25 Kesalahan Kedua 25

1622 Kata
Alena jatuh terkulai di lantai. HPnya masih terus berdering tanpa bisa melihat siapa yang meneleponnya saat itu. Ia mencoba berdiri dengan memegang salah satu gagang tempat tidurnya. Entah kenapa ia merasa tubuhnya sangat lemah, bahkan untuk berdiri dengan dua kakinya saja ia tidak sanggup. Setelah bersusah payah untuk berdiri akhirnya ia berhasil juga. Ia duduk di tepi tempat tidurnya dan mengambil HPnya melihat siapa yang menelponnya dari tadi. Ia melihat layar HPnya ada empat panggilan tak terjawab dari Angga kakaknya. Ia menarik nafas berat kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Selama ini kakaknya tidak tahu menahu tentang apa yang dialami oleh Alena. Bahkan ia sukses menyembunyikan hubungannya dengan Alvin selama ini. Angga selalu menganggap kalau Alena tidak punya pacar sampai sekarang. Alena juga tidak ada keinginan sedikitpun untuk bercerita kepada Angga, tentang masalah yang selama ini terjadi padanya. Ia takut jika ia bercerita pada Angga, masalah akan semakin melebar kemana-mana. Selain itu ia juga takut Angga akan pergi menemui Alvin, karena ia tahu sifat kakaknya itu. Ia tidak ingin ada hal yang buruk terjadi pada kakaknya. Oleh sebab itu lebih baik ia diam dan berpura baik-baik saja di depan Angga. Kali ini Alena juga akan bersandiwara seperti biasanya. Alena memencet tombol panggilan keluar pada layar Hpnya, kemudian ia menekan nomer Angga. Beberapa saat kemudian panggilan tersambung. Angga terdengar mengangkat telepon adiknya itu dari seberang sana. “Hallo, Mas.” Sapa Alena. “Hallo, Al. Kamu lama banget jawabnya? Masih tidur ya? udah jam berapa ini kok masih tidur kamu? bolos kerja apa gimana?” seperti biasa Angga memberondong adinya dnegan pertanyaan yang tidak ada titik komanya. “Satu-satu dong, Mas, nanyanya.” “Tinggal jawab aja susah banget.” “Aku kerja kok.” Jawab Alena singkat dan terpaksa ia harus berbohong lagi pada kakaknya itu. “Suaramu kok nggak seperti biasanya? kamu nggak apa-apa kan, Al?” tanya Angga diseberang sana dengan suara yang terdengar khawatir. “Aku nggak apa-apa, Mas.” “Bener ya?” “Iya, Mas.” “Oh ya ... Mas ada dinas ke luar kota, jadi belum bisa main ke kostan kamu. Nah ... kebetulan ini ada Ervin di rumah, biar nanti dia yang aku suruh jenguk kamu di kostan ya!” “Loh kapan Mas ervin datang, Mas?” “Kemarin siang, Al. Ya udah, Mas mau berangkat kerja dulu. Kamu hati-hati dirumah. Mungkin nanti malam Ervin akan ke kostan mu, tolong bersikap yang baik ya.” “Ta ... Tapi, Mas ....” Belum selesai Alena melanjutkan kata-katanya Alvin sudah menutup telepon duluan. Kenapa ia bisa lupa tidak menolak waktu Angga bilang, Ervin akan datang ke tempatnya. Kalau Ervin datang ke kostannya, kebohongan Alena bisa terbongkar. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai Angga tahu, selama ini ia dibohongi oleh adiknya sendiri, akan semarah apa kakaknya itu padanya. Ia memutar otak mencari jalan keluar yang terbaik agar Ervin tidak jadi datang ke kostannya, tapi apa? ia mulai bingung. Ia menaruh HPnya di nakas, dan kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pusing memikirkan akan memberikan alasan apa pada Ervin nanti, akhirnya Alenapun tertidur juga. **** Sepulang kerja, Vania melihat ke kamar Alena. Saat ia membuka pintu kamar kebetulan pintu kamarnya tidak dikunci. Vania masuk ke dalam kamar Alena dan memencet saklar lampu yang berada di dinding kamar. Setelah lampu menyala ia melihat ke arah ranjang Alena. Terlihat Alena terbangun karena lampunya dinyalakan oleh Vania. Ia mengucek-ngucek matanya, melihat ke arah Vania yang berdiri di tepi ranjangnya. Vania menghampiri sahabatnya itu. “Al, kamu udah baikan?” Tanya Vania dengan wajah khawatir. “Lumayan, Van. Makasih ya buat perhatian kamu selama ini.” “Halah, ngomong apa kamu tuh. Kamu sahabatku sudah sewajarnya aku merawatmu dan menjagamu saat kamu sakit.” “Iya, Van. Entah apa jadinya aku kalau tidak ada kamu.” “Sekarang pokoknya kamu harus semangat, kamu harus sehat dan kembali seperti Alena yang dulu lagi. Aku akan selalu nemenin kamu.” “Iya, Makasih ya, Van.” “Sama-sama, Al.” Alena menggenggam kedua tangan sahabatnya itu untuk menyampaikan rasa terimakasihnya. Sedangkan Vania tersenyum ke arahnya sembari menepuk-nepuk tangan Alena. “Van, dibawah ada tamu nyari Alena.” Terdengar suara teriakan dari lantai bawah suara anak-anak kost yang lain. Mereka memberitahukan kalau ada tamu yang sedang mencari Alena. Alena tersentak kaget mendengar teriakan gadis itu. Ia langsung berpikir bahwa yang dateng ke kostannya adalah Ervin. Alena bingung harus berbuat apa, ia tidak mau Ervin mengetahui kondisinya sekarang. “Kamu kenapa, Al? emang siapa tamu yang di depan itu?” tanya Vania dengan keheranan. “Kamu masih inget sama Mas Ervin nggak, Van?” “Mas Ervin yang dulu pernah jalan-jalan bertiga sama kita?” “Iya bener.” “Maksudmu yang ada dibawah itu Mas Ervin?” “Iya, itu Mas Ervin, Van. Aku harus gimana? aku nggak mau dia tau keadaanku dan nanti cerita sama Mas Angga.” “Tapi sampai kapan kamu nutupin keadaanmu ini dari Mas Angga, Al? kamu harus bisa melawan semua rasa sakit di hati kamu. Kamu harus move on. Kamu pasti bisa.” Vania tak berhenti memberikan dorongan semangat pada Alena, tapi Alena hanya menanggapinya dengan diam. Kata-kata Vania memang benar, sampai kapan ia akan menutupi keadaanya pada Angga, toh suatu saat pasti semua itu akan terbongkar juga. Tinggal menunggu waktunya saja. Sepertinya Alena memang masih belum bisa keluar dari bayang-bayang Alvin. Sangat susah untuk menghapus nama Alvin dari pikirannya, yah mungkin bagi Alena kenyataan itu terlalu sakit sampai bekas sakitnya pun masih terasa sampai sekarang. Butuh waktu berapa lama, bahkan ia sendiripun tidak tahu jawabannya. “Biar aku suruh Mas Ervin masuk ke kamarmu ya, biar sekarang dia tau keadaanmu yang sebenarnya. Mungkin saja kamu bisa cerita pada Mas Ervin tentang keadaanmu selama ini. Siapa tau aja dia punya solusi dan bisa bantu kamu buat keluar dari keadaaan ini.” Saran Vania pada Alena. Namun Alena masih tetap diam, ia mendengarkan semua yang sudah dikatakan oleh Vania, tapi ia tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Lama tidak mendapatkan jawaban dari Alena, akhirnya Vania memutuskan untuk memberitahukan keadaan Alena pada Ervin. Ia bangun dari tempat duduknya dan keluar dari kamar, meninggalkan Alena yang masih kebingungan harus bagaimana saat bertemu dengan Ervin nanti. Sementara itu Vania sudah keluar menemui Ervin, ia mempersilahkan Ervin untuk duduk di ruang tamu. Sebenarnya di dalam kostan itu bebas, siapa saja bisa keluar masuk ke kamar. Akan tetapi Vania merasa tidak enak dengan penghuni lainnya kalau membawa laki-laki masuk ke dalam kamar, makanya ia mempersilahkan Ervin untuk duduk dan mengobrol di ruang tamu. “Silahkan duduk Mas Ervin!” ucap Vania mempersilahkan Ervin duduk di salah satu sofa di ruang tamu, karena dari tadi ia disuruh duduk tidak mau dan tetap saja berdiri. “Makasih ya. Eh, kamu ....?” “Kenalin Mas, aku Vania teman Alena yang kapan hari keluar bertiga, masih inget kan?” kata Vania memperkenalkan diri pada Ervin, karena sepertinya Ervin lupa pada dirinya. “Oh iya aku inget, apa kabar, Van?” tanya Ervin sembari tersenyum padanya. “Baik, Mas. “ “Syukurlah kalau gitu. Oh iya, Van. Alena kemana? kok nggak keluar-keluar dari tadi?” tanya Ervin penasaran karena dari tadi ia tidak melihat Alena keluar untuk menemuinya. “Em sebenarnya ceritanya panjang, Mas. Sebenernya aku mau cerita apa yang telah terjadi pada Alena sekarang. Tapi aku harap Mas Ervin mau berjanji padaku lebih dulu, untuk nggak cerita sma Mas Angga.” Jawab Vania dengan ragu-ragu sembari menatap wajah Ervin yang duduk di kursi di depannya. Ervin mengerutkan dahinya, kenapa ia tidak boleh menceritakan masalah ini pada Angga? memang ada masalah apa? ia semakin penasaran dengan cerita Vania. Ervin menganggukkan kepalanya dengan yakin, karena memang ia tidak akan menceritakan apapun pada Angga jika memang Vania keberatan. Vania menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Alena kepada Ervin, dari mulai hubungan Alena dengan Alvin yang disembunyikan dari kakaknya itu. Sampai saat Alvin mengakhiri hubungannya dengan Alena secara sepihak hanya karena ia akan menikahi gadis lain. Vania juga menceritakaan keadaan Alena setelah putus dari Alvin. Keadaan fisik dan mentalnya yang teramat sangat terpuruk saat ini. Ervin mendengarkan cerita Vania dengan seksama, entah kenapa mendengar Alena pernah menjalin hubungan dnegan laki-laki lain, hati Ervin terasa sakit. Apalagi saat mendengar ia telah dicampakkan oleh Alvin dengan begitu kejam, rasanya ia ikut geram dan ingin bertemu dan menghajar orang yang beranama Alvin itu. Ervin menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia tidak menyangka sama sekali kalau selama ini Alena sudah punya kekasih. Akan tetapi itu tidak penting baginya sekarang, yang terpenting adalah bagaimana caranya ia mengembalikan kepercayaan diri Alena dan membuatnya bisa move on dari Alvin. Semua itu memang tidak mudah, butuh perjuangan dan membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi ia yakin kalau ia pasti bisa membuat Alena keluar dari keterpurukannya. Inilah saatnya ia masuk ke dalam kehidupan Alena untuk memberikan support dan dorongan hidup untuknya. Bukan karena ia ingin memanfaatkan kesempatan yang ada, tapi karena ia benar-benar perduli pada Alena. Ia ikut merasakan bagaimana sakitnya hati Alena di perlakukan seperti itu oleh mantan kekasihnya. “Terus sekarang Alena ada di mana, Van?” tanya Ervin penasaran. “Iya ada di kamar, Mas. Kalau Mas Ervin mau nemuin dia, mari aku antar.” Ajak Vania. “Boleh, kalau kamu tidak keberatan.” “Iya nggak apa-apa,Mas.” Jawab Vania sembari berdiri dari sofa tempatnya duduk dan berjalan menuju ke tangga yang terhubung dengan lantai dua rumah itu. Sedangkan Ervin mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di depan kamar Alena, Ervin diminta untuk menunggu di depan pintu kamar terlebih dahulu. Vania masuk ke dalam kamar Alena. Ia menghampiri Alena yang saat itu tengah terbaring di atas ranjangnya. “Al, di luar ada Mas Ervin. Maapkan aku ya Al, aku terpaksa menceritakan semua padanya” Ucap Vania lirih. Alena terkejut dan menatap Vania dengan tatapan penuh amarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN