Tiba-tiba Ervin tersadar dari lamunannya, saat Alena berulang kali memanggil namanya. Bagaimana bisa ia membayangkan sedang berciuman dengan Alena? pikirannya memang benar-benar sangat gila. Alena bertanya pada Ervin, apakah ia baik-baik saja? kenapa sampai berkali-kali di panggil, baru ada respon darinya. Mendadak wajah Ervin berubah menjadi memerah, karena malu dengan pikirannya sendiri. Ia terlihat gugup dan berungkali membetulkan posisi duduknya. Ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Alena. Ervin merasa heran, mengapa ia punya pikiran yang sekotor itu. Ia berusaha membuang jauh-jauh pikirannya. Jangankan untuk berciuman, bahkan untuk menyatakan perasaannya pada Alena saja ia tidak berani. Ervin berusaha menjelaskan pada Alena, kalau dirinya hanya kecapekan saja, dan butuh istirahat. Mendengar itu Alena menjadi khawatir dan menyuruh Ervin untuk mencuci mukanya terlebih dahulu, agar di perjalanan pulang nanti ia tidak mengantuk. Ervin menolak karena ia harus burur-buru pulang, takut Angga kesepian di rumah karena ia tidak ada. Di samping itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tidak baik berada di kostan seorang cewek di jam semalam ini. Alena hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata Ervin, tanpa bisa membantahnya sedikitpun. Ervin berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan pulang pada Alena.
Ervin mengendarai motornya memecah kesunyian jalanan kota surabaya. Beberapa saat kemudian ia pun sampai di rumah kontrakan Angga. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke kamarnya. Ia tidak melihat Angga di ruang tamu saat masuk tadi, mungkin sahabatnya itu sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa sadar, ia meraba bibirnya sendiri, meskipun itu hanya sekedar lamunannya saja, tapi baginya itu terasa nyata. Bau mint yang menyeruak, saat mereka berciuman masih teringat jelas di pikirannya. Andaikan itu kenyataan, mungkin sekarang ia sudah menjadi kekasih Alena. Sayangnya itu semua hanya sekedar impiannya. Sampai kapan ia harus menahan perasaannya pada Alena? sampai kapan ia menjadi seorang pengecut yang tidak berani mengungkapkan perasannya pada seorang wanita? Tapi memang kenyataannya seperti itu. Seumur hidup Ervin memang tidak pernah menyatakan perasaannya pada wanita, dan wanita satu-satunya ia sukai dengan setulus hatinya hanyalah Alena, karena Alena mempunyai kemiripan dengan almarhumah ibunya.
****
Sovia tiba-tiba tersadar dari tidurnya, Ia berkali-kali mengerjapkan matanya, kemudian mengedarkan padangannya ke seluruh ruangan. Ia melihat selang infus di tangan kirinya dan perban di tangan kanannya. Sungguh ia juga tidak mengerti, kenapa ia bisa melakukan perbuatan senekat itu. Saat Alvin pergi meninggalkan rumah malam itu, pikirannya sangat bingung. Berkali-kali ia menyalahkan dirinya karena telah berkata kasar pada Alvin. Ia mencoba menghubungi Alvin berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Ia bahkan sampai mengirim chat dan voice note, tapi Alvin tidak membacanya sama sekali. Air matanya tidak berhenti mengalir semalaman. Rasa sesal telah menyelimuti dirinya. Ia mencoba menghubungi Alvin terus menerus sampai beberapa kali panggilan, tapi ponsel Alvin malah di matikan. Ia mencoba bersabar, menunggu siapa tahu saat pagi tiba Alvin akan kembali ke rumah, nyatanya sampai hari sudah beranjak siang, Alvin tidak juga menampakkan batang hidungnya. Sovia sudah capek dan benar-benar putus asa, ia takut Alvin benar-benar pergi meninggalkan dirinya. Sampai pada akhirnya ia mempunyai pikiran gila untuk mengakhiri hidupnya. Awalnya ia sempat ragu dan mengurungkan niatnya. Tapi entah s*t*n darimana yang merasuki pikirannya sehingga ia nekat mengambil sebuah pisau buah di dapur. Akhirnya yang seharusnya tidak terjadi terjadilah. Melihat genangan d4r4h di lantai, ia pun tiba-tiba tak sadarkan diri. Sampai beberapa saat kemudian Alvin datang dan membawanya ke rumah sakit.
Ervin yang mengetahui istrinya sudah sadar, buru-buru menuju ke kamar Sovia. Kamar Sovia adalah kamar VIP dan letaknya agak jauh dari pintu masuk rumah sakit. Kamar VIP hanya untuk satu orang pasien, jadi jika ia meninggalkan Sovia sendirian, wanita itu pasti akan merasa kesepian. Tadi saat Sovia belum sadar, ia meninggalkannya untuk mencari makan sebentar. Namun belum lama ia tinggal, salah seorang perawat menghubunginya, mengabarkan kalau istrinya itu sudah siuman. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena istrinya masih diberikan keselamatan. Setelah sampai, ia masuk ke dalam kamar, dan melihat istrinya sedang terbaring di atas ranjang. Alvin tersenyum sembari menghampiri istrinya. Ia membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang, dan memberikan satu kecupan di keningnya. Sovia tersenyum bahagia melihat perlakuan Alvin padanya. Ia merasa Alvin sudah melupakan kemarahannya pada Sovia. Alvin duduk di samping ranjang istrinya itu, kebetulan ada satu kursi yang sudah disiapkan di sana.
“Maafkan aku ya, sayang.” Ucap Alvin dengan suara yang parau.
“Iya, Sayang. Aku juga minta maap sama kamu, atas sikapku yang kurang ajar malam itu.” Jawab Sovia lirih. Wajahnya penuh dengan penyesalan yang mendalam.
“Iya aku udah memaafkanmu, dan sebaiknya kita sama-sama melupakan masalah kemarin ya.” Pinta Alvin.
“Iya Sayang.” Sahut Sovia. Sekali lagi Alvin mencium kening Sovia dengan penuh kehangatan. Sovia benar-benar merasakan kasih sayang dan perhatian dari Alvin saat itu, ia berharap suaminya itu akan terus bersikap baik padanya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Alvin bangun dari tempat duduknya dan bergegas membuka pintu. Ternyata ada seorang perawat yang mengantarkan makan malam untuk Sovia. Perawat itu meletakkan makanan di meja. Ada sepiring nasi, lauk, sayur, buah dan segelas teh manis hangat. Setelah perawat pergi dari kamar, Alvin menawari Sovia untuk makan malam dan dia mengangguk. Ia sudah merasa kelaparan karena dari semalam tak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Alvin membantu Sovia untuk duduk diranjangnya. Namun Sovia bingung bagaimana ia harus memakan makanan itu kalau kedua tangannya sedang tidak bisa digunakan. Tanpa di sangka Alvin sudah tanggap dengan keadaan Sovia. Ia mulai menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulut istrinya. Sovia tersenyum melihat Alvin yang sekarang sangat perhatian padanya, hatinya mulai menghangat. Sepertinya Alvin memang sudah bisa meredam emosinya yang kemarin sempat menguasai hatinya, sekarang perlakuan Alvin pada istrinya lebih lembut dan penuh kehangatan. Alvin sangat telaten menyuapi Sovia, sampai pada akhirnya makanan itu habis tak tersisa. Hari ini Sovia merasa diberikan perhatian yang besar oleh Alvin. Ia merasa sangat bahagia. Ia bahkan berfikir, tidak sia-sia ia melakukan hal yang tidak baik itu, kalau akan berakhir dengan seperti ini. Alvin berkali-kali meminta maaf pada Sovia. Ia berjanji akan berusaha untuk lebih bisa meredam emosinya.
****
Hari demi hari berlalu, rumah tangga Alvin dan Sovia berlangsung dengan damai dan bahagia. Alvin selalu menuruti kemauan Sovia. Bahkan sekarang ia tidak pernah berkata-kata kasar pada istrinya itu. Ia berusaha menjadi suami yang terbaik versi dirinya sendiri. Sebaliknya, Sovia juga berusaha menjadi istri yang baik buat Alvin. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan baik, bahkan ia sampai resign dari pekerjaannya, karena ingin fokus melayani Alvin sebagai suaminya. Alvin semakin sayang pada Sovia sampai hal yang terkecil, yang Sovia minta selalu diturutinya.
Semakin lama, Sovia yang mengetahui suaminya bersikap sangat baik padanya, sikapnya mendadak berubah. Ia menjadi kurang ajar pada Alvin. Setiap hari ia tidak pernah menyiapkan makanan buat Alvin, seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan baju-baju di lemari jarang ia tata sehingga terlihat sangat berantakan. Rumah jarang ia sapu dan ia bersihkan seperti biasanya. Sovia berubah menjadi seorang wanita yang pemalas. Ia malah lebih sering menghabiskan waktu dengan ponselnya, daripada perhatian dengan Alvin. Saat Alvin pulang kerja pun, ia tidak pernah menyambut dan perhatian seperti biasanya. Setiap hari kerjaannya hanya menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan pulang larut malam. Awalnya Alvin baik-baik saja, ia tidak merasa keberatan dengan kelakuan istrinya itu. Ia masih berpikiran positif, mungkin semenjak menikah dengan dirinya dan Sovia tidak bekerja lagi, ia menjadi bosan tinggal di rumah terus dan butuh hiburan. Alvin hanya mengingatkan untuk lebih sedikit perhatian pada suaminya. Namun Sovia tidak terima dengan kata-kata Alvin, dan marah-marah. Kata-kata kasar pun mulai keluar dari bibirnya. Ia mengatakan kalau dirinya bukan seorang pembantu. Ia tidak harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti pembantu. Kalau ingin rumah terlihat bersih dan terawat, maka sewa aja seorang pembantu rumah tangga. Kali ini pun Alvin menuruti kemauan istrinya, dengan merekrut seorang pembantu rumah tangga, dengan tujuan untuk membantu meringankan pekerjaan Sovia. Alhasil bukan malah meringankan pekerjaan, justru semenjak adanya pembantu rumah tangga itu, kelakuan Sovia malah semakin menjadi-jadi.
Puncaknya, saat itu Sovia pulang larut malam dengan keadaan mabuk berat dan diantar oleh teman laki-lakinya ke rumah. Alvin yang mengetahui hal itu menjadi sangat emosi dan marah padanya. Emosinya menjadi tak terkontrol, ia merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Harga dirinya merasa diinjak-injak sebagi seorang laki-laki. Akhirnya ia meluapkan emosinya dengan memukul Sovia. Ia seperti di rasuki oleh setan, memukuli Sovia dengan membabi buta sampai istrinya itu tersungkur di lantai. Alvin benar-benar telah dikuasai oleh emosinya. Ia seperti kehilangan kesadaran sampai membuat Sovia terluka dan menangis. Akibat pukulan Alvin yang terlalu keras membuat pipi Sovia memerah dan beberapa bagian tubuhnya sampai membiru. Tak berhenti sampai di situ saja, Alvin juga mengahncurkan ponsel Sovia, agar ia tidak bisa bermain HP dan menjauhi teman-temannya itu. Sovia menangis sejadi-jadinya, ia terkejut dengan perubahan sikap Alvin yang seperti itu padanya. Merasa keselamatannya sedang terancam, ia memohon-mohon pada Alvin agar memafkan kesalahannya. Alvin yang sudah muak dengan kelakuan istrinya itu akhirnya kembali meninggalkan rumah. Ia terpaksa menyewa sebuah rumah kost untuk menenangkan diri untuk sementara waktu.