DUA PULUH SATU Kiyo masih menatapku sendu di balik matanya yang sayu. Aku pun masih menatap Kiyo dengan tatapan terluka. Elah.. Nala drama. “Hmm?” ulangku. Aku masih menunggu jawaban Kiyo soal tadi. “Kamu nyesel?” “Aku bukannya nyesel, La. Aku cuma ngerasa kayak cowok resek. Ambil kesempatan dalam kesempitan.” “Tadi mana sempit?” “Aduh, La. Jangan bahas-bahas sempit deh, pikiranku ntar ke mana-mana, La. Aku lagi sakit, La. Badan gak fit ini, jadi bikin imanku rapuh.” Aku tertawa kecil. Menatap Kiyo lucu. “Ya udah sih, makanya cepet sembuh.” “Malah ketawa lagi. Aku serius, La, aku minta maaf. Lain kali gak lagi deh.” “Yah masak gak lagi sih?” “Gak lagi sebelum kita nikah.” Lalu sesuatu itu mulai menggangguku. Bukan setan maupun bisikkannya. Melainkan pembicaraanku dengan duo N dua

