Keesokan harinya, Kayla sudah diizinkan pulang. Bu Ami dengan sigap membereskan baju Kayla, melipat selimut dan pakaian yang sempat dipakai Kayla saat ia sakit. Tiba-tiba, Frans masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk. Wajahnya tegang. “Anda siapa?” tanya Kayla, bingung. “Maaf, Nona. Saya asisten Pak Arhan. Anda disuruh pulang ke rumah Pak Arhan,” jawab Frans dengan nada formal. Kayla menggeleng keras. “Nggak, ah! Saya nggak mau!” ucap Kayla penuh penolakan. “Tapi saya disuruh, Nona,” ujar Frans, merasa tidak enak hati. “Bilang nggak mau!” tegas Kayla, lalu ia beranjak pergi. Ia turun bersama Bu Ami dan memilih pulang naik taksi online. Sepanjang perjalanan, Kayla hanya menatap jalanan yang berlalu. Air matanya mulai menetes, kemudian ia menangis sejadi-jadinya, isaknya tertahan

