“Assalamualaikum,” ucap Kayla ceria saat masuk ke rumahnya. Senyum lebar tergambar di bibirnya, sesuatu yang sudah lama tak terlihat sejak kejadian beberapa waktu lalu.
“Ceria amat anak ibu,” sahut Bu Ami sambil tersenyum hangat, sedikit heran tapi juga ikut senang melihat anaknya bahagia.
“Kayla udah kerja lagi, Bu!” seru Kayla sambil lompat-lompat kecil, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru dikasih hadiah.
“Alhamdulillah! Di mana, nak?” tanya Bu Ami antusias.
“Di hotel bintang lima, Bu,” jawab Kayla sambil tersenyum lebar, pipinya memerah karena bahagia.
“Alhamdulillah, yang betah ya, nak.” Bu Ami langsung memeluk Kayla erat, seolah memeluk semua perjuangan dan air mata yang sempat menenggelamkan anaknya.
“Iya, Bu,” jawab Kayla lembut, suaranya bergetar karena haru.
“Heboh banget,” ucap Arka yang baru turun dari kamar dengan wajah setengah ngantuk.
“Biarin weee!” sahut Kayla dengan gaya manja sebelum berlari masuk ke kamarnya.
Ia bergegas mandi karena gerah. Setelahnya, Kayla duduk di meja makan bersama Arka dan ibunya. Suasana rumah yang dulu terasa berat kini kembali hangat. Tawa mereka pecah saat Arka melontarkan candaan receh yang entah kenapa selalu berhasil membuat Kayla tertawa sampai terpingkal.
“Udah, udah. Nanti tersedak,” ucap Bu Ami sambil terkekeh kecil, lalu bangkit untuk membereskan meja.
“Lo kapan nikah?” tanya Arka tiba-tiba dengan nada jahil.
Kayla spontan memelototinya. “Sialan! Pacar juga nggak punya, ditanya nikah!”
“Si Robi bukannya mau nikahin lo?” tanya Arka santai.
Kayla langsung terdiam. Senyumnya hilang. Sakit yang sempat reda kini kembali menyeruak dari dalam d**a. Ia tak menjawab, hanya berdiri dan langsung pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar, Kayla menatap layar ponselnya. Ada pesan dari Robi.
Pesan panjang yang menjelaskan semuanya — bahwa Robi diatur oleh Laras agar Kayla bisa bebas.
Air mata menetes tanpa bisa ditahan. Jemarinya gemetar saat mulai mengetik.
Kayla: Biii.
Tak butuh waktu lama, balasan datang.
Robi: Kay... akhirnya lo balas chat gue.
Kayla: Gue kangen, Bi.
Robi: Gue juga, Kay. Nanti pas reuni kita ketemu, ya.
Kayla: Lo pulang?
Robi: Iya.
Kayla: Motor lo masih di rumah gue.
Robi: Pake aja kalo butuh.
Kayla: Gue udah kerja, Bi.
Robi: Di mana?
Kayla: Di hotel.
Robi: Semangat ya, Kay.
Kayla: Iya.
Robi: Boleh nelpon?
Kayla: Hmm...
Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering. Kayla mengangkat.
Suara Robi terdengar lembut di seberang. “Kok nangis?”
Kayla tersenyum tipis sambil menahan isak. “Gue kangen lo, Bi.”
“Maaf ya,” ucap Robi lirih.
“Lo nggak salah, Bi. Cewek Dajjal itu yang gila,” balas Kayla dengan nada kesal, tapi suaranya masih bergetar.
“Kalo dia udah sembuh, gue pulang. Nikahin lo,” ucap Robi pelan, tapi tegas.
Kayla langsung memonyongkan bibirnya. “Nggak mau, ah. Bekas si Laras.”
“Dih! Gue nggak ngapa-ngapain, bejir!” seru Robi.
“Jangan nyentuh dia. Najis!” balas Kayla cepat, nada manjanya kembali muncul di sela tangis.
“Nggak akan, Kay. Gue kerja dipindahin bos gue. Gue nggak ketemu sama dia, sumpah. Dia cuma mau ngawasin gue biar nggak deket sama lo,” jelas Robi, suaranya tulus.
“Nanti reuni dia ikut,” gumam Kayla sambil manyun.
“Nah itu dia yang gue takut,” jawab Robi jujur.
“Ya udah, atur aja,” ucap Kayla pelan.
“Jangan nangis ya,” pinta Robi lembut.
“Nggak,” balas Kayla, suaranya parau.
“Senyum dulu,” goda Robi.
“Nggak keliatan, bego,” jawab Kayla sambil tertawa kecil.
“Oh iya ya. Ya udah, bobo ya, cantik,” ucap Robi lembut.
“Makasih, Bi,” ucap Kayla pelan sebelum menutup teleponnya.
Ia menatap layar ponselnya lama sekali. Senyum kecil muncul di bibirnya meski air mata masih menetes. Ia mengusapnya pelan, lalu merebahkan diri. Malam itu, Kayla tidur dengan perasaan campur aduk — antara bahagia, rindu, dan rasa takut kehilangan lagi.
Keesokan harinya, Kayla kembali bekerja seperti biasa. Ia mulai terbiasa dengan ritme kerja hotel. Meski harus membersihkan kamar-kamar dengan pemandangan tak sedap, ia tetap tersenyum bersama Mira dan Santi.
“Banyak kondom, ya,” bisik Mira sambil menahan tawa.
“Ya ngapain lagi di hotel kalo nggak gitu,” sahut Kayla terkekeh geli.
Tawa kecil mereka menggema di lorong hotel. Di balik canda itu, Kayla merasa sedikit lega — setidaknya, hari-harinya kini punya arah.
Hari-hari berlalu begitu saja. Setiap malam, Robi selalu menelpon. Sekadar menyemangati, menanyakan kabar, atau hanya mendengarkan suara Kayla sebelum tidur.
Beberapa hari kemudian, hari yang dinanti tiba. Acara reuni.
Robi dengan susah payah kabur dari Laras agar ia tak ikut. Ia tahu, kalau Laras datang, semuanya akan kacau. Bahkan, ibunya pun pasti tak mau menerima perempuan itu.
Pagi itu, Robi datang ke rumah Kayla untuk mengambil motornya. Begitu melihatnya di depan pagar, Kayla sontak memeluknya erat.
“Gue kangen lo,” ucapnya tulus.
“Sama. Gue juga,” jawab Robi sambil membalas pelukannya dengan hangat.
“Masih gini, belum dandan. Kan mau reuni,” goda Robi sambil tersenyum melihat rambut Kayla yang masih acak-acakan.
“Bentar lagi. Lo juga balik dulu, kan?” tanya Kayla.
“Iya. Gue setor muka dulu ke Ibu,” balas Robi sambil terkekeh.
“Ok. Gue mandi dulu ya.”
“Gue tunggu aja ya. Nanti lo pergi dari rumah gue, oke?”
“Oke,” ucap Kayla sambil tersenyum, lalu berlari masuk ke rumah.
Ia berdandan secantik mungkin, memakai dress pastel dan menata rambutnya dengan hati-hati. Cermin di kamarnya memantulkan sosok yang terlihat lebih kuat dari kemarin — tapi juga masih menyimpan luka lama di balik senyum itu.
Siang itu, ia berangkat bersama Robi.
Di rumah Robi, Kayla disambut hangat oleh Ibu Wida.
“Cantik banget, calon menantu,” goda Bu Wida sambil tersenyum lebar.
Kayla tertawa malu. “Ih, Bu…” katanya sambil mencium tangan wanita itu dengan hormat.
Mereka berbincang ringan sambil menunggu Robi beres.
“Makan dulu,” tawar Bu Wida.
“Nggak, Bu. Masih kenyang,” jawab Kayla sopan.
“Yuk,” ucap Robi sambil tersenyum, siap berangkat.
“Aku pamit ya, Bu,” ucap Kayla sambil mencium tangan Ibu Wida.
“Hati-hati ya,” pesan Bu Wida.
“Iya, Bu,” jawab Kayla.
Robi membuka pintu mobil untuk Kayla, lalu ikut masuk.
“Tumben pake mobil,” tanya Kayla sambil tersenyum kecil.
“Malu lah. Mereka udah sukses semua,” ucap Robi sambil tertawa.
“Iya juga ya,” sahut Kayla, ikut tertawa.
Namun tawa itu sirna ketika ponsel Robi berbunyi — nama Laras tertera di layar. Telepon itu berdering terus.
“Pacar lo nelpon, tuh,” ucap Kayla dengan nada cemberut.
“Dih! Najis. Gila tuh cewek,” ucap Robi ketus.
“Dia itu ambisius. Kalo dia mau barang itu, dia harus punya,” gumam Kayla, menatap keluar jendela.
“Tiap hari gue ditelpon, pas kerja juga. Gue matiin aja. Kalo dia udah sembuh, sumpah gue tinggalin,” kata Robi serius.
“Kok bisa dia pengen lo? Dia kan sama Zevan,” tanya Kayla dengan nada heran.
Robi menarik napas panjang. “Saat gue ke rumah sakit, si Zevan datang, marah-marah, nyalahin dia karena putus sama lo. Tapi dia malah ketawa, bilang udah punya pengganti Zevan — yaitu gue. Si Zevan ngamuk, soalnya udah putus dari lo.”
Kayla menatap jalanan, wajahnya datar. “Oh, gitu…”
“Gue nggak ngapa-ngapain, Kay. Percaya ya?”
“Ya, mau ngapa-ngapain juga terserah lo. Lo bukan pacar gue,” balas Kayla dengan nada dingin, matanya tetap ke depan.
“Kayla, jangan gitu dong,” ucap Robi kesal.
“Lah, kapan lo nembak gue bener? Kan lo bukan pacar gue,” balas Kayla santai tapi menusuk.
“Gue sayang sama lo dari dulu,” ucap Robi serius.
Kayla menatapnya sebentar. “Kalo urusan sama Laras ribet, Bi. Apalagi lo pindah kerja.”
“Gue keluar kerja nanti, kalo dia udah sembuh. Gue janji,” jawab Robi mantap.
“Hmm.”
“Jangan gitu dong, Kay. Lo kok nggak percaya sama gue?”
“Iya, gue percaya,” jawab Kayla akhirnya, lirih.
“Makasih ya,” ucap Robi sambil menggenggam tangan Kayla.
Kayla membiarkan genggaman itu. Dalam diam, ia tahu hatinya belum sepenuhnya sembuh — tapi mungkin, cinta memang nggak pernah benar-benar hilang.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan ballroom hotel tempat reuni diadakan.
Lampu-lampu mewah berkelip dari luar jendela, dan Kayla menarik napas panjang. Malam ini, masa lalu dan masa kini akan kembali saling menatap.