Bab 9 : Wedding Moment

2002 Kata
Malam begitu sunyi, siapa yang tahu, kesunyian itu nyatanya tak sendirian. Dua insan dengan takdir yang sama, bergelut dengan masa lalu. Masih terjebak masa lalu, bukan dalam artian masih cinta. Hanya saja, waktu yang tak sebentar menjadi terbuang sia-sia, pengorbanan tanpa batas kini terbatas, cinta yang tulus di balas dengan bulus. Hingga, yang terjadi adalah sebuah luka. Tentu saja, yang ditinggalkan menjadi trauma. Waspada, lebih dari waspada itu sendiri menjadi sebuah ketakutan yang sangat besar, enggan lagi jatuh cinta, enggan lagi menjalin hubungan. Jika sudah begini, siapa yang di salahkan, cintakah? Atau takdir? Tidak dengan keduanya. Tapi, sebenarnya cukup sederhana, namun memang sulit untuk dilakukan, meski orang baik sekaligus. Ikhlas adalah jawabannya. Dengan rambut terurai panjang, Ariana menatap langit malam dari balik jendela, duduk di sana bersandarkan angin sunyi. Tak ada pemandangan yang indah malam ini, tanpa bintang maupun bulan, hanya ada langit yang gelap. Tak ada pula yang lain dalam benak Ariana saat ini. Air mata selalu mengiringi pertemuan tanpa sengaja namun mampu menyesakan d**a. Mengapa harus bertemu dengan masa lalunya? Mengapa masih terasa sakit? Yang katanya hubungan itu di mulai dengan salah, salah karena sudah membuat orang lain terluka. Kini, ingin membuktikan dengan cara memberikan surat undangan sebagai tanda, bahwa mereka begitu bahagia atas pilihannya. "Ariana!!!" Ucap Erlangga berdiri terpaku menatap wanita yang sangat berbeda dari dua tahun yang lalu, balutan hijab dikepalanya membuatnya terlihat dewasa dan anggun. Jika soal cantik, Ariana dari dulu memang sudah cantik. Hanya saja, cinta telah membutakannya. Kamelia yang sedang memilih cincin pun menoleh ke arah yang dituju tunangannya, seraya mengucap ulang nama yang disebutkan Erlangga dengan penuh tanda tanya, "Oh, mantannya." Mendapat tatapan dari kedua orang yang berada di hadapannya, Ariana dengan penuh usaha memasang wajah tenang, padahal hatinya sudah tersayat-sayat sejak tadi, menyapa dengan senyuman manis. "Apa kabarmu? Sudah lama tidak bertemu, ya?" Tanya Erlangga, jujur saja saat ini Ia terpesona. Lambat terpesona. "Baik." Jawab Ariana singkat. Sepertinya Kamelia tidak suka, Ia bisa melihat pancaran mata Erlangga yang tampak berbeda kali ini. Kemudian, Kamelia mengapit lengan Erlangga dengan posesif, bahkan berani mengelus lengan kekar Erlangga di depan Ariana seraya menatap penuh arti, bahwa pria ini akan menjadi miliknya, selamanya. "Kau sedang apa di sini, Ariana?" Tanya Kamelia, Ia sengaja melayangkan pertanyaan itu seolah memberitahu bahwa dirinya tengah memilih cincin untuk pernikahan. "Aku? Aku baru saja memilih cincin untuk pernikahan." Jawab Ariana masih setia dengan senyumnya. Kamelia tersenyum remeh, "Kamu yang menikah?" Tanyanya tak percaya. Ariana mengangguk, "Kalau berkenan, datang dipernikahanku dua minggu lagi. Tempatnya di Hotel XXX." Jelasnya penuh dengan bangga. Erlangga begitu terkejut, ada rasa tak rela dalam hatinya. Siapakah pria beruntung yang bersanding dengan Ariana dipelaminan, dengan bibir bergetar Ia mengucapkan selamat, "Selamat ya, Ariana." Senyumnya terlihat dibuat-buat. "Terimakasih, Kak." Panggilan itu masih Ariana berikan pada pria yang sudah jelas menghianatinya. "Oh, ya. Kita juga mau nikah kok, tepatnya tiga hari lagi." Ungkap Kamelia dengan tawa bahagia, "Datang ya?" Pintanya. Kamelia mengambil surat undangan dari dalam tas. Sebenarnya, surat undangan untuk orang lain, Ia berikan pada Ariana, sebelum itu Ia membersihkan dulu nama orang lain yang sudah tertera. Ariana menatap surat undangan itu cukup lama, lalu mengambilnya, "Insya Allah." Jawabnya, namun dalam hati tak yakin, apakah dirinya mampu untuk datang. Ia adalah wanita dengan sejuta kekurangan, bahkan hatinya tak sebesar itu untuk berlapang d**a, apalagi datang. "Jangan lupa bawa calon suaminya juga. Biar kita bisa kenalan." Ledek Kamelia. Ariana mengangguk saja, "Aku duluan ya, seseorang sudah menungguku." Pamit Ariana. Ia segera pergi dari tempat itu, beriringan dengan senyumnya yang hilang tanpa sisa. Matanya sudah terasa panas, jangan sampai cairan bening itu keluar dari sudut matanya. Mereka akan tertawa jika Ariana masih terjebak dengan luka. Tanpa sadar, Ariana mengeluarkan air mata yang seharusnya tak pantas untuk ia berikan hanya karena mereka. Ia segera menyekanya, menutup kembali kaca jendela kamar. Segera melangkah ke ranjang untuk istirahat. Namun, dirinya tak yakin apakah malam ini bisa tidur dengan nyenyak. Terkait masalah yang ada semakin rumit. Dari belahan kota yang sama. El Bara pun merasakan rasa yang serupa. Sepulang dari rumah Ariana, Ia langsung menuju kamar, bermandikan air hangat untuk menenangkan hatinya. Meski sempat terobati oleh kebersamaannya dengan Ayah Ariana dan Ibra. Namun, setelah sendirian, luka itu datang seolah menuntut ingin menemani. Dan itu, Sudah dua tahun lamanya. Luka itu ada karena terlalu mencinta. Ya, El Bara akui, cintanya terlalu besar untuk wanita yang salah, saat itu. Maka dari itu, saat ini Ia masih takut untuk jatuh cinta. Yang artinya, siap jatuh cinta lagi maka harus siap terluka lagi. Dan El Bara belum siap untuk itu. Luka lama saja masih belum sembuh. Tiga hari kemudian... Ariana tengah mengemas sebuah paket besar berisi beberapa baju muslimah, dan kerudung yang serasi dengan bajunya. Ia khusukan untuk dikirim sebagai kado pernikahan Kamelia dan Erlangga. Ia tidak mungkin untuk datang langsung ke acara pernikahan mereka. Kali ini, Ariana tak sanggup bila harus berpura-pura untuk baik-baik saja seperti saat itu. Setelah selesai, Ia memerintahkan salah satu karyawan bagian kurir untuk mengantarkan bingkisan ini ke tempat tujuan. Tiga hari kemudian... Undangan pernikahan Ariana dan El Bara sudah tersebar luas. Tiga hari kemudian... Kediaman masing-masing dari keluarga Malik ataupun El Pradipta sudah dipenuhi oleh sanak saudara yang jauh. Bahkan ada yang datang dari luar kota. Mereka begitu antusias dalam mempersiapkan pernikahan perdana dari keluarga Malik maupun El Bara. Mereka pastikan, pernikahannya berlangsung meriah, akan menjadi moment tersendiri bagi yang turut hadir. Dan, tiga hari kemudian... Hari itu telah tiba, di mana hari yang paling ditunggu-tunggu dan membahagiakan untuk keluarga Malik maupun keluarga El Nino. Namun, tidak dengan kedua mempelai wanita. Semakin hari, hatinya semakin takut. Tiga jam sebelumnya... Semua sudah siap, termasuk kedua calon mempelai pengantin. Di dalam kamar depan cermin, El Bara sudah terlihat gagah dengan balutan busana pengantin serba putih. Agar terlihat lebih sempurna, El Bara dipakaikan oleh designer-nya langsung. Terkait ada sarung samping pendek semacam songket berwarna putih terbuat dari sutra yang ditenun dengan benang emas berwarna silver membuat penampilan El Bara semakin terkesan mewah. Sebuah dering ponsel milik El Bara tiba-tiba terdengar di atas nakas, mengambilnya lalu beranjak keluar balcon untuk menerima panggilan tersebut, terkait dalam ruangan tidak sedang sendirian. Sebelum mengangkatnya, El Bara sudah tahu siapa yang menelepon dirinya. "Hallo." Sapa El Bara lebih dulu. Hening, tak ada jawaban cukup lama dari sebrang sana. Kembali, El Bara menyapa teman baiknya itu karena merasa panggilannya masih tersambung. "Hallo, Shanum?" "Hallo... Selamat ya, El Bara." Akhirnya, ucap seorang wanita dari sebrang sana. El Bara belum menjawab, Ia tahu Shanum belum menyelesaikan ucapannya, meski ada jeda cukup panjang di setiap kata yang diucapkannya. "Selamat atas pernikahanmu!!!" Lanjutnya. "Maaf ya, Aku nggak bisa datang ke sana untuk menghadiri pernikahanmu secara langsung." Ucap Shanum lagi. Terdengar nada menyesal. "Iya, nggak papa. Terimakasih atas ucapannya." Ucap El Bara. "Yang penting do'anya." "Aku bahagia, El Bara. Kamu bisa melupakan masa lalumu. Jika butuh sesuatu dan ada apa-apa, aku akan selalu ada untukmu." Kata-kata yang selalu setia di ucapkan oleh Shanum untuk El Bara. Seakan kata itu tak pernah ada ujungnya. "Sekali lagi, terimakasih Shanum. Kamu memang temanku yang paling baik." Ucap El Bara. Kemudian, panggilan pun berakhir. El Bara kembali masuk ke dalam. Ternyata, El Rumi, sang adik yang baru saja datang meminta sang kakak untuk turun ke bawah, karena sebentar lagi akan berangkat menuju hotel, dimana acara akad nikah dan resepsi akan dilaksanakan. Tempatnya tak jauh dari kediaman El Pradipta, karena hotel itu milik keluarga ELPA. Sesampainya di sana, keluarga El Pradipta di sambut oleh keluarga Malik, Ibra yang ikut serta secara langsung beserta sang Ayah. Semuanya sesuai rencana tim Organizer wedding, meski pihak tamu yang datang banyak, tapi bisa di atur dengan baik. Jadi rencana bisa berjalan dengan mudah. Sudah waktunya, tepat pukul sepuluh siang, akad nikah akan di mulai. El Bara sudah siap duduk di altar akad, dihadapannya ada Malik selaku wali nikah dan Ayah kandung dari mempelai wanita, dan ada Pak penghulu selaku aparat pemerintah dari kantor KUA. Di tambah dua orang sebagai saksi pernikahan ini akan di laksanakan. "Saya terima nikah dan kawinnya Ariana Malik binti Bapak Malik Abdullah dengan maskawin tersebut tunai..." ucap El Bara dengan begitu lantang dalam sekali tarikan nafas. "Bagaimana, sah?" tanya Pak penghulu. Sah... Sah... Sah... Jawab serempak dari dua saksi. Alhamdulillah... Pak penghulu melanjutkan membaca doa setelah akad pernikahan. Haru melanda, Malik segera memeluk pria yang kini sudah sah menjadi suami dari putri kandungnya. Sudut matanya sudah basah, Malik memberikan sepenuhnya tanggung jawab Ariana pada El Bara. "Ayah percayakan sepenuhnya Ariana padamu, tolong jaga dia, sayangi dia." Ucap Malik sembari menepuk pundak sang menantu. El Bara mengangguk. Entah tanpa sadar, El Bara menyanggupi apa yang di pinta sang Ayah untuk putri satu-satunya. Moment yang paling ditunggu-tunggu. El Bara tengah berdiri menunggu. Seketika semua mata tertuju pada pintu arah masuk. Sepanjang jalan masuk beralaskan karpet merah dengan gapura yang penuh dengan bunga mawar berwarna putih. Dari sana, datang seorang wanita dengan balutan gaun pengantin muslimah dengan warna senada yang di pakai El Bara. Terlihat anggun bak bidadari dari kayangan. Dari belakang pengantin, diiringi bridesmaid dengan pakaian serba putih muslimah yang dipadukan dengan brokat tile, meski tak semuanya memakai penutup kepala, tapi mereka semua terlihat sopan dan begitu cantik. Tanpa sadar, mata El Bara fokus hanya pada satu titik, Istrinya. Yang semakin lama semakin mendekat. Satu kata tanpa dusta, berasal dari hati dan juga ucapan kedua bibir, "Cantik." Tak menampik, El Bara terpesona. Hari ini, Ariana sangat berbeda dari biasanya, tanpa bicara dan senyum menawan dari bibirnya, terlihat seperti seorang wanita yang begitu anggun. Namun, El Bara dengan cepat mengalihkan tatapan matanya ke sembarang arah. Rupanya, luka di hati dan rasa trauma memanggilnya segera agar tidak terkecoh. Ariana segera duduk di samping El Bara. Yang pertama mereka lakukan adalah menandatangani berkas pernikahan. Ya, mereka dengan kesadaran penuh, pernikahannya adalah asli dan sah di mata Agama maupun Negara. Tapi, sama sekali tak mengubah kesepakatan perjanjian mereka tempo itu. Untuk hari ini, biarlah berjalan sebagaimana kedua orangtuanya impikan. El Bara menyematkan cincin pernikahan di jari manis Ariana. Kemudian, diulangi oleh Ariana, menyematkan cincin pernikahan di jari manis El Bara. Untuk kali pertama, Ariana mencium tangan El Bara begitu dalam. Dan sebaliknya, El Bara mencium kening Ariana cukup lama. Semuanya tak lepas dari perintah Pak Penghulu. Kilatan cahaya dari sebuah kamera mengabadikan moment sakral ini. Sang fotografer mengambilnya tak sekali, sangat banyak. Bahkan, meminta keduanya berpose romantis. Sedangkan, keduanya terlihat kaku, dan merasa tak nyaman. "Sekali lagi ya, si teteh bobo di dadanya si Aa. Aa dagunya di senderin di kepala si teteh. Bisa ya???" Perintah fotografer itu, sepertinya berasal dari orang sunda, terdengar dari nada bicaranya yang lucu. Ariana dan El Bara hanya diam, pose yang sekarang saja sudah membuat keduanya tak karuan. Saling berhadapan. "Adduh, nggak usah malu-malu teteh, Aa, sudah halal ini. Apalagi kalau di kamar mah, lebih dari ini atuh." Ucap fotografer itu lagi menggodanya. Semuanya yang menyaksikan dan mendengar gurauan fotografer tersebut malah tertawa. Betapa merah wajah kedua pengantin baru. Kemudian, sang fotografer memandu kedua tangan Ariana menyentuh d**a bidang El Bara, sedangkan El Bara memeluk pinggang Ariana. Jarak keduanya begitu dekat sehingga jarak dari mata ke mata hanya hitungan senti. Ariana segera menunduk kebawah, sedangkan El Bara mengalihkannya ke sembarang arah. Entah naluri apa, keduanya menyanggupi permintaan sang fotografer. Ariana yang lebih dulu menyandarkan kepalanya di d**a El Bara, lalu memejamkan kedua matanya. Samar-samar suara yang ada disekelilingnya menghilang, yang terdengar kini hanya suara detak jantung El Bara yang tak beraturan, cepat. Namun, mampu mendamaikan hati Ariana. Seulas senyum kemudian datang tanpa di minta. Jangan tanyakan bagaimana El Bara sekarang, Ia tengah menetralisir keadaan jantungnya. Merasa tak ada pergerakan dari Ariana. El Bara pun mencoba untuk menyanggupi permintaan sang fotografer, apa salahnya? Ia mulai memejamkan matanya dan bersandar dagu pada kepala sang istri. El Bara merasa telah menemukan kedamaian setelah bertahun-tahun dalam keadaan gundah. Bahkan dirinya tak menemukan ini saat bersama Kamelia dulu. Kamelia??? Luka itu. Dadanya terasa sesak. El Bara tersadar dan segera melepaskankan segala jarak di antara dirinya dengan Ariana. Tak hanya sendirian, Ariana pun melakukan yang sama. Keduanya saling menatap penuh dengan arti. Tatapan sama, dengan luka yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN