Sekali lagi, Ariana mematut dirinya di cermin, memastikan hijab dan pakaian yang ia pakai sudah rapi. Setelah dirasa sudah cukup, Ariana mengambil tas barnded miliknya. Lalu, melangkah keluar kamar menuju lantai bawah.
Saat menuruni anak tangga, Ariana melihat sang Ayah tengah sibuk menerima tamu. Ia memperlambat laju langkahnya. Hingga kedatangannya di sadari oleh sang Ayah.
"Ariana." Panggil Malik setengah berteriak, Ia meminta sang putri untuk mendekat kemudian menyuruh Ariana duduk disampingnya.
Ariana tak bisa menghindar, Ia menurut saja.
"Coba lihat! Bagaimana menurutmu?" Tanya Malik sembari memperlihatkan sebuah kartu undangan pernikahan berwarna putih di hiasi aksen renda silver yang sangat mewah, lalu ditengahnya terdapat tali pita berwarma senada.
Pertama, Ariana tak berkomentar, Ia hanya diam sembari melihat kartu undangan pernikahan tersebut dengan wajah datar. Merasa tak percaya, nama yang tertera adalah miliknya. Ariana Malik dan El Bara Pradipta.
Selama ini, Ariana tak terbesit sedikitpun memikirkan tentang pernikahan.
Akan menikah dengan siapa?
kapan waktunya?
Resepsi seperti apa?
Tidak sama sekali. Selama ini, Ariana sibuk dengan hatinya sendiri. Dan kini, seolah mimpi pernikahannya akan dilaksanakan beberapa hari lagi.
"Apakah anda tidak suka dengan kartu undangannya, Nona?" Tanya wanita yang menjadi tamu Malik. Diketahui wanita itu adalah salah satu tim Organizer Wedding yang mengurus segala keperluan pernikahan Ariana dan El Bara. Nayara yang meminta mereka untuk datang ke rumah besannya langsung. Tak perlu diragukan lagi. Tim mereka terkenal sangat perfect dengan hasil yang memuaskan.
Ariana menggeleng selaya melayangkan senyum manisnya. Bukan itu maksudnya, Kartu undangannya sangat mewah dan Ariana mengaku satu hal, kalau Ia suka dengan design dan warnanya yang terlihat pas. "Tidak. Saya suka sekali." Komentarnya dengan jujur tanpa dibuat-buat.
Wanita itu tersenyum, takut sekali jika pelayanannya tidak memuaskan. "Kalian memang pasangan kompak, Ini Tuan El Bara sendiri yang memilihnya!" Ucap wanita itu memberi tahu, meski Ariana tak bertanya.
Jleb... Ariana terdiam.
Rasanya tidak mungkin pria egois itu punya selera yang bagus, cibir Ariana dalam hati.
Namun, kenyataannya Ariana merespon dengan tersenyum saja untuk menutupi ketidaksukaannya, bahwa seleranya disamakan.
Ariana meletakan kembali kartu undangan itu.
"Kalau anda suka dan setuju. Kami akan kirim kartu undangan ini besok, bagaiamana? Apakah anda tidak keberatan?" Tanya wanita itu lagi.
"Terserah. Saya mengikuti saja, bagaimana baiknya." Ucap Ariana pasrah. Tak datang pun tidak apa-apa. Ariana akan sangat bersyukur. Jadi pernikahannya tidak akan pernah terjadi. Sebab, undangannya tak jadi disebar.
"Kau mau kemana, Ariana? Sudah rapi begin?" Tanya Malik saat mendapatkan penampilan Ariana yang sudah rapi seperti hendak akan pergi.
"Aku mau ke Butik dulu sebentar, Ayah." Sekalian Ariana meminta ijin pada sang Ayah.
"Harusnya, kau sudah libur kerja, Ariana. Pernikahanmu sebentar lagi akan dilaksanakan. Jadi, kau harus banyak istirahat." Titah Malik.
"Aku hanya sebentar, Ayah. Ada keperluan mendesak. Jadi, aku harus ke sana." Sebenarnya, hanya alasan Ariana saja.
Kemudian, Ia mengambil tangan kanan sang Ayah, menciumnya dan kabur dari sana, tanpa menunggu jawaban dari sang Ayah.
"Assalamau'alaikum, Ayah. Aku berangkat dulu. " Teriak Ariana sembari berlalu pergi.
"Wa'alaikum salam. Ya sudah, hati-hati. Anak jaman sekarang..." Jawab Malik sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesampainya di Butik, Ariana langsung keruangan kerja miliknya. Duduk di sana tanpa melakukan apa-apa. Memang hari ini dan seteruanya sampai waktu yang tidak ditentukan, Ariana tidak boleh masuk kerja atas perintah Ibra, sang kakak.
Apa-apaan, Ariana akan jamuran karena saking lamanya di rumah. Di pingit itu biasanya tiga hari menuju hari H. Ini masih ada waktu dua minggu lagi, Ariana harusnya masuk kerja kalau bisa lembur sekalian untuk menutupi hari cutinya nanti.
Apalah daya, Ariana tak bisa membantah. Jika menurut Abangnya A, ya A. Kalau B, ya B. itupun jika masih dalam batas wajar. meski begitu, Ariana tahu, Ibra, Abangnya semata-mata begitu sayang padanya.
Setelah beberapa menit di sana, Ariana merasa bosan. Ia berniat pergi keruangan kerja Alia. Rupanya, Alia tengah sibuk men-design rancangannya.
Ariana di sana hanya duduk diam sembari memperhatikan Alia dari sova yang tersedia. Sesekali memainkan pajangan yang tersedia di atas meja sova, hingg menimbulkan suara. Alia dibuat tidak konsentrasi jadinya.
"Apakah tidak ada kegiatan yang kau lakukan selain itu, Ariana?"ucap Alia dengan nada sedikit ketus.
Ariana menggeleng tanpa mengalihkan tatapan matanya pada benda yang sedang Ia mainkan.
Alia menghentikan sejenak pekerjaannya, menatap penuh sahabatnya itu.
Alia bisa melihat bagaimana raut wajah Ariana. Ada semacam kegelisahan melanda hatinya. Ia tahu penyebabnya apa. Apalagi kalau bukan karena perjodohan ini.
Alia benar-benar menghentikan pekerjaannya. Bangun alu melangkah mendekat ke arah sang sahabat. Dan ikut duduk di samping Ariana.
"Ngafe yu?" Ajak Alia.
Ariana menggeleng.
Mendapat jawaban seperti itu, Alia kembali menawarkan sesuatu yang lain, ia tampak sedang berfikir, "Gimana kalau nonton? Sekarang lagi ada film horor, viral, katanya seru?" Ajak Alia.
Ariana kembali menggeleng, "Sepertinya kamu terganggu aku ada di sini ya?" Ucap Ariana tiba-tiba masih memandang benda tadi.
Alia menggeleng dengan cepat, "Nggak kok. Kamu suudzon mikirnya. Aku cuma mau menghibur kamu aja. Udah itu doang." Jelas Alia.
Ariana tampak menghembuskan nafas panjang, lalu menatap nanar sahabatnya, "Kenapa sih Alia? Aku harus ngalamin ini semua?" Ucap Ariana tiba-tiba, terdengar sekali suaranya bergetar.
Alia membalas tatapan Ariana, sembari 0menepuk bahu sang sahabat, seolah tengah memberikan kekuatan, "Kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, Ariana. Sama saja kamu tidak bersyukur sama Allah." Ucap Alia memperingati bahwa yang dikatakan sahabatnya adalah tidak pantas.
Ariana segera beristigfar dengan mata berkaca-kaca, "Astagfirulloh... "
"Ariana, semua yang sudah terjadi, sedang terjadi, bahkan yang akan terjadi nanti. Semuanya sudah kehendak Allah. Semuanya sudah digariskan oleh Allah. Kamu tidak perlu berfikiran suudzon gitu, cukup bersyukur. Masih banyak diluaran sana yang serba kekurangan dari kita." Ucap Alia.
Memang sahabat kentalnya ini sangat agamis, Ia selalu berfikiran positif, tak salah Ariana dipertemukan lagi dengannya. Sang pencipta sudah mengatur segalanya. Tak ada yang luput dari pengawasan serta solusi yang diberikan. Tinggal diri kitanya saja yang mau mengambil pilihan mana yang Allah berikan. Pilihan semakin dekat dengan Sang Khalik atau semakin jauh dengan Sang Khalik?
"Apakah Aku mampu menjalani pernikahan ini nantinya, Alia?" Tanya Ariana ragu.
Alia tersenyum, Ia tahu betul apa yang menjadi kegelisahan sahabatnya, "Kenapa tanya aku, tanya hati kamu sendiri. Kamu mampu tidak?" Alia malah kembali bertanya.
Ariana tampak merenungi, "Kayanya, Aku nggak bisa, Al. Aku masih takut." sorot matanyapun berkata demikian.
"Laa haula walaa kuwwata illa billahil 'aliyyil adzim. Bacalah dzikir ketika kamu tak berdaya. Serahkan semuanya pada Allah. Jalani semuanya seperti air mengalir, Ariana." Ucap Alia memberikan tatapan penuh akan sebuah harapan.
Ariana menatap sahabatnya terkagum-kagum. Terkadang, dengan bercerita bisa membuatnya tenang, apalagi jika sahabtnya mamou menenangkan, menguatkan, "Terimakasih banyak, Al?"
Alia mengangguk. Sedetik kemudian suasana haru mereka berganti seketika.
"Lebih baik kerja sana, balik ke ruanganmu, daripada nganggur di sini ganggu orang kerja." Usir Alia.
Ariana mendelikan kedua matanya, "Dasar, sahabat plin-plan. Kadang kaya ustadzah, kadang kaya emak-emak rempong." Cibir Ariana tak ingin kalah.
Alia seketika tertawa, sahabatnya sudah bisa marah-marah dan cerewet itu artinya suasan hatinya sudah kembali.
Tawa itu menular kepada Ariana. Suara tawa renyah memenuhi ruangan. Keduanya sama-sama menatap penuh arti. Sahabat saling melengkapi, ada setiap membutuhkan, menegur setiap kali melakukan kesalahan, mendukung di kala kebaikan. Indah bukan?
Mereka berdua menghentikan tawanya saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar secara tiba-tiba.
"Masuk." Perintah Alia kemudian.
Satu karyawati kemudian muncul dari balik pintu dan menghadap mereka berdua.
"Ada apa, Mput?" Tanya Ariana pada karyawannya bernama Putri itu, Ia masih muda.
"Anu, ada yang cari Ibu Ariana. Dia nunggu di depan Butik?" Ucap Mput menjadi tujuannya datang kemari.
"Siapa? Ibu-ibu?" Tanya Ariana memastikan. Biasanya banyak ibu-ibu yang mencarinya. Meminta langsung untuk merekomendasikan busana apa yang pas mereka pakai.
Mput menggeleng, "Bukan Bu. Tapi, laki-laki yang cari Ibu." Jawabnya dengan tersenyum penuh misteri.
"Kamu kenapa cengengesan?" Tanya Ariana, biasanya si Mput bertingkah seperti ini pasti ada apa-apanya.
"Anu, Bu. Laki-lakinya ganteng banget. Kaya artis papan atas." Ucap Mput dengan malu-malu.
Ah, si Mput memang setiap laki-laki yang datang akan di katakan tampan. tampan menurutnya belum tentu tampan menurut yang lain.
"Ya sudah. Nanti saya ke sana. Kamu boleh kembali kerja." Ucap Ariana.
Dirasa, kedatangan Mput untuk menyampaikan sesuatu sudah tersampaikan. Ia pamit undur untuk melanjutkan pekerjaannya dibagian pelayanan.
"Aku keluar dulu ya, Al. Ngecek siapa yang dimaksud Mput. Jangan-janagn orang suruhan Bang Ibra lagi, suruh aku pulang."
Alia mengangguk, kemudian kembali ke mejanya, meneruskan pekerjaannya, men-design rancangannya yang tertunda.
Sedangkan, Ariana segera keluar untuk menemui siapa yang mencarinya.
Mput memberitahu bahwa yang mencarinya menunggu di mobil. Ariana segera menghampiri mobil yang sudah ditunjuk oleh Mput.
Kemudian, Ariana mengetuk pintu kaca jendela, seketika kaca tersebut turun dan menampilkan wajah laki-laki yang katanya tampan kaya artis papan atas.
Pria itu tengah mengenakan bingkai hitam di kedua matanya. Seketika, Ariana kenal siapa pemilik wajah laki-laki itu.
Ini sih bukan artis papan atas. Tapi artis papan triplek, abal-abal lagi. Cibirnya dalam hati Ariana.
Rasanya ingin tertawa melihat El Bara yang katanya disebut tampan oleh si Mput. Tidak tahu saja bagaimana kelakuannya. Apa masih bisa disebut tampan. Tapi, Ariana bisa menahannya dengan melipat kedua bibirnya ke dalam.
"Ada yang lucu?" Tanya El Bara dengan nada ketus, dan dingin.
Ariana masih menahan senyum dan menjawab pertanyaan El Bara dengan menggelengkan kepalanya.
Dasar wanita aneh, El Bara mengatainya dalam hati. Lalu, Ia memalingkan wajahnya, menatap lurus ke depan, arah setir, "Cepat naik!!!" Perintah El Bara secara otoriter.
Ariana mengerutkan keningnya, "Untuk apa Aku naik ke dalam mobil mu?" Tanya Alia dengan melipat tangannya di d**a. Agar terlihat angkuh.
"Cepetan naik. Jangan geer dulu, Bunda yang nyuruh." Ucap El Bara menjelaskan mengapa ia tiba-tiba datang ke Butik.
"Untuk?" Ariana tak semudah itu masuk ke dalam mobil siapa saja. Ia harus tahu apa tujuannya. Meski El Bara menjual nama Bundanya.Siapa tahu berkedok penculikan kan?
"Kau cerewet sekali. Kita akan cari cincin pernikahan. Bunda sudah menunggu di toko perhiasan. Cepetan naik, Aku tidak punya banyak waktu." Lagi-lagi El Bara mengatakannya dengan nada ketus dan dingin.
"Tidak punya banyak waktu? Seperti mau meninggal saja." Ariana menggerutu dengan nada pelan. Kemudian, Ariana tampak diam sejenak, memikirkan sesuatu, "Ok, tapi aku ambil tasku dulu di dalam." Ariana siap melangkah masuk menuju Butik.
"Nggak usah bawa tas segala. Bukan kamu juga yang akan bayar cincin pernikahan, kan?"
Wanita menurut El Bara sangat ribet, kemana-mana membawa tas hanya untuk asesoris. Padahal, jika makan, yang bayar laki-lakinya kan?
Ariana tampak kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut El Bara. Lelaki ini semakin hari semakin menjengkelkan. Ah, Ariana tidak tahu bagaimana nantinya akan hidup bersama laki-laki modelan seperti El Bara. "Kalau aku yang bayar cincinnya, memangnya kamu nggak malu sama harga diri kamu. Ngaku orang kaya, cincin nikah aja dari calon bininya. Gimana kedepannya cob???." Ucap Ariana tak ingin kalah.
El Bara mengepalkan satu tangannya begitu kuat, tengah menahan kesal. Kalau bukan karena Bundanya yang merengek minta jemput wanita cerewet ini, El Bara mana mau. Di kantor masih banyak pekerjaan, dan kini harus terbengkalai hanya karena satu wanita ini saja. "Cepat naik. Saya tidak punya banyak waktu untuk berdebat" Ucap El Bara membuka kaca mata dan menatap tajam Ariana.
Ariana akhirnya menurut, Ia langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu fikir, saya supir kamu?" Ucap El Bara saat Ariana membuka pintu belakang.
Ariana mengurungkan niat untuk masuk. Terlihat sekali sedang menahan kesal, di tambah teriknya panas matahari siang ini membuat otaknya semakin terbakar. Dengan sengaja, Ariana menutup kembali pintu mobil belakang dengan kencang. Seketika, Ariana tampak tersenyum puas.
El Bara yang melihatnya meringis, baru kali ini ada wanita modelan seperti Ariana, memperlakukan mobilnya dengan tidak baik, adegan ini tidak patut untuk dicontoh.
Ariana masuk dan kini duduk di samping El Bara, seperti maunya. Keduanya dalam suasana terbakar, hawa panas, meski pendingin mobil sudah menyala.
Bukan apa-apa, El Bara menyuruh Ariana untuk duduk di depan. Semuanya sudah difikirkan dengan matang. Jika Ariana duduk di belakang apa nanti kata Bunda. Ia akan terus di omeli seharian, dan itu sangat menyiksa gendang telinganya. Masih ada kata-kata lain yang harus di dengar selain omelan Bundanya.
Setelah Ariana selesai memakai seat belt. El Bara segera menekan pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan.
Dalam perjalanan keduanya sama-sama diam, hening tanpa suara. Hingga berlanjut sampai tujuan, toko perhiasan yang El Bara maksud.
El Bara sudah menduga, Bundanya keluar toko setelah mengetahui kedatangan mereka berdua, karena terlihat jelas dari jendela toko. Bunda menyambut calon menantunya begitu antusias. Mereka berpelukan layaknya teletubis. Berbincang-bincang, entah apa yang mereka bicarakan, hanya wanita yang tahu, El Bara sama sekali tak perduli, kini tugasnya sudah selesai dan akan kembali ke kantor saja.
"Hei, El Bara. Mau kemana, sini ikut masuk." Suara Bunda menghentikan langkah El Bara untuk kembali masuk mobil.
El Bara derdecak, tapi Ia menurut saja, ikut masuk ke dalam.
"Kamu itu aneh sekali. Kenapa pergi. Beli cincin nikah kan buat kamu, gimana ngukurnya kalau kamu pergi." Ucap Nayara.
El Bara kesal, bukan karena Bundanya melainkan Ariana menertawainya, Ia segera layangkan tatapan mautnya.
Ariana tampak mengalihkan matanya kesembarang arah, kini berganti dengan mengulum senyum.
Rupanya kau suka bermain-main, hah? Lihat permainan apa yang akan kita mainkan selanjutnya, El Bara menarik satu sudut bibirnya dan tersenyum penuh arti.