13 Kesalahan Kedua 13

1826 Kata
“Gimana? Udah dapat semua infonya?” tanya seorang gadis pada seorang laki-laki yang kira-kira berumur 30 tahunan. Mereka duduk berhadapan di sebuah cafe di pusat kota. Saat bersiap-siap akan tidur, Sovia di kejutkan oleh suara telepon dari seseorang laki-laki. Ternyata ia adalah orang yang ia suruh untuk memata-matai Alvin. Laki-laki tersebut mengajak bertemu di sebuah cafe, karena penasaran akhirnya Sovia menyetujui ajakan itu. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sekarang ia sudah berada di cafe itu bersama dengan laki-laki suruhannya. “Udah, Mbak. Cek saja semua data-datanya udah ada di dalam amplop itu.” Kata laki-laki itu sambil menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Sovia menerima amplop itu dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa foto, salah satunya ada foto sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan bergandengan di sebuah pusat perbelanjaan. Di foto lain ada seorang gadis cantik berambut panjang dengan kulit seputih susunya dengan posisi keluar dari sebuah kantor. Sovia sangat familiar dengan gadis di foto-foto itu, ia merasa pernah melihatnya tapi di mana? ia mencoba mengingat-ingatnya tapi ia benar-benar sudah lupa. “Siapa gadis ini?” tanya Sovia. “Gadis yang ada di foto-foto ini adalah pacar Alvin, mbak.” Laki-laki itu menunjuk foto gadis berambut panjang itu yang tidak lain adalah foto Alena. “Mereka satu kantor?” tanya Sovia penasaran. “Iya mereka satu kantor. Namanya Alena.” Jawab laki-laki itu. “Cantik juga gadis ini. Pantas aja Alvin tidak menolehku sama sekali, ternyata dia sudah pacar sekarang.” Kata Sovia dalam hati. Ternyata apa yang ditakutkannya selama ini memang benar. Sekarang ia sudah tahu alasan kenapa Alvin tidak pernah memperdulikannnya sama sekali. “Oke, terimakasih infonya. Ntar siang aku transfer ya!” kata Sovia sembari mengambil amplop coklat di atas meja dan memasukkan ke dalam tasnya. “Iya mbak, makasih. Aku pulang dulu!” pamit laki-laki itu kemudian ia beranjak pergi dari hadapan Sovia. “Tunggu aja Alvin, jangan sebut namaku Sovia kalau aku nggak bisa membuatmu kembali ke pelukanku lagi.” Gumam Sovia lirih sembari tersenyum sinis. *** Pagi ini, Alena dan Sovia berangkat kerja dari rumah kontrakan Angga. Setelah membuatkan sarapan untuk kakaknya itu, ia pergi ke kantor berboncengan motor dengan Sovia. Jalanan kota surabaya pagi ini sangat padat. Debu dan asap dari kendaraan bermotor memenuhi jalanan yang ramai itu. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi mereka berdua masih terjebak di dalam kemacetan di jalan raya. Vania berkali-kali menyalip kendaraann di depannya tapi tetap saja, ia tidak bisa keluar dari kemacetan itu. Setelah bersusah payah dan berusaha selama empat puluh lima menit di jalan, akhirnya mereka pun sampai di kantor. Mereka naik lift ke lantai enam dan masuk ke dalam kantor. Untung saja saat itu breafing pagi baru saja di mulai, jadi mereka masih belum terlambat. Setelah acara breafing pagi selesai semua karyawan kembali ke tempat duduknya masing-masing, begitu juga dengan Alena dan Vania. Mereka mulai mengerjakan tumpukan map aplikasi konsumen yang mulai menggunung, sesuai dengan urutan masing-masing. Siang ini mereka berdua tidak makan siang keluar kantor tapi lebih memilih menyuruh Ipung untuk membelikan nasi padang seperti biasanya. Setelah pesanan sudah datang keduanya menuju pantry untuk menikmati makan siang. “Pung, sekalian aja kamu makan siang di sini, tadi kan kita pesen 3 bungkus, yang satunya buat kamu!” suruh Alena. “Waduh tenan to iki mbak?” tanya Ipung dengan wajah sumringah. “Iya seriusan, makan sana!” suruh Alena. “Matur tingkyu yo mbak!” jawab Ipung dengan cengengesan. “Eum ... Keminggris, dah makan sana!” sahut Vania sembari tersenyum melihat tingkah laku OBnya itu. Ipung yang mendapatkan rezeki satu bungkus nasi padang senang sekali, karena kebetulan ia juga belum makan siang hari ini. Saat sedang lahapnya menikmati makan siang, HP Alena berbunyi. Ia mengambil hp yang ada di atas meja di depannya. Ternyata Alvin yang menelponnya. Ia mengangkat telepon dari Alvin dengan tangan kirinya. “Hallo, iya Vin.” Jawab Alena. “Al, nanti pulang kerja tungguin aku di kostan ya! Aku mau ngajak kamu keluar!” ujar Alvin di seberang sana. “Oke, Vin.” Jawab Alena. “Kamu lagi makan ya?” “Kok tau sih?” Jawab Alena sambil menguyah makanannya. “Pasti lagi makan nasi padang, bener kan?” “Kamu pindah profesi jadi dukun aja deh. Jangan jadi marketing nggak cocok!” ucap Alena. “Ha ... Ha ... Ha ....” Terdengar tawa Alvin di seberang sana. “Dih malah ketawa.” “Ya udah kamu terusin makannya dulu, aku masih ada kerjaan!” suruh Alvin pada Alena. “Siap Bos!” jawab Alena sembari mematikan teleponnya. Ia menoleh ke arah Vania dan sahabatnya itu sudah cengengesan mendengarkan percakapan mereka berdua. “Ceritanya kita jadi obat nyamuk nih, Pung!” goda Vania sembari melirik ke arah Ipung. Sedangkan orang yang diajak berbicara diam saja. Tampaknya ia sedang sibuk dengan makanannya tanpa menghiraukan alam sekitarnya. Vania yang merasa dicuekin oleh Ipung wajahnya berubah masam dan mulai melanjutkan makannya. “Ha ... Ha ... Ha ...Kayaknya kamu salah ngajak lawan bicara, Van!” ujar Alena sambil menatap ke arah ipung yang duduk bersebrangan dengan mereka berdua. Ipung yang baru menyadari kalau dirinya yang jadi topik pembicaraan mereka, langsung melihat kearah keduanyaa dengan muka melongo. “Hah? mbak Vania ngajak aku ngomong to?” kata Ipung dengan wajah tanpa rasa bersalah. “Percuma, udah ketinggalan kereta. Udah sampek stasiun gambir keretanya.” Jawab Vania dengan muka kesal. Sementara Alena tidak berhenti tertawa melihat wajah sahabatnya yang menahan emosi itu. “Astaga, Van. Aku jadi ketawa terus ini. Ha ... Ha ... Ha ...!” “Ono opo to mbak? Aku nggak denger tadi?” tanya Ipung melihat ke arah Vania, dengan wajah memelas sembari mulutnya penuh dengan makanan. “Udah lupa, dah terusin aja makanmu. Kamu juga, Al, jangan ketawa terus ntar keselek!” kata Vania dengan wajah kesal. “Yo wislah mbak.” sahut Ipung pasrah. “Udah jangan emosi, Van. Nanti kamu cepet tua loh kalau marah-marah terus.” “Biarinlah emang aku udah tua, nggak laku juga. Tiap malam merana ditinggal pacaran terus.” Ujar Vania dengan wajah dibuat semelas mungkin, untuk melihat ekspresi wajah sahabatnya itu. Namun Alena tidak menaruh simpati pada Vania, malah gelak tawanya semakin kencang. “Udah belum galaunya? tak doain kamu cepet punya pacar ya. Amin.” “Amin, semoga akan didatangkan orang yang tepat, di waktu yang tepat juga.” Ujar Vania dengan gayanya yang sok puitis. “Nah gitu dong, itu baru Vania namanya.” Sembari menepuk bahu Vania. “Al, uang seratus ribu ini uangnya siapa ya?” teriak Vania. “Di mana ada uang seratus ribu, mbak?” sahut Ipung langsung bangun dari tempat duduknya dan melihat ke arah Vania. “Giliran bahas uang aja, telinganya langsung denger.” Kata Vania sambil tertawa lebar. “Ha ... Ha ... Ha...!” tawa Alena langsung pecah mendengar celotehan dua orang di sebelahnya itu. “Bohong dosa loh, Mbak!” sahut Ipung dengan wajahnya yang merah menahan malu, karena sudah berhasi masuk ke perangkap Vania. “Bodo amat, Pung! Yuk balik, Al!” ujar Vania sembari bangun dari tempat duduknya diikuti oleh Alena di belakangnya. *** Sore hari sepulang kerja, Alena sibuk berdandan agar kelihatan cantik di depan Alvin. Maklumlah, karena tiga hari ini mereka tidak pernah keluar bareng jadi Alena ingin memberikan penampilan terbaiknya. Malam ini Alena sengaja memakai dress warna merah menyala yang tampak kelihatan kontras dengan kulitnya yang seputih s**u itu. Dress dengan model yang simple dan panjang selutut itu, ia padu padankan dengan sepatu heels warna hitam. Rambut panjangnya yang biasanya lurus dibuat model curly yang membuat penampilannya malam ini semakin terlihat sempurna. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Alvin pun tiba. Alena berpamitan dengan Vania dan menuju ke pintu gerbang kost. Alvin keluar dari mobil dan terkagum-kagum dengan penampilan kekasihnya itu. “Very beautiful.” Gumam Alvin sembari menatap Alena tanpa berkedip. “Makasih, Vin!” sahut Alena dengan tersenyum tipis. Alvin menganggukkan kepalanya kemudian membukakan pintu mobil. Alena masuk dan duduk di sebelah kursi pengemudi dan tidak lupa memakai safety bealt nya. Alvin melajukan mobilnya, di dalam mobil ia tidak berhenti melirik Alena. Perlahan tangan kirinya meraih tangan Alena dan di ciumnya tangan itu dengan penuh perasaan. Alena memandang ke arah Alvin dan mata mereka saling bertabrakan. Sorot mata penuh ketulusan itulah yang selalu Alena rindukan. Terlihat Alvin benar-benar sangat menyanyangi Alena, begitupun juga dengan Alena. Setelah menempuh pejalanan selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang sederhana dan di kelilingi oleh pagar berwarna putih. Di depan rumah itu, di tumbuhi oleh dedaunan dengan bunga-bunga yang sangat indah. Alena menoleh ke arah Alvin, ia membutuhkan penjelasan. Sebenarnya rumah siapakah ini? dan kenapa bisa ia dibawa kerumah ini. Alvin hanya tersenyum melihat kebingungan Alena. Ia turun dan membukakan pintu mobil untuk Alena. “Ayo masuklah!” ajak Alvin sembari membuka pintu gerbang rumah tersebut. Sejenak Alena diam membeku di depan pagar, matanya tidak lepas dari pemandangan indah di depan rumah itu. Alvin membuka pintu rumah itu dan mereka berdua masuk ke dalam. Alvin kembali menutup pintunya. “Sebenarnya ini rumah siapa, Vin?” Alena bertanya pada Alvin karena dari tadi ia sangat penasaran dengan rumah itu. “Ini rumahku, hasil kerja kerasku selama ini. Tiap hari aku pulang ke sini, karena rumah orang tuaku jaraknya terlalu jauh dari kantor.” Jelas Alvin sembari mengunci pintu depan rumahnya. Memang Alvin adalah pacaranya, tapi dirinya sadar kalau selama ini ia belum mengetahui semua tentang kehidupan Alvin. Bahkan selama ini Alvin sudah punya rumah sendiri pun, Alena tidak mengetahuinya. “Eh kok malah cuma diem berdiri di situ? ayo duduk di sini dulu! aku mau ambilin kamu minum sebentar.” “Nggak usah repot-repot, vin.” “Kamu nggak usah sungkan, Al. Anggep aja ini rumahmu sendiri.” “Alvin kemudin pergi ke belakang untuk mengambil minuman dingin, dan kemudian memberikannya pada Alena. Ia meminum minuman itu, setelah itu ia letakkan kembali di meja. Alvin duduk di sebelah Alena. Ia mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Alena. Perlahan kedua tangannya meraih tangan Alena. Diciumnya punggung tangan Alena dengan penuh perasaan. Alena hanya bisa diam merasakan hangatnya sentuhan bibir, laki-laki yang sangat dicintainya itu. “Kamu sangat cantik hari ini, nggak ada bosen-bosennya aku mengatakan hal itu padamu.” Gumam Alvin lirih sembari merapikan anak rambut di dahi Alena. “Terima kasih, Vin.” Jawab Alena malu-malu dan beberapa kali ia mencoba menghindar dari tatapan Alvin. “Kalau lagi berdua gini, rasanya aku nggak mau pisah sama kamu, Al. Aku ingin bersama-sama denganmu seumur hidupku.” Kata Alvin dengan tatapan mata yang begitu tulus. “Benar kah itu?” “Iya, Al. Aku serius sama kamu. Aku mau kamu jadi pendamping hidupku untuk selamanya.” Ucap Alvin lirih sembari mencium punggung tangan Alena. “Iya aku percaya, Vin. Semoga semuanya bisa terwujud. Amin.” Jawab Alena dengan tersenyum. “Amin.” Alvin menggeser posisi duduknya semakin mendekat dengan Alena. Tanpa sadar jarak tubuh mereka semakin dekat, sampai keduanya merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN