"Itu keponakan Ibu," jawabku spontan karena aku tak punya ide apapun untuk menjelaskan siapa orang yang dimaksud Sandra. "Keponakan. Oh, aku kira siapa. Kok bisa sama Ibu?" Lagi, Casandra bertanya menyelidik. Aku merasa sedang diinterogasi. "Hm, diajak Ibu ke sini. Katanya mau diajak kerja." Kulirik Aisyah yang masih menyantap makanannya dalam diam. Dia tidak membalas tatapanku, lebih suka menunduk fokus ke piringnya. Berbeda dengan Ibu yang bibirnya dimajukan lima senti, mulut komat-kamit nggak jelas bicara apa dengan mata sinis sengaja mengejekku yang sedang berbohong. "Oh dari kampung. Pantes, sudah terlihat dari gaya busananya. Tapi kok Ibu belikan banyak pakaian di butik itu. Mahal loh, Beib, di sana. Bukan hal wajar sih menurutku. Kenapa nggak di toko biasa, atau mall yang adai

