Part 7
Jangan tanya apa yang dilakukan Jiwa. Sudah tiga jam dia melihat surat itu tanpa berani membukanya. Ana sudah memberondongnya dengan pertanyaan mengenai apa yang dilakukannya dengan Danial, Jiwa belum menceritakan perilah surat dari Lucas.
“Galau lagi ga ya, ntar malah kepikiran trus ga bisa tidur besok kesiangan lagi ngampus”
Jiwa memilih menunda surat itu, dia pikir tidak seperti biasanya Lucas mengirimnya surat ditambah seharusnya Lucas bisa langsung menemuinya dan membicarakannya secara langsung, dan jangan lupa Jiwa pernah mengirim chat pada Lucas walaupun tidak dibalas oleh laki laki itu.
Jiwa memilih tidur, walaupun dia sangat penasaran apa isi surat itu.
Esoknya seperti biasanya Jiwa siap dengan bungkusan untuk diberikan pada Lucas. Dari jauh dia sudah melihat Danial duduk didepan kelasnya seperti menunggu seseorang.
“Pasti kak Lucas ga ada, nanya kak Danial juga pasti responnya sama aja”
Berjalan mendekati Danial dan Danial segera menyadari Jiwa datang.
“Nih kaka titip, kak Danial juga pasti ga ngasih tau dimana kak Lucas”
Denial diam, dia tau ini akan terjadi.
“Kamu ga baca suratnya ya?”
Jiwa menatap Danial lekat, sepenting itu surat itu dan bahkan Danial tau jika Jiwa belum membacanya.
“U..udah kok”
“Kamu ga baca suratnya Jiwa”
Tadi Danial bertanya dan kini Danial memberitahunya, tidak ada nada pertanyaan di respon kedua Danial.
Jiwa menyerah, dia menghembuskan nafas berat.
“Belom kak, aku ada kelas pagi takut malah kepikiran dan kesiangan”
“Besok kamu kelas sore kan, baca ya, besok aku tunggu kamu disini. Semangat Jiwa”
Danial pergi setelah mengacak ngacak pelan rambut Jiwa. Bungkusannya terpaksa dia bawa lagi, dilihatnya dikelas Lucas dan tempat biasa dia duduk kini ada orang lain yang duduk disana.
“Ditolak lagi?”
“Enggak An”
Ana tau ada yang tidak beres, saat masuk kelas Jiwa sudah murung dengan bungkusan Lucas yang dia bawa kekelas.
“Kamu ga mungkin beliin aku kan, trus ini apa”
“Ntar deh aku certain, bentar lagi dosen masuk”
“Tuh dari pada mubazir mending buat aku hehe”
“Iya nih makan aja habisin”
Dan disinilah Jiwa lagi, menatap surat itu dan tidak berani membukanya.
Jiwa,
Saya akan ke Eropa beberapa bulan ini
Jadi, berhenti membeli nasi kuning dan es kelapa
Saya berharap bisa seterusnya walaupun saya sudah kembali kuliah
Luc.
Jiwa mematung. Pesan yang singkat dan member tanda tanya besar diawal kalimat namun sedikit menusuk diakhir.
“Kak Lucas pergi”
Setelah membaca surat itu jangan tanya bagaimana perasaan Jiwa. Dan disinilah dia sekarang. Dikampus di jam tujuh pagi dan mahasiswa masih terlihat beberapa orang saja, dia menunggu Danial datang karena yang dia tau Danial ada kelas pagi ini.
“Luc, gadismu khawatir”
Denial melihat Jiwa dari jauh, gadis itu begitu gelisah menunggu seseorang, tentu saja menunggu dia. Bahkan kelas Jiwa masih jam dua nanti, begitu penasarannya menunggu penjelasan Danial sepertinya.
“Kak Dan, Jiwa uda…”
“Kayanya ga perlu jelasin karna dengan kamu disini nungguin aku udah ngasih kejelasan kalo kamu udah baca surat Lucas”
“Terus?”
“kita di kantin aja ya, aku beruntung dating lebih pagi karna udah tau kamu bakalan dating pagi ini”
Dan disinilah mereka berdua, Jiwa berusaha menenangkan diri dan menguatkan dirinya yang akan mendengar penjelasan Lucas.
“Tolong jangan bertanya sebelum aku selesai jelasin”
Jiwa mengangguk perlahan.
“Lucas ke Eropa seperti yang kamu baca di suratnya, dia ga bisa kasih tau kamu langsung karena jujur itu dadakan banget, dia berusaha kelarin kelasnya secepatnya buat ketemu kamu tapi ternyata kamu udah pulang”
“Kalo kamu nanya ngapain Lucas ke Eropa, itu bukan urusan kamu dan ga seharusnya aku kasih tau kamu, jujur kamu baru kenal Lucas dan kalian ga akrab, ada banyak cerita dalam hidup Lucas, dia bukan orang dengan cerita yang sederhana atau orang pada umumnya, dan untuk kebiasaan kamu membelikan dia sarapan…”
Denial menghembuskan nafas berat sebelum mulai melanjutkan.
“Aku sedikit bersyukur Lucas mengirim surat bukan bicara langsung, karena kamu tau dia tidak pernah memikirkan perasaan siapapun saat dia bicara dan aku takut kamu akan kecewa dan sedih, Lucas berharap kamu berhenti mengharapkan dia Jiwa dan sampai kapanpun Lucas akan bersikap dingin seperti itu ke kamu, ke siapapun”
Jiwa menggenggam tangannya erat, telapak tangannya sudah membeku.
“Bahkan aku udah pernah kasih tau Lucas mengenai kamu dan responnya ga bagus, dia terlalu sulit untuk kamu dapatkan Ji, kamu gadis baik aku tau itu jadi kamu seharusnya bisa dapat yang lebih dari Lucas”
“Jiwa ga bisa kak, Jiwa udah sampai sejauh ini dan nyerah gitu aja?”
Jiwa menatap lekat Danial, matanya sedikit berkaca kaca, tangannya gemetaran.
“Udah sejauh ini, Jiwa ga pernah ngerasa…oke Jiwa kadang ngerasa capek tapi untuk nyerah Jiwa ga akan ngelakuin itu. Mungkin hak Lucas buat nolak Jiwa tapi kak Lucas ga pernah secara langsung menolak Jiwa dia hanya terus melarikan diri dari Jiwa dan dia sendiri yang bilang untuk nunggu sampe Jiwa capek”
“Kamu terlalu memaksa Jiwa”
“Jiwa ga memaksa siapapun, entah itu kak Lucas atau diri Jiwa sendiri, yang Jiwa tau sekarang Jiwa sedang berusaha meluluhkan hati seseorang yang sedingin es, tolong kak jangan buat Jiwa nyerah, Jiwa ga berharap kak Danial ngedukung dan Jiwa juga ga perlu sampe kakak belain Jiwa”
Jiwa mengambil nafas, nafasnya tersenggal.
“Jiwa cuman berharap kakak jangan matahin semangat Jiwa sampe Jiwa sendiri yang memutuskan untuk berhenti”
Jiwa pergi meninggalkan Danial, dia tidak tau harus kemana bahkan menceritakan ini pada Ana dia tidak sanggup.
Denial salah. Lagi lagi dia melakukan kesalahan pada gadis itu. Tidak seharusnya Danial mengatakan itu.
“Jiwa!!”
Padahal kuliah masih beberapa jam lagi kenapa Ana ada di kampus.
“Ngapain?”
Beruntung Jiwa sampai tidak menangis, mungkin wajahnya hanya sedikit terlihat lesu.
“Es krim yuk”
Ana bahkan belum mandi dan Danial sudah menelponnya, menyuruhnya untuk segera kekampus untuk menamani Jiwa.
“Jiwa?”
“Tolong ya Ana, kayanya Jiwa lagi galau”
“Emang kak Danial apain sih sampe Jiwa galau, emang kalian ada hubungan terlarang apasih”
“Jangan sembarangan Ana, mending kamu cepetan ke kampus deh daripada Jiwa kenapa kenapa”
“Jiwa ga bakal bunuh diri kan???”
Masih ingat dengan jelas bagaimana Ana berteriak pada seniornya itu dan kini dia merasa berdosa dan malu tentu saja.
Dan disinilah Jiwa dan Ana. Di took kelontong yang menjual es krim, duduk didepan toko sambil melihat kendaraan yang lalu lalang.
“Kak Danial nelpon aku, dia suruh aku cepet cepet ke kampus, katanya sih kamu lagi galau, kenapa Ji?”
Ana ingin sekali marah pada sahabatnya itu, bagaimana mungkin Jiwa tidak menceritakan apapun dan memendamnya sendiri, tapi saat ini sepertinya bukan saat yang tepat untuk mengomel.
“Kak Lucas pergi An”
“…Dia meninggalkan seseorang disini”