22 Kesalahan Kedua 22

1590 Kata
Alena hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Badannya gemeteran, terkejut, marah dan kecewa bercampur aduk menjadi satu. Memang benar kata orang, rasanya lebih sakit di khianati oleh seseorang, yang kita yakini ia tidak akan pernah menyakiti kita. Air mata Alena terus mengalir di kedua pipi mulusnya. Kini hanya suara sesenggukan Alena yang terdengar diantara mereka berdua. Alvin hanya bisa diam tanpa berkata-kata. Ia bingung harus mengatakan apa lagi pada Alena, karena ia merasa sudah menyampaikan semua yang ada di dalam hatinya. Tiba-tiba kepala Alena terasa berat, matanya berkunang-kunang. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk pergi dari tempat itu. Wajahnya berubah menjadi pucat seperti orang yang baru saja kehilangan banyak darah. “Al, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Alvin yang khawatir melihat wajah Alena yang berubah pucat seperti itu. “Plak ....” “Kamu jahat, Vin.!!!!” Seru Alena yang dibarengi sebuah tamparan keras di pipi Alvin, sampai sebagian besar pengunjung melihat ke arah mereka. Alvin terkejut dengan keberanian Alena menampar dirinya. Ia tak menyangka Alena seberani itu pada dirinya. Alvin memegangi pipinya yang merah akibat tamparan itu, sedangkan Alena berusaha mengumpulkan tenaganya yang hampir hilang, kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu. Alvin berdiri dari tempat duduknya, ia hanya bisa memandang gadis yang telah di sia-siakannya itu, dari kejauhan. Ia terlalu pengecut untuk mengejar Alena, kemudian ia kembali duduk dan mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya. ‘Mungkinkah aku udah keterlaluan pada Alena, kasihan dia.’ Batin Alvin. Sebenarnya ia kasihan pada gadis itu, tapi mau tidak mau ia harus berbuat seperti itu, karena memang perasaannya pada Alena sudah tidak seperti dulu lagi. Ia harus bersikap tegas untuk mengakhiri ini semua agar Alena bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dirinya, dan ia dapat segera menikahi Sovia. Alena tak berhenti menangis, sampai di depan hotel ia mencari tempat yang sepi untuk menumpahkan semua kesedihannya. Ia duduk di sebuah kursi dipinggir jalan, tak jauh dari hotel. Pikirannya kalut ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Rasanya tidak mungkin ia naik ojek online dengan keadaan seperti ini. Akhirnya ia teringat dengan Vania, Ia mengambil HPnya di dalam tas dan segera menghubungi Vania. “Van, bisa kamu jemput aku di hotel Java, sekarang ...?” ucap Alena dengan suaranya yang serak dan masih sesenggukan. “Kamu kenapa, Al? kamu nggak apa-apa kan?” seru Vania khawatir mendengar suara Alena yang terdengar habis menangis. Mendengar suara Vania di telepon, hati Alena semakin sedih akhirnya tangisananya tidak bisa dibendung kembali. “Alvin ..., Van.” jawab Alena sembari menangis sesenggukan. “Kenapa dengan Alvin, Al?” “Al ... Alvin ....” Alena tidak bisa melanjutkan ceritanya, karena air matanya kembali mengucur dari kedua pipinya. “Iya udah, Al. Kamu tunggu di situ jangan kemana-mana dulu ya!” setelah mengatakan itu, Vania menutup teleponnya. Beberapa saat kemudian Vania sudah sampai di tempat Alena. Ia sampai di tempat itu begitu cepat, mungkin ia mengebut di jalan tadi. Ia buru-buru memarkir motornya dan berlari menghampiri sahabatnya itu. Vania duduk di samping Alena, memegang kedua bahunya sembari menatap lekat wajah sahabatnya itu. “Kamu kenapa, Al?” tanyanya dengan wajah penuh kekhawatiran. Alena langsung memeluk tubuh Vania menumpahkan semua air matanya saat itu juga. “Ayo kita pulang dulu, nanti di kostan aja ceritanya ya.” Ajak Vania. “Iya, Al.” Jawab Alena lirih. Vania memapah tubuh lemah Alena kemudian menyuruhnya naik ke boncengan motornya. “Kamu bisa kan naik di belakang kan? pengangan yang erat ya!” perintah Vania pada Alena. Ia kelihatan sangat khawatir pada keadaan sahabatnya itu. Ia jadi bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? kenapa Alena sampai terlihat depresi deperti itu? berbagai pertanyaan menyelimuti pikirannya dan tidak mungkin ia tanyakan sekarang. Ia harus bersabar sampai di kostan baru ia tanyakan semua itu pada Alena. Vania mempercepat laju motornya, di jalan berkali-kali ia meraba tangan Alena untuk mengencangkan pegangannya di perut Vania. Ia tidak ingin temannya itu tiba-tiba jatuh di tengah jalan gara-gara dirinya ngebut. Setelah menempuh 30 menit perjalanan akhirnya ia sampai di kostan. Alena bergegas masuk ke kamarnya diikutin oleh Vania. Ia membanting tubuhnya di atas kasur, sembari memejamkan matanya. Terlalu sakit hatinya untuk bercerita tentang peristiwa yang terjadi barusan. Vania duduk di disebelahnya, memegang kakinya berharap Alena mau bercerita padanya saat ini juga. “Al, ....” panggil Vania lirih. Perlahan Alena bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di atas kasur sembari memegang kedua lututnya. “Van, ternyata kamu dan mbak Dahnia emang benar, Alvin selingkuh di belakangku, Van.” Untuk yang kesekian kalinya Alena menumpahkan semua air matanya, kali ini ia benar-benar menumpahkan semua kekecewaan, kemarahan dan segala emosinya dengan menangis. Vania merangkul sahabatnya, ikut merasakan apa yang telah dirasakan oleh Alena saat ini. Begitulah arti sahabat bukan, selalu ada disaat suka dan duka. Selama ini Vania sudah menjadi sahabat yang baik bagi Alena, bahkan ia selalu ada di saat Alena sedang dilanda kesedihan sekalipun. Vania tak pernah meninggalkannya. “Gimana kamu tau kalau Alvin selingkuh? apa dia ngakuin semuanya sama kamu?” tanya Vania dengan posisi masih merangkul sahabatnya itu. “Iya dia ngakuin semuanya, Van.” “Bener-bener cowok yang kurang ajar banget si Alvin itu.” Vania tersulut emosi mendengarkan cerita Alena. “Bukan hanya itu aja, bahkan dia mau menikah dengan gadis itu, Van. Hatiku sakit sekali rasanya.” Ucap Alena lirih dengan air matanya yang tak berhenti mengalir. “Apa menikah? dengan siapa?” kaget Vania mendengar penjelasan Alena. “Menikah dengan wanita yang bernama Sovia, ternyata dia adalah mantan pacar Alvin, Van.” “Sovia yang dateng ke kantor kapan hari itu?” tanya Vania dengan penasaran. “Iya dia orangnya ....” jawab Alena lirih sembari menundukkan kepalanya. “Biar aku temuin Alvin sekarang, Al.” “Jangan, Van. Biarkan saja mereka bahagia. Aku yang akan pergi dari hidup Alvin.” “Kamu jadi orang kok sabar banget sih, Al.” “Mungkin aku akan bahagia melihat orang yang aku sayangi bahagia. Memang sakit rasanya tapi aku akan mencoba untuk mengikhlaskan Alvin.” Kata Alena dengan datar. “Sabar ya, mungkin kalian memang belum berjodoh. Allah telah mengambil Alvin dari hidupmu, karena Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin akan ada orang lain yang lebih baik dari Alvin buat kamu.” Hibur Vania, memegang kedua tangan Alena seakan-akan mentransfer kekuatan buat sahabatnya itu. “Iya, Van. Kamu memang benar.” “Iya, Al. Laki-laki yang suka selingkuh seperti itu tidak baik buatmu. Aku yakin kamu bakal nemuin orang yang lebih baik darinya.” “Iya, makasih ya, Van, kamu udah menghiburku.” Ucap Alena lirih. “Sama-sama, Al. Kalau gitu sekarang kamu istirahat dulu. Inget ya, jangan pikirin laki-laki b******k kayak dia lagi.” Ancam Vania. Alena memaksa untuk tersenyum di depan Vania padahal hatinya menangis. Sampai detik ini ia masih tidak percaya dengan kenyataan pahit yang baru saja menamparnya. Sebegitunya ia mencintai Alvin, namun Alvin dengan begitu mudahnya mengingkari kesetiaanya sendiri, dan berencana menikah dengan gadis lain. Setelah Vania keluar dari kamarnya, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Mencoba untuk memejamkan mata dan sejenak melupakan semua kejadian hari ini, namun ternyata tidak bisa. Sedikitpun ia tidak bisa memejamkan matanya dan melupakan semua kejadian tadi sore. Semua kata-kata Alvin dan perlakuannya pada Alena, tidak semudah itu untuk dilupakan begitu saja. Memang kalau hanya sekedar berbicara tentang keikhlasan sebatas di bibir saja, semua orang pasti bisa melakukannya. Namun untuk menjalaninya itu tidak mudah dan itulah yang dirasakan oleh Alena saat ini. Ia menyangka tadi sore adalah momen dimana Alvin akan memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi malah sebaliknya ia malah mendapatkan perlakuan yang sangat menyakitkan.Terlalu menyakitkan sehingga tidak tahu sampai kapan Alena bisa melupakan itu semua. Tanpa ia sadari cintanya pada Alvin sudah begitu dalam, sehingga saat ia ditinggalkan seperti sekarang, rasa kehilangan itu terasa begitu nyata. Alena terus menerus menangis semalaman, matanya kelihatan bengkak karena ia tak berhenti untuk menangis. Sampai akhirnya pada saat jam menunjukkan pukul lima pagi, tenaganya sudah tidak kuat lagi. Air matanya rasanya sudah kering dan badannya terasa lemas tidak bisa digerakkan sama sekali. Akhirnya iapun tak sadarkan diri. **** Keesokan paginya, tak seperti biasanya pintu kamar Alena masih tertutup rapat, padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tak ada satupun aktivitas yang terdengar di dalam kamar itu tandanya si empu kamar masih tertidur lelap di balik selimut tebalnya. Vania berkali-kali mengetuk pintu kamar Alena, namun tak ada suara sahutan sama sekali. Iapun mencoba menghubungi nomer HP Alena, suara nada deringnya terdengar dari luar kamar namun tak diangkat juga. Vania kebingungan, ia takut Alena akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh di dalam kamar, karena kondisinya tadi malam sangat memperihatinkan. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya ia memaksa membuka pintu kamar Alena dengan meminta bantuan teman kostannya. Mereka mencoba mendobrak pintu kamar Alena, pada awalnya susah tapi akhirnya berhasil juga. Saat masuk yang dilihat saat itu adalah kondisi Alena yang terkulai lemas di atas kasur, bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja ia tidak sanggup. Vania panik dan langsung menghubungi ambulance. Namun Alena menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Ia meminta untuk istirahat di rumah saja. Vania menuruti kemauan sahabatnya itu, ia meminta ijin kantor untuk berangkat agak siang karena harus merawat Alena dulu di kost. Setelah meminum obat dan beristirahat, kondisi Alena mulai agak membaik. Vania merasa kasihan dengan sahabatnya itu dan ia berencana untuk bertemu dengan Alvin dan meminta penjelasan tentang semua ini. Namun Alena melarangnya, ia memutuskan mulai hari ini dan seterusnya ia tidak mau ada hubungannya dengan manusia yang bernama Alvin lagi. Itulah jalan satu-satunya agar sedikit demi sedikit ia bisa belajar melupakan Alvin dan semua kenangan tentangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN