Di tempat camping, semua berkumpul di depan api unggun. Nyala api menari di wajah mereka, menghangatkan suasana malam yang dingin di tengah udara pegunungan. Kayla menggigil pelan, tangannya memegangi lutut sambil mendekatkan tubuh ke arah api. Robi yang duduk di sampingnya segera merangkul dari sisi kanan, tangan besarnya menggenggam tangan Kayla. “Udah nggak dingin?” tanya Robi pelan, menatap wajahnya di sela cahaya oranye. “Masih sih,” ucap Kayla sambil tersenyum malu-malu, pipinya memerah bukan karena api—tapi karena hangatnya pelukan Robi. “Senyum-senyum, mojok lagi kalian,” seru Tari dari seberang api sambil tertawa. “Apa sih, Tari…” balas Kayla malu-malu, menunduk tapi tak melepaskan pelukan Robi. Anya ikut menimpali sambil meneguk kopi, “Kok lo balik lagi ke Jakarta sih, Bi?

