Bagi El Bara, tinggal di kota Batam adalah keputusan yang tepat. Di tempat ini, tak ada satu orangpun yang akan melihatnya dengan rasa iba. Semuanya, tertutup rapat bagaimana kehidupan di masa lalunya.
Yang mereka tahu, El Bara adalah atasan yang baik, bijak, dan penggila kerja. Ya, terkecuali untuk yang satu ini, kebiasaannya masih sama seperti dulu, penggila kerja.
"Sekali-kali jalan atau makan malam bersama, biar tim-mu tidak kriting mikirin kerjaan mulu. Mereka butuh refresing juga, Boss muda." Sindir El Raka, paman dari El Bara. Usianya jauh di bawah El Bara.
"Tidak perlulah, paman. Nanti pulang jalan-jalan yang ada kecapean dan beralasan tidak masuk kerja." Sangkal El Bara, sibuk dengan berkas di tangannya.
"Ah, payah. Boss pelit." Kini El Raka mengatainya. "Lagian project kali ini lebih dari cukup buat traktir satu perusahaan." Lanjutnya lagi.
El Bara terlihat masa bodo, tak menanggapi ocehan paman mudanya itu, Ia kembali sibuk dengan berkasnya.
El Raka melihatnya merasa kesal. Dalam hatinya menggerutu, lebih baik keponakan tua dan monoton ini kembali lagi ke Jakarta. Selama dua tahun di sini membuatnku tak leluasa berbuat apa-apa.
Kemudian, terdengar suara ketukan dari balik pintu, El Bara menyuruhnya masuk, kemudian muncul seorang wanita cantik dengan penampilan menarik, baju kerja yang dipakainya pas ditubuhnya yang tinggi semampai, namun masih terlihat sopan.
"Permisi, Pak El Bara." Ucap wanita itu dengan senyum menawan, Ia adalah Shanum.
El Bara menghentikan sejenak berkas yang ada di tangannya, Ia menoleh ke arah Shanum.
"Sore ini, Pak El Bara free, tidak ada kegiatan. Saya hanya akan membacakan jadwal besok. Ada meeting penting sekaligus makan siang bersama dengan Pak Aldebaran, pemilik Perusahaan Sandjaya. Kemudian, sorenya pertemuan penting dengan Pak H. Jaelani, terkait pembahasan rumah yatim piatu." Terang Shanum dengan lancar.
El Bara mendengarkan dengan baik, Ia mengangguk.
Dirasa tak ada kepentingan lain, Shanum pamit undur untuk kembali ke kubikelnya.
"Tunggu, Shanum." El Bara berhasil menghentikan langkah kaki Shanum yang berada di ambang pintu keluar.
Shanum kembali menghadap, "Baik, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Shanum berbicara formal. Padahal sebenarnya mereka berdua adalah teman dekat.
"Beritahu pada karyawan bagian tim-office. Malam ini, kita akan makan bersama. Tempatnya di mana, kamu yang atur." Ucap El Bara, tidak ada salahnya jika melakukan hal seperti ini sekali-kali.
Shanum sempat tak percaya. Namun, sedetik kemudian Ia mengiyakan perintah atasannya. Kemudian kembali pamit undur untuk keluar.
Serasa ada petir menggelegar di cuaca kemarau, hal yang jarang terjadi. Itulah yang El Raka rasakan, "Kamu serius, El Bara?" Tanyanya seolah tak percaya.
El Bara menatap tajam paman mudanya itu, "Jangan banyak komentar, lebih baik kau belajar bagaimana cara mengurus perusahaan Ayahmu ini agar lebih maju." Sindir El Bara.
Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa El Bara tinggal di Batam, selain menata hatinya, Ia membantu mengurus perusahaan kakeknya. Paman mudanya ini hanya tahu bagaimana menjalankan misi untuk mendekati wanita.
"Kakekmu, El Bara." Timpal El Raka dengan wajah masa bodo.
El Bara semakin menatap tajam.
"Ini keponakan tidak ada hormat-hormatnya sama sekali. Aku ini pamanmu." Ucap El Raka.
Shanum segera menyampaikan apa yang diucapkan Bos El Bara tadi diruangannya. Semua karyawan sempat tak percaya saat mendengar pemberitahuan bahwa akan makan malam bersama, tapi mereka semua senang.
"Beneran Bu Shanum?" Tanya Tara sekali lagi, bagian divisi satu.
Shanun mengangguk. Semua sorak bersamaan.
"Jadi, malam ini nggak lembur dong." Tanya pria berambut kriting bernama Yuza.
Shanum lagi-lagi mengangguk. Ia tersenyum melihat kegirangan karyawan lainnya. "Siap-siap, sudah sholat magrib kita berangkat."
Mereka semua mengangguk dengan antusiasnya.
Restaurant yang di pilih oleh Shanum memang rekomended sekali. Selain tempatnya luas, makanan di sini sangat enak dan tengah viral.
Suasana restaurant terasa hangat, cocok untuk berkumpul dengan keluarga atau bersama sahabat. Keadaan sekitar dipenuhi hiasan yang memanjakan mata. Ada dua pilihan, tempat di dalam dengan sejuknya ac dan juga di penuhi hiasan dinding yang estentik. Sedangkan di luar, banyak tanaman hias besar dan juga gemerlap lampu kecil berada di sepanjang dinding pembatas, jika melihat ke atas, akan disuguhkan pemandangan berupa lautan bintang dan satu bulan, jika memang cuaca malam cerah. Tidak itu saja, ada ruangan lainnya berada di lantai dua, khusus untuk privasi, suasananya tak kalah mewah.
Semua sudah berkumpul, awalnya canggung karena selama karyawan mengenal, El Bara adalah Bos yang monoton, berwajah dingin dan sangat membosankan. Tapi, malam ini tampak berbeda, El Bara terlihat ramah dan begitu care, mereka baru tahu sisi dari bosnya itu.
Acara makan malam bersama berjalan lancar, semua memutuskan pulang karena waktu sudah malam. Mereka semua mengucapkan terimakasih dan mengaku sangat menikmati waktu bersama yang langka ini.
"Terimakasih banyak, Pak El Bara. Semoga kedepannya akan terus ada event seperti ini." Celetuk salah satu dari mereka yang memang suka asal bicara.
Daffin tersenyum, senyum untuk pertama kalinya bagi karyawan lainnya, seketika semuanya terpesona, dan mengakui itu semua.
"Tapi, jangan dibuat alasan besok tidak masuk kerja karena alasan cape." Ucap El Bara.
Semua mengangguk. Ketika semuanya sudah pergi, tinggalah El Bara dan Shanum.
"Di jemput?" Tanya El Bara.
Shanum menggeleng, "Mau naik taksi on-line saja." Jawabnya.
"Kamu nggak usah pesan taksi on-line. Biar aku aja yang anterin kamu pulang."
Shanum tersenyum, ini bukan kali pertama El Bara mengantarnya pulang. Tapi, moment ini sangat langka bagi dirinya, "Baiklah."
Dalam perjalanan pulang, mereka berdua banyak mengobrol. Tepatnya, Shanum yang selalu mengawalinya. Hingga tak terasa, gerbang apartemen Shanum sudah terlewati. Mobil berhenti di depan. Sebelum beranjak keluar, Shanum sekali lagi mengatakan sesuatu yang sering Ia katakan sebelumnya.
"Aku bahagia, El Bara. Kamu mulai bisa melupakan masa lalumu. Jika butuh sesuatu dan ada apa-apa, aku akan selalu ada untukmu." Shanum menatapnya dalam.
El Bara tersenyum, lalu membalas menatapnya, "Terimakasih Shanum, Kamu memang temanku yang paling baik."
Shanum tersenyum, senyuman yang berbeda, "It's ok. Ya udah, hati-hati di jalan." Shanum segera keluar dari mobil El Bara.
El Bara segera melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Shanum.
Setibanya di rumah, tepatnya di rumah kakek. El Raka menyambutnya dengan meriah di depan pintu ruang utama. Ia menggandeng keponakannya sembari menepuk punggung beberapa kali.
"Kamu anterin Shanum pulang nggak?" Tanya El Raka tiba-tiba.
"Apa urusannya sama kamu, aku anterin atau tidak." Ucap El Bara. Menurutnya, El Raka terlalu ikut campur.
"Kamu jangan mainin perasaan anak orang dong. Kalau suka langsung aja nikah."
Apa maksudnya? El Bara menautkan kedua alisnya, bingung.
"Gini, El Bara. Aku sering merhatiin Shanum, cara dia menatap kamu itu beda. Sepertinya, Dia suka sama kamu? Kalian juga sering pergi berdua, kan?"
El Bara menatap pamannya dengan tatapan tidak suka, "Sok tahu!!!"
"Ya ellah, cuma karena kamu pernah gagal menikah. Kamu nggak mau menikah, ya?"
El Bara semakin menatap tidak suka. El Raka kali ini sudah melebihi batasannya mencampuri urusan hatinya. Memangnya, yang merasakan luka itu siapa? Dirinya sendiri. Seenaknya jidat mengatakan hal tersebut.
El Baru melepaskan tangan yang menggandeng dirinya, lalu melangkah cepat ke arah kamar.
"El Bara." Panggil seseorang, yang pastinya bukan El Raka. Ia sangat mengenal suara itu.
Langkah El Bara terhenti lalu menoleh, ternyata kakeknya yang memanggil.
"Kamu susah sekali dihubungi. Nomor kamu tidak aktif." Ucap pria paruh baya yang umurnya tak lagi muda, namun masih terlihat gagah.
El Bara mengambil ponsel yang ada di saku jasnya, memeriksanya. Kemudian, memperlihatkan layar ponsel yang tidak menyala itu artinya tidak aktif, "Baterai ponselnya habis, dan aku lupa cas." Alasannya.
"Setiap susah dihubungi, alasannya selalu sama."
El Bara hanya tersenyum kekeh, dan segera berlalu ke kamar. Ia sudah tahu arah kemana kakeknya akan bicara. Sang Kakek yang bernama El Barka segera menyusulnya.
El Bara tampak sibuk membuka sepatu, jas dan juga bajunya. Ia tak perduli sama sekali dengan keberadaan sang kakek yang sejak tadi melihat aktifitasnya.
"Tadi Bundamu telepon." Ucap El Barka.
El Bara kemudian membuka celana panjangnya, kini hanya meninggalkan sisa celana boxer, lalu menatap ke arah sang kakek yang tampak duduk di bibir ranjang dengan satu tangan memegang tongkat saktinya, "Kali ini alasannya apa lagi?" Tanya El Bara yang sudah tahu.
Sang Kakek memukul perut kotak-kotak El Bara dengan tongkatnya, "Kau ini. Ini bukan alasan."
El Bara mengaduh kesakitan, Namun, seketika diam saat perkataan selanjutnya sang kakek ucapkan.
"Ayahmu sakit, sudah satu minggu di rawat." Ucap Kakek dengan nada sedih.
Meskipun banyak cara alasan yang Bundanya lakukan agar El Bara mau kembali pulang. Tapi, tidak dengan alasan sakit. Itu artinya, ini bukan alasan tapi kebenaran.
El Bara diam, berlalu ke kamar mandi.
"Dasar anak jaman sekarang. Orangtua bicara malah kabur ke toilet."
Keesokan harinya.
El Bara tak menyangka, dua tahun meninggalkan kota yang telah memberinya luka, kini Ia kembali. Ya, dengan alasan itu, akhirnya El Bara mau kembali ke Jakarta.
Salah satu adik El Bara yaitu El Rumi menjemputnya di Bandara. Mereka berpelukan. Kemudian, dua pria itu segera masuk ke mobil dan melaju menuju rumah sakit di mana tempat Ayahnya di rawat.
"Kamu kapan kembali?" Tanya El Bara saat di mobil dalam perjalanan.
"Semalam. Bunda yang telepon." Jawab El Rumi.
"Oh."
Hanya itu, setelahnya tak ada lagi obrolan, hingga mobil yang membawa mereka sudah sampai.
El Rumi lebih dulu masuk atas perintah El Bara, Ia ingin pergi ke toilet dulu. Sebenarnya, bisa saja menggunakan toilet di ruangan Ayahnya. Namun, panggilan alam tak bisa menahannya lagi.
El Bara merasa lega, Ia segera menyusul El Rumi. Segera masuk ke dalam lift agar lebih cepat sampai.
Rupanya, El Bara tak sendirian, ada seorang wanita muda cantik memakai hijab berwarna lilac.
Keduanya sama-sama cuek. Hingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan saat akan menekan angka lima.
Wanita muda itu langsung menarik tangannya. Membiarkan El Bara yang menekan angka tersebut.
El Bara tak meminta maaf, meliriknya saja. Ya, sama halnya dengan wanita itu. Keduanya bungkam dengan kesunyian, yang terdengar hanya suara lift berjalan.
Ting.
Pintu lift akhirnya terbuka, keduanya sama-sama diam, sama-sama mempersilahkan untuk keluar duluan, jangan sampai tragedi terulang, bertabrakan karena berbarenagan. Tapi, yang ada keduanya diam cukup lama.
Akhirnya, El Bara yang keluar lebih dulu. Dengan segera, Ia melangkah cepat menuju ruang inap Ayahnya.
Saat membuka pintu, dalam ruangan ternyata cukup ramai. Banyak orang di sana. Tapi, tidak sebayak orang sekampung juga.
"Assalamu'alaikum." Suara El Bara membuat semuanya menghentikan obrolannya, lalu dirinya menjadi pusat perhatian.
"Wa'alaikum salam."
Sang Bunda yang bernama Nayara langsung menyambut kedatangan sang putra.
El Bara mencium punggung tangan sang Bunda. Lalu, Nayara segera menggandengnya ke dekat ranjang Ayahnya yang tengah berbaring lemah.
El Bara melakukan yang sama, mncium punggung tangan sang Ayah yang tengah di pasang infus.
Sang Ayah El Nino tersenyum meski wajahnya terlihat lemah dan pucat.
"Kata Dokter, Ayah kecapean. Tekanan darahnya naik." Ucap Nayara tiba-tiba menjelaskan. "Bagaimana tidak kecapaen, Semua urusan perusahaan diurus sendiri. Punya tiga putra sama sekali tidak berguna." Sindir Nayara pada ketiga putranya yang memang kebetulan sedang kumpul semua.
El Rumi dan El Fatih yang sudah dekat bibir ranjang Ayah menyahut.
"Bunda kan tahu sendiri, Rumi nggak bisa urus-urus perusahaan, apalagi gambar rumah." Jawabnya beralasan, "Rumi bisanya pegang Kamera." Lanjutnya lagi.
Memang putra kedua dari pasangan El Nino dan Nayara ini berprofesi sebagai Forografer. Bakat ini di dapat dari keluarga sang Bunda. Ya, Ayah dari Nayara seorang Fotografer. Jadi, bakatnya menurun pada sang cucu.
"Fatih apalagi, Bun." Kini El Fatih yang menyahut. Putra bungsu yang sedang kuliah jurusan kedokteran, Ia calon Dokter.
Semua mata tertuju pada El Bara. Sebenarnya, hanya El Bara satu-satunya yang akan menjadi penerus perusahaan ELPA Group yang berjalan di bidang jasa Arsitektur.
El Bara menahan nafas. "Sekarang, yang utama Ayah sembuh dulu. Soal bagaimana perusahaan, El Bara fikirkan lagi." Jelas El Bara menyudahi sindiran Bunda dan kedua adiknya. Ia tahu jika tidak mengatakan itu, sindiran itu akan berlanjut.
"Ayah pasti sembuh, El Bara. Katanya, Ayah mau menyaksikan pernikahan ke tiga putranya. Juga mau maen sama cucunya." Ucap Nayara, yang semakin jauh berkata.
Kemudian, Nayara berdehem memberi kode pada sang suami. El Nino mengangguk.
"Sampai lupa, ini kenalkan teman Ayahmu, Om Malik." Nayara memperkenalkan.
El Bara dan Malik berjabat tangan. Ia seperti mengenal sosok Pria paruh baya yang seumuran Ayahnya. Hanya saja, badannya gemuk.
"Om Malik, Ayahnya Ibra, bukan?" Tanya El Bara memastikan.
Malik menagngguk, "Iya, saya Ayahnya Ibra. Kenal?" Tanya Ibra kemudian.
"Kebetulan kenal di Bisnis saat di Batam." Jelas El Bara.
Malik tampak menagguk-anggukan kepalanya, tersenyum dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tak lama terdengar suara wanita mengucap salam. "Assalamu'alaikum."
Serempak menjawab, "Wa'alaikum salam."
"Ini kenalkan putri saya, Ariana." Ucap Malik memperkenalkan putri bungsunya.
Ariana mencium punggung tangan Nayara dan juga El Nino. "Ini putri Om Malik, Aku sih kenal, Ayah. Ini kan pemilik butik langganan Mama." Ucap Nayara sumringah.
"Wah kebetulan apa lagi ini yah." Ucap Malik.
Nayara terkagum dengan kecantikan yang Ariana miliki. Cantik alami. Bukan dirinya saja namun dengan yang lainnya.
Namun, tidak dengan El Bara. Ia tampak biasa saja, tak sedikitpun mau menoleh ke arah wanita yang baru saja datang.
Kemudian tanpa di duga, El Nino mengatakan sesuatu yang membuat jantung El Bara loncat dari tempatnya. "Ini sudah takdir, Malik. Mumpung kedua anak kita ada di sini. Bagaimana kita membahasnya sekarang juga. Tentang perjodohan yang sudah lama kita rencanakan."
"Hah?" Wajah El Bara mendongkak, menatap sang Ayah yang begitu lancar berbicara. Kemudian tatapannya beralih ke arah Ariana.
Wanita yang ada di lift tadi.
Kemudian, mata mereka bertemu dengan tatapan yang sulit di artikan.