44. Kesalahan kedua 44

1620 Kata
“Mas Angga, baik-baik aja Pak, kemarin juga masih teleponan sama aku kok.” Jawab Alena enteng, dan mencoba bersikap tenang. “Oh, ya sudah aku kirain dia sakit atau kenapa gitu?” “Nggak Pak, aman.” Jawab Alena sembari tersenyum pada Bapaknya itu. “Oh, ya Nak Alvin ini orang mana, kok dari tadi saya lupa nanya.” “Saya asli surabaya Pak, tapi orang tua saya menetap di jakarta. Ada kerjaan di sana Pak.” “Berarti di surabaya tinggal sendiri ya, Nak?” “Iya, Pak. Saya tinggal sendiri. Kebetulan saya sudah ada rumah di surabaya.” “Oh gitu.” Kemudian Pak Pramono kembali diam. Melihat orang tuanya diam, Alena menyenggol kaki Alvin, agar segera membicarakan hal penting yang memang menjadi tujuan mereka kesana. Sebelum membicarakan hal itu, Alvin sejenak mengatur nafasnya dan menyiapkan mentalnya untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia berdoa di dalam hati agar apa yang menjadi tujuan mereka akan menjadi kenyataan. ‘Pak, Bu, tujuan saya ke sini sebenarnya adalah untuk membicarakan sesuatu yang penting mengenai anak Bapak dan Ibu.” Ucap Alvin dengan lirih dan sopan. Ia terlihat duduk dengan tidak tenang, berkali-kali ia menggeser posisi duduknya agar mendapatkan posisi yang nyaman. “Apa itu, Nak Alvin. Katakan saja! kami siap mendengarkannya.” Jawab Pak Pramono dengan penasaran. Sementara Bu Dewi cuma mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui setiap kata-kata yang diucapkan oleh suaminya itu. Alvin terlihat saling berpandangan dengan Alena, tangan mereka saling becengkraman dibawah meja, untuk menguatkan satu sama lain. Setelah mengumpulkan kekuatan Alvin pun memulai pembicaraannya. “Pak, Bu, Saya mau meminta doa restu untuk menikahi anak Bapak sama Ibu.” Ucapnya dengan lancar, namun jantungnya tak berhenti berdetak kencang sedari tadi. “Kamu serius, dengan keputusanmu, Nak?” Tanya Bu Dewi. “Iya, Saya serius dengan keputusan saya, Bu.” Jawab Alvin dengan tegas. “Kalau Bapak, terserah pada keputusan Alena, karena dia yang jalanin. Bapak tugasnya hanya mendoakan yang terbaik buat kalian saja. Kalau memang Alena sudah setuju, Bapak sama Ibu mengikuti saja.” Jawab Pak Pramono dengan sangat bijaksana. Sedangkan Bu Dewi hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu. “Tapi ...,” Alvin tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya itu. “Tapi apa, Nak?” tanya Bu Dewi penasaran. “Tapi, masalahnya saya akan menikahi Alena secara siri dulu, karena sekarang posisi saya masih mempunyai istri yang belum saya ceraikan.” Kata-kata Angga, spontan membuat kedua orang tau Alena membelalakkan matanya, mereka sangat terkejut dengan pengakuan Alvin yang dinilai sangat berani itu. Mereka berdua saling berpandangan tanpa mengucapkan kata-kata sedikitpun. Sedangkan wajah Alena tampak ketakutan, berkali-kali ia menelan salivanya. Ia benar-benar merasa takut jika kedua orang tuanya akan hilang kendali, seperti apa yang telah dilakukan oleh Angga kepada Alvin kapan hari. “Ibu sama Bapak jangan marah dulu ya, biarkan Alvin selesai menjelaskannya dulu.” Kata Alena mencoba menenangkan kedua orang tuanya. “Sebelumnya saya mohon maaf kepada Bapak sama Ibu, saya sama sekali tidak berniat untuk mempermainkan Alena, tapi saya memang benar-benar sayang padanya dan ingin segera menikahinya. Untuk masalah istri saya, selama ini kami sudah tidak ada kecocokan sama sekali dan saya sudah berniat untuk menceraikannya. Hanya tinggal menunggu waktunya saja, dan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Alena.” Jelas Alvin pada kedua orang tua Alena. Namun sepertinya kedua orang tua Alena terlihat tidak puas dengan penjelasan laki-laki itu. “Maaf, Nak Alvin. Saya sebagi orang tua menginginkan apapun yang terbaik untuk anak saya. Kalaupun nantinya Alena menikah, saya ingin anak saya menikah dengan laki-laki single yang tidak terikat dengan pernikahan. Artinya kami tidak akan menyetujui pernikahan ini kalau Nak Alvin belum menyelesaikan urusan perceraian dengan istri Nak Alvin. Dari sini Saya harap Nak Alvin paham dengan maksud saya. Mulai sekarang saya minta tolong jaga jarak dengan anak saya, sebelum masalah sama istri Nak Alvin selesai.” Kata Pak Pramono dengan tegas dan lantang. Sudah sangat jelas sekali bahwa beliau tidak merestui hubungan Alvin dan Alena. Bahkan dengan tegas Pak Pramono menolak Alvin untuk menikahi Alena secara siri. Alvin menarik nafas panjang, ia sangat kecewa dengan jawaban Orang tua Alena, tampaknya ia sudah benar-benar tidak mendapatkan restu dari mereka. Sementara itu Alena tetap tidak terima dengan penolakan dari kedua orang tuanya, ia merasa harus memperjuangkan cintanya dan tidak mau hanya sampai disini saja. Ia akan mencoba mengatakan hal yang kemarin terbukti ampuh, saat ia ucapkan pada Angga kakaknya. “Tapi Pak, Bu, aku sayang sama Mas Alvin aku ingin nikah sama dia dan aku nggak mau kehilangan dia. Aku mohon sekali ini saja, Bapak sama Ibu sudi mengabulkan permintaan Alena.” Rengek Alena pada kedua orang tuanya, sembari ia duduk bersimpuh di bawah kaki kedua orang tuanya. Ia melakukan hal itu agar kedua orang tuanya merasa iba dan mengubah keputusannya. Namun ternyata ia salah, kedua orang tuanya tetap pada keputusannya semula, tidak akan menyetujui hubungan mereka berdua. “Maaf, Al. Bukannya ibu tidak mau memberikan restu padamu untuk menikah, tapi kami tidak mau melihat anak perempuan kami satu-satunya jatuh ke tangan orang yang salah. Kami harap kamu mengerti dengan keputusan Bapak sama Ibu. Ini semua demi kebaikanmu juga.” Jelas Ibunya kepada Alena. Keputusan orang tua Alena sudah bulat dan sepertinya tidak bisa diganggu gugat. Jadi mereka berdua memutuskan untuk mencari cara lain agar kedua orang tuanya dapat merestui hubungan mereka. Malam itu juga mereka memutuskan untuk kembali ke surabaya. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Alena, mereka berdua berangkat ke surabaya. Di dalam perjalan pulang wajah Alvin tampak terlihat sedih dan kecewa, begitu juga dengan Alena. Namun dalam hati kecilnya Alvin berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyerah dan akan terus berjuang demi mendapat restu dari kedua orang tua Alena, bagamanapun caranya. Setelah menempuh waktu dua jam perjalanan, akhirnya Alena dan Alvin telah sampai di surabaya, bahkan sudah sampai di depan kost Alena. Mereka turun dari mobil dan berdiri saling berhadapan. Alvin memegang kedua bahu Alena dan tatapan mata mereka saling bertabrakan. Semakin lama wajah mereka semakin dekat, hembusan nafas keduanya mulai terasa satu sama lain. Tangan Alvin perlahan mulai turun menyentuh pinggang Alena yang ramping. Gadis itu mulai merasakan getaran aneh dalam tubuhnya. Perlahan ia mulai memejamkan matanya dan tanpa terasa bibir mereka mulai bersentuhan, semakin lama semakin dalam. Tanpa mereka sadari seorang laki-laki yang sudah menunggu Alena di depan rumah kost sejak tadi, tiba-tiba menghampiri mereka dan melihat semuanya. Laki-laki itu adalah Angga, setelah ia mendapatkan telepon dari orang tuanya untuk memata-matai adiknya, ia pun langsung bergegas pergi ke kost Alena. Saat itu ia hanya bertemu dengan Vania, Ia mengatakan pada Angga, kalau Alena keluar entah dengan siapa dan sampai sekarang belum pulang. Rupanya sampai dengan hari ini Vania tidak tahu kalau Alena sudah balikan lagi dengan Alvin. Angga merasa khawatir karena Alena belum sampai di surabaya, oleh karena itu ia memutuskan untuk menunggunya di depan kost sampai ia datang. Saat Angga beranjak menuju ke jalan, untuk melihat apakah mobil Alvin sudah datang apa belum, ia malah terkejut karena melihat pemandangan yang diluar dugaan. Ia melihat Alvin dan Alena sedangn berci***n di depan mobil Alvin. Dengan emosi Angga pun berteriak memanggil nama Alena. “AL ...!” teriak Angga dengan keras, sehingga mengagetkan mereka berdua. Spontan Alvin melepaskan tangannya dipinggang Alena dan mereka mencoba bersikap setenang mungkin. Angga tetap berdiri di tempatnya semula, Ia menatap mata Alena dengan sorot matanya yang tajam dan menakutkan. “Ayo masuk, udah malam.” Ajak Angga yang tidak bisa dibantah lagi oleh Alena. Alvin mencoba menyapanya, dengan tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya. Namun respon Angga biasa aja. Alvin jadi salah tingkah sendiri akhirnya. “Aku masuk dulu ya, Vin. Kamu pulang aja udah malam dan makasih udah dianterin.” Kata Alena sembari tersenyum dan berlalu dari depan Alvin. Alvin tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Setelah melihat Alena masuk ke halaman kost bersama Angga, ia pun masuk ke dalam mobilnya dan kembali pulang kerumahnya. Alena kembali duduk di teras rumah bersama Angga. Mereka membicarakan perihal kedatangan Alena dan Alvin, ke kampung halaman mereka. Angga mengingatkan pada Alena untuk menjaga jarak dengan Alvin, sebelum masalah dengan istrinya selesai. Ia tidak mau Alena terkena masalah karena dekat dengan suami orang. “Bapak menyuruhku untuk jagain kamu baik-baik, beliau khawatir kamu akan melakukan hal yang nggak-nggak.” Jelas Alvin pada adiknya itu. “Mas, aku bukan anak kecil lagi, aku ini udah gede. Kenapa sih, kalian nggak mau mencoba ngertiin aku sedikit saja. Aku tau tentang kebahagiaanku sendiri, aku tau mana yang baik dan nggak baik buatku sendiri.” Jawab Alena dengan nada agak marah. “Iya, Mas tau kamu udah besar, tapi kami terlalu sayang sama kamu. kami nggak mau terjadi apa-apa denganmu. Kami ingin yang terbaik buatmu, Al.” “Oke, terserah kalian ajalah.” Sahut Alena seraya berdiri dari kursinya, masuk ke dalam rumah kemudian menutup pintu dengan keras. Alena terlihat begitu marah dengan semua kata-kata Angga. Tampaknya ia sudah tidak mau mendengarkan pendapat kakaknya lagi. Alena masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting tubuhnya di atas ranjang. Dadanya serasa sesak karena berusaha menahan emosinya, ia juga merasa sangat sedih dengan kata-kata yang di dengarnya dari Angga barusan. Ia merasa heran mengapa keluarganya terlalu ikut campur dengan kehidupannya, padahal ia sudah besar dan sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk buat dirinya sendiri. Kenapa hanya ingin bahagia saja ia merasa sangat susah. Harusnya mereka membebaskan dirinya untuk memilih kehidupannya sendiri, toh kalaupun ada apa-apa bukan mereka yang merasakan sakitnya, tapi ia sendiri yang merasakannya. Tiba-tiba air mata Alena mengalir di kedua pipinya, ia sudah tidak mampu menahan semua kesedihannya. Dalam hati kecilnya ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menyerah dengan keadaan, ia akan berusaha untuk memperjuangkan kebahagiaannya apapun yang terjadi. Ia akan berusaha sekuat tenanga untuk meyakinkan keluarganya, jika memang Alvin adalah laki-laki yang baik dan satu-satunya laki-laki yang sangat ia cintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN