“Pagi, Tan. Udah mau berangkat kuliah ya?” sapa Bu Nana, saat aku baru saja mengeluarkan motor matic ke halaman rumah. Bu Nana ini adalah ibunya Pak Dika dan saat ini dia sedang menyiram tanaman kesayangannya di depan rumah. Orang tua Pak Dika memang sudah kembali pulang, sehari setelah kejadian itu. Duh, nggak usah diingetin ya soal kejadian itu. Soalnya jantung aku suka mau copot kalau inget moment mendebarkan itu. Asli, aku berasa naik rolercoster saat itu. Soalnya wajah kami tuh deket banget. Saking deketnya, bisa langsung nempel kalo gerak dikit aja. Untungnya nggak sampai kejadian dong. Soalnya aku terselamatkan oleh bunyi bell pintu yang menginterupsi tiba-tiba. Mbak Ida datang di waktu yang tepat, karena berkat dia, aku langsung bisa kabur ke rumahku dengan aman sentosa. Big

