Bab 5 : Pertemuan

2029 Kata
Setelah dua tahun tak ikut andil dalam mengurus perusahaan ELPA. Kini, El Bara kembali, tak terasa sudah dua minggu Ia sibuk mengurus kantor. Untuk urusan bagaiamana perusahaan yang ada di Batam, El Raka yang mengambil alih. El Bara sudah memberi kabar, bahwa dirinya tidak akan kembali. Ia akan fokus mengurus perusahaan milik Ayahnya. Keadaan Ayahnya memang sudah membaik, tapi saran Dokter, El Nino harus bad rest. Hanya akan datang sesekali, jika memang sedang ada keperluan yang mendesak. Di sini, El Bara harus mengedapankan kesehatan Ayahnya, dibanding bagaimana perasaannya. Mau tak mau, lambat laun, dan pada akhirnya, El Bara pasti akan kembali ke sini, meski entah kapan. Mungkin, sekarang waktunya, dengan cara ini, alasan ini, El Bara kembali ke sini. Ke tempat di mana telah memberikannya luka. Siang ini, El Bara sibuk sekali dengan berkas yang ada dimejanya, ia tengah meneliti beberapa laporan akhir bulan. Kemudian, terdengar suara ketukan pintu, setelah El Bara menyuruhnya masuk, barulah datang seorang wanita, tak lain wanita itu adalah sekretaris Ayahnya dulu, yang kini menjadi Sekretarisnya. Namanya, Anggi. Ia datang untuk meminta tanda tangan sang atasannya untuk berkas tertentu. Setelah selesai urusqn, Anggi pamit undur untuk kembali lagi ke kubikelnya, pekerjaannya di sana masih menumpuk. "Bu Anggi, tunggu!!!" Panggil El Bara dengan sebutan Ibu, karena Anggi ini lebih dewasa dari dirinya. Hampir kepala empat. "Ada apa, Pak El Bara? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Anggi, kemudian kembali menghadap atasannya yang tengah duduk di kursi kebesarannya. "Berapa bulan sekarang usia kandungan Bu Anggi?" Tanya El Bara, tanpa mengalihkan kedua matanya dari berkas tersebut. Anggi tak langsung menjawab, apa urusannya atasannya ini dengan pekerjaannya sekarang. Merasa tak ada jawaban, kemudian El Bara, menarik wajahnya untuk menatap sekretarisnya itu. Lalu, memberi kode bahwa pertanyaannya belum di jawab. "Mau menginjak tujuh bulan, Pak." Jawab Anggi masih terlihat kebingungan. "Kapan akan mulai cuti?" tanya El Bara kembali sibuk dengan berkasnya. Oh ini alasannya, Anggi paham, "Hmmm, sekitar bulan depan, Pak. Kalau di ijinkan." jawab Anggi tampak ragu. Setahunya, El Bara ini dulu, atasan yang sangat tegas dan juga minim toleransi. Fikirannya hanya tentang bekerja, bekerja, dan bekerja. "Saya pasti menginjinkannya. Tidak mungkin membiarkan wanita bekerja dengan perut membuncit." jawab El Bara di luar ekspetasi Anggi. Ia bersyukur ternyata banyak berubah di diri pria muda ini setelah kejadian yang menimpa dirinya. Ya, satu kantor sudah tahu apa penyebab El Bara batal menikah dan pergi ke Batam. "Sebenarnya, saya tidak hanya cuti, tapi sekalian ingin resign, Pak." "Resign?" El Bara mengulang kembali kata itu. menuntut alasan. "Iya, pak. Saya ingin fokus mengurus anak nantinya." Jawab Anggi mantap dengan keputusannya. Yang diketahui bahwa ini adalah kehamilan pertama Anggi yang sangat dinantikan setelah sekian lama berumah tangga. Sudah cukup kenyang berkarir, kini Anggi ingin fokus pada kehidupan pribadinya. Suaminya pun satu kantor di sini. "Kamu sudah mempertimbangkannya?" tanya El Bara meyakinkannya. "Sudah, Pak. Saya juga akan mencari sekretaris pengganti. Akan saya mulai buka lowongan minggu ini. Sebab, nantinya selama dua minggu akan saya bimbing terlebih dahulu, agar nantinya sekretaris baru sudah paham bagaimana tugasnya." Jelas Anggi. Ia memang sudah memperhitungkan segalanya. Kebetulan sekali, Anggi sekalian menjelaskan rencananya El Bara mengangguk pertanda setuju. Memang, Anggi ini Sekretaris yang bisa di andalkan oleh Ayahnya, dan sekarang juga, bisa dirasakan oleh El Bara. "Baiklah. Kalau begitu, saya pamit untuk kembali ke kubikel saya, Pak." Anggi kembali pamit. El Bara mengangguk untuk yang kedua kalinya, pertanda Ia menginjinkan sekretarisnya itu pergi. El Bara kemudian kembali di sibukan dengan berkasnya, tiba-tiba sebuah nada panggilan masuk terdengar menggema di seluruh ruangan tersebut. El Bara melirik sebentar untuk mengetahui siapa yang telah memanggilnya. Bunda is calling. El Bara segera mengambil lalu mengangkat panggilan tersebut. Ia takut, Bunda menelepon ada sesuatu yang terjadi dengan Ayahnya. "Assalamau'alaikum, Bunda. Ada apa?" Sapa El Bara lebih dulu. "Wa'alaikum salam. Sore ini kamu sibuk nggak, El Bara?" Tanya Nayara dari sebrang sana. Oh ini bukan tentang kesehatan Ayah, El Bara bisa bernafas lega. Sebelum menjawab, El Bara menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, "Sore ini, Bara tidak sibuk. Memangnya kenapa, Bunda?" Jawab El Bara. Tangannya kembali sibuk dan tengah membubuhi tanda tangan pada berkas yang sejak tadi Ia baca. "Kamu anterin Bunda ke suatu tempat ya? Bunda sama Ayah mau menghadiri acara Fashion Show Butik milik Ariana." El Bara sudah selesai dengan urusan tanda tangannya. Lalu, Ia menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, diam sejenak tak langsung menyahut perkataann sang Bunda. Sebenarnya, El Bara malas sekali jika harus bertemu dengan wanita itu. Jangankan bertemu, jika membahas sekedar namanya saja, mood-nya mendadak bad. "Bunda minta anterin supir aja. " Jawab El Bara sekena-nya. Jika Ia tidak ingin maka Ia akan jujur. "Loh-loh kok gitu. Bunda sama Ayah sengaja minta antar kamu supaya kamu semakin kenal lebih dekat sama Ariana. Bunda tahu, kamu belum bertemu lagi kan sama calon istri kamu itu, karena sibuk ngantor???" El Bara sudah menduganya. Dan, tebakan sang Bunda memang tak pernah melesat. Tentu saja. El Bara belum bertemu lagi dengan wanita itu. El Bara diam saja tak menjawab. Ya, El Bara lebih suka memanggil wanita itu daripada menyebutkan namanya. Alasannya sederhana sekali, El Bara tidak menginginkannya, itu saja. "Kontekan lewat handpone saja tidak cukup, El Bara. Ya, meskipun jaman sekarang sudah canggih, kalau kangen tinggal video call." Ucap Nayara menggodanya. Eits... Tidak tahu saja Bundanya itu. Sebenarnya, El Bara sampai saat ini tak menghubungi wanita itu sama sekali. Meski, nomornya di simpan rapi dalam kontak ponselnya. Karena mendapatkan El Bara yang masih tak menjawab, Nayara kembali berkata dengan suara begitu lantang, hingga El Bara menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Rasanya gendang telinganya mau pecah. Meski di jauhkan begitu, suara Bundanya masih terdengar jelas, "Pokoknya, Bunda tidak mau tahu. Kamu harus anterin Bunda sama Ayah titik. Kalau sampai tidak, Bunda mau mogok makan." Ancamnya. "Jangan seperti anak kecil begitu, Bun. Malu sama umur?" Jawab El Bara sama sekali tidak perduli, Ia tahu, Bundanya hanya menggeretak saja. "Bunda serius, El Bara Pradipta." Tegas Nayara dengan nada marah. El Bara terkekeh, lucu sekali dengan tingkah laku Bundanya itu. "Ya, Nanti Bara jemput ke rumah. Sudah jangan marah. Nanti, cantiknya hilang." Godanya. "Nah kalau gitu kan hati Bunda senang. Awas jangan lupa. Sudah asyar jemputnya." Kembali Nayara memberi peringatan keras agar putranya jangan sampai telat menjemput. Kalu tidak, Ia tak main-main dengan ancamannya tadi. Jika itu terjadi, kemungkinan penyakit magh yang diderita Bundanya itu kambuh lagi. Dan bisa dipastikan, El Bara akan kena marah Ayah dan juga kedua adiknya, "Apa susahnya sih, Kakak turutin keinginan Bunda." atau "Jadi anak harus nurut, surga itu adanya ditelapak kaki Ibu. Mau masuk suga apa mau masuk neraka?" "Baik, My Queen." Satu kata itu menjadi penyelamat El Bara dari teror Ayah dan adik keduanya. "Assalamau'alaikum." Nayara mengakhiri obrolannya dengan nada sumringah. "Wa'alaikum salam." Jawab El Bara. Senyum El Bara hilang saat itu juga, bersamaan dengan berakhirnya panggilan. Wajahnya kembali datar. Fikirannya sibuk dengan kenangan masa lalu. Masa lalu yang pahit. yang selalu ditanyakan hatinya, "Apakah aku mampu? Sepeetinya tidak!!!" ... Menghabiskan waktu tiga bulan untuk menyiapkan acara fashion show ini. Ariana tampak puas sekali dengan hasilnya. Pengunjung yang datang di luar batas ekspetasinya, banyak dan menanggapinya dengan positif. Yang datang, bukan hanya pelanggan setianya saja, ada artis, para istri pejabat, maupun anak muda juga turut hadir. Busana muslimah modern memang sedang trend belakang ini. Berbagai model sengaja di luncurkan. Mulai dari busana sederhana sampai busana muslimah dengan model glamour, semua ada. Semuanya tak luput dari sang designer handalnya, Alia Nathania. Ariana juga ikut andil dalam hal itu, mengoreksi setiap model yang desain langsung oleh Alia bila ada kekurangan. Acara sudah selesai. Ariana dan Alia baru saja turun dari panggung dengan masing-masing memegang paket bunga besar. Malik dan putranya Ibra, juga calon kakak ipar Ariana yang bernama Shanaya, sudah menunggu di bawah panggung, menyambut Ariana. Tidak hanya mereka saja, ada El Nino, Nayara dan juga El Bara. Ya El Bara ikut juga. Dengan senyum bahagia terukir di bibir wanita dengan tampilan yang sangat cantik malam ini, Ariana segera menghambur ke dalam pelukan sang Ayah. Malik mengusap lembut kepala putrinya yang dibalut hijab berwarna biru soft itu, ada rasa haru karena bangga atas pencapaian yang digapai oleh putriya. Kemudian, pelukan itu bergantian dengan Abangnya, Ibra yang tampak gagah dengan balutan jas. Didampingi oleh tunangannya Shanaya, wanita anggun nan cantik dengan rambut panjangnya. "Selamat ya, Ariana." Ucap Ibra, di susul ucapan dari Shanaya juga. Ariana tersenyum, malam ini adalah moment bahagia dalam hidupnya, "Terimakasih, Bang. Semuanya tak luput dari bantuan Bang Ibra dan juga Kak Shanaya." Jawab Ariana. "Selamat juga buat kamu, Alia." Tak lupa, Ibra juga mengucapkannya pada sahabat dekat Ariana sekaligus fatner kerja adiknya itu. Kekuarga Pradipta melangkah lebih dekat pada Ariana. "Selamat ya, Ariana. Kamu memang wanita hebat, masih muda sudah pandai mengelola bisnis." Ucap Nayara sembari memeluk calon menantunya itu. Ariana tersenyum dan tidak lupa mengucapkan terimakasih atas pujian yang diberikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi Ibu mertuanya. Eh, Itupun kalau jadi. Ariana punya rencana lain untuk itu. Mereka melanjutkan obrolannya di sebuah Restaurant yang memang tersedia di hotel tempat acara berlangsung, agar lebih nyaman, makan malam bersama, sekaligus melanjutkan pembahasan soal perjodohan. Setelah makan malam selesai, mereka memberikan waktu untuk Ariana dan El Bara berdua saja, di meja yang terpisah dengan jarak cukup jauh. Namun, masih bisa di lihat oleh pandangan mata mereka. Keduanya duduk saling berhadapan, saling diam dalam keheningan dengan waktu yang cukup lama. Hingga, El Bara lebih dulu memecah keheningan. "Saya tidak bisa menerima perjodohan ini." Ucap El Bara langsung bicara pada intinya dengan tatapan tajam. Ariana menghembuskan nafas lega. Ternyata, bukan dirinya saja yang tidak menginginkan perjodohan ini. Melainkan sama-sama. Kalau begitu, fikirnya ini akan mudah untuk membatalkan perjodohan ini. "Saya juga." Jawab Ariana singkat, sama menatapnya dengan tatapan tajam. Tatapan keduanya tak ada hangat-hangatnya, hanya tatapan dingin. "Kalau begitu, buat rencana untuk menggagalkan perjodohan ini?" Lanjut El Bara memberi penawaran. "Kau punya ide?" Tanya Ariana. "Ada, salah satu di antara kita harus menolak. Itu bisa memungkinkam perjodohan kita akan dibatalkan." Usul El Bara. "Kalau begitu kau saja yang menolak." Titah Ariana. "Tidak bisa." Tegas El Bara. "Ayahku baru saja sembuh dari sakitnya. Kau saja yang menolak dan bicara pada Ayahmu!" titah El Bara. "Tidak." Tolak Ariana kukuh, "Ide ini munculnya dari kamu. Jadi, kamu yang harus menolak." Lanjut Ariana. "Tidak bisa!!!" Tegas El Bara sama menolak. Ia punya alasan sendiri. Yaitu, kesehatan Ayahnya. Ariana diam sejenak, mencibir dalam hatinya, bagaiaman kesan pertama bertemu. Ternyata, beruntung sekali dari awal hatinya sudah menolak dan punya feeling sendiri. Dan sekarang sudah terbukti. Pria egois, arogan, dan hanya memikirkan dirinya sendiri. "Ini tidak adil." Ungkap Ariana tegas mengeluarkan pendapatnya, "Ternyata kau egois juga." "Apa kau bilang? Egois. Saya sudah mengatakan alasannya. Itu bukan egois." Sangkal El Bara. Ariana kembali mencibir dalam hatinya, pria kukuh dan tidak tahu malu. "Bagaimana kalau kita sama-sama bicara pada orangtua masing-masing untuk penolakan ini. Lebih fair-kan?" Usul Ariana menengahi. Kali ini, Ia mau mengalah demi batalnya perjodohan ini. El Bara tampak menghembuskan nafas kasar, "Baiklah, tapi saya tidak janji." Dari jauh, gerak gerik mereka di pantau oleh kedua orangtua masing-masing dari meja. "Sepertinya mereka cocok. Sudah akrab saja. Dari tadi Bunda perhatiin, mereka asyik ngobrol." Ucap Nayara sembari mengulum senyum. Matanya fokus tertuju pada putra dan juga calon menantunya itu. Malik dan El Nino mengangguk bersamaan dengan mata fokus tertuju pada Ariana dan El Bara. "Iya, mudah-mudahan saja rencana perjodohan kita berjalan lancar." Timpal El Nino pada sahabatnya. Malik mengangguk, "Kita memang serakah, sebagai teman saja tidak cukup. Dengan perjodohan ini kita akan menjadi keluarga secara utuh." jelas Malik. Inilah tujuan mereka berdua, mengeratkan tali kekeluargaan. Dari kehamilan pertama istri mereka berdua. Sama-sama sudah sepakat akan menjodohkan. Namun, karena kedua anak mereka sama-sama laki-laki, mereka tak jadi menjodohkannya. Mereka masih berfikir positif, fikirnya masih ada kehamilan kedua. Namun, kenyataannya, Anak kedua El Nino, sama laki-laki juga, hingga kehamilan ketiga, Anak El Nino laki-laki juga. Mereka sudah putus asa, sedang istri Malik tak kunjung hamil. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian istri Malik hamil dan melahirkan anak perempuan, di namai Ariana Malik Begitulaj, anji itu berawal dari sana, Mereka sepakat menjodohkannya. Bagaimana ini, kedua orangtua semangat untuk menjodohkan mereka, sedangkan putra-putra mereka pun sama tak kalah semangat untuk menggagalkan rencana mereka. Dari awal saja sudah kompak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN