angga aja lah.”
“Beneran nih? Tapi aku liat-liat, kayaknya mas Anggamu itu nggak suka cewek deh!”
“Ngawur aja. Dia tuh laki-laki tulen tau nggak!!”
“Cie … Cie … Tumbenan belain mas Angga, biasanya aja kalau ditelepon marah-marah terus.”
“Ya kamu tau sendiri Mas Angga kayak gimana orangnya, udah persis kayak satpam kompleks.” Sebal Alena.
“Eh tapi sekarang aku liat Mas Angga jarang teleponin kamu. Biasanya kan sehari 3 kali kayak minum obat?” celoteh Vania yang jujur membuat Alena baru menyadari kalau Angga selama ini memang jarang menghubunginya. Selama ini ia terlalu sibuk dengan Alvin sampai ia lupa tentang kabar kakaknya itu.
“Iya juga sih, tar pulang kerja coba aku telepon dia. Ya udah ayo kembali kerja. CCTV nyala terus tuh takutnya tar diliat Pak Hartono kita ngobrol terus di sini.”
“Ya kan kita ngobrol sambil kerja, apanya yang salah kan sah-sah aja.”
“Halah sok-sokan. Ntar giliran di panggil ke dalam kantornya nangis-nangis ketakutan Ha … Ha … Ha …” goda Alena, yang spontan membuat wajah Vania memerah. Memang Vania itu paling takut kalau di panggil oleh Pak Hartono, karena ia berpikir orang yang dipanggil oleh managernya tersebut pasti orang yang sudah membuat kesalahan pada pekerjaannya. Padahal sebenarnya tidak, terkadang ia dipanggil hanya disuruh untuk mengerjakan sesuatu bukan karena membuat kesalahan.
“Sssttt … Ya udah jangan ngobrol terus kalau gitu. Takut juga kalau tiba-tiba di panggil di suruh masuk ke ruangannya.” kata Vania sambil bergidik ngeri. Sementara Alena hanya senyum melihat tingkah sahabatnya itu.
***
Setelah masuk ke dalam rumah Sovia melempar tasnya di atas meja kemudian membanting tubuhnya di atas kursi. Ia tidak habis pikir kenapa Alvin tidak mau bertemu dengan dirinya di kantor tadi, padahal ia tahu kalau Pak satpam tadi berbohong padanya. Sangat terlihat jelas dari gelagatnya kalau Pak Satpam itu membohongi dirinya. Tampaknya ia harus berusaha lebih keras lagi untuk bertemu dengan Alvin. Perlahan ia mengambil tasnya dan merogoh HP di dalamnya. Setelah memencet beberapa nomer ia pun menghubungi seseorang.
“Tolong kamu cari informasi apa saja tentang Alvin! nama lengkap dan alamat kantornya aku kirim by chat ya! Makasih.” Perintah Sovia pada orang itu melalui telepon selulernya. Sovia masih tidak percaya, bagaimana mungkin semudah itu Alvin bisa melupakan dirinya. Mungkinkah sudah ada seseorang yang telah menggantikan posisinya di hati Alvin? berbagai macam pertanyaan muncul dipikirannya dan secepatnya ia harus menemukan jawabannya.