Sembilan belas. “Panas banget di kost, La,” keluh Kiyo, lalu dia membuka jaketnya. “Kayaknya mau ujan.” “Mana ada ujan di bulan Juni, Kiyo!” Aku memindahkan jaket Kiyo yang tadi -dengan sembarangan- oleh Kiyo dilemparkan ke pangkuanku. Untung gak kena nasi uduk yang lagi aku makan. “Bisa aja, ujan kiriman gitu?” Kiyo merebahkan badannya di sofa sampingku. “Kiriman siapa? Mbah dukun?” Aku terkekeh. “Sumpah, ini panasnya kebangetan.” Kiyo meneguk air mineral di botol yang tadi dia bawa hingga habis. “Kamu masak gak ngerasa panas sih?” “Aku kan puasa, ya biasa aja. Btw, makasih nasi uduknya... untung aja si ular keriting udah pulang tadi pas ashar.” “Nadin di sini tadi.” Aku mengangguk, tanda setuju. “Ngapain?” “Dia mau pinjem sepatu olahraga.” “Kamu kasih pinjem?” “Ya enggak lah. K

