"Loh, kok ada Zayn?" Sisil kaget melihat Citra jalan beriringan dengan suaminya. "Hmm ... biasa, suami gue terlalu tampan sampai banyak yang ngajak nikah," ketus Citra masih menyimpan rasa cemburu, dan Zayn tersenyum kecil, sementara Sisil masih tidak paham. "Sil, cariin gue pacar dong, biar bisa saingan sama suami gue," sambungnya lagi melirik sinis ke arah Zayn. "Loh, Humaira, tidak boleh begitu!" tegur Zayn dengan suara yang sangat lembut. Sisil akhirnya paham dengan permasalahan mereka. "Udahlah ya, kalian lanjut aja debatnya, gue cabut dulu. Da ... Assalamualaikum." Ia mengambil tas kemudian beranjak pergi. "Sil, tunggu gue!" Citra hendak beranjak pergi, tapi tangan besar Zayn mampu menahannya. "Saya akan mengantarmu pulang." "Aku masih marah," ketus Citra. "Marahnya di mobil

