DUA PULUH TUJUH  Aku paling gak suka kalau dilanda panik. Dan aku kira kepanikan terbesarku adalah saat aku tersesat di depan distro di Bali. Tapi ternyata, gak tersesat pun aku bisa panik. Kayak sekarang. Aku mematut diri di depan cermin. Menatap pantulanku yang hari ini luar biasa berbeda. Dengan gaun berwarna navy, yang tidak bisa aku deskripsikan gimana perwujudan gaun ini. Pokoknya bagus.  Juga hair do yang luar biasa amazing, mahakarya dari bundaku. Dan buket bunga berwarna pink di tanganku.  Debaran gila di dalam tubuhku ini semakin membuatku panik, saat pintu kamarku terbuka. Dengan sosok cantik mengenakan gamis berwarna senada dengan gaunku. Bundaku, senyum sumringahnya sedikit membuat kepanikanku berkurang. “Kiyo udah dateng,” kata bunda. Beliau menggiringku untuk

