Tunggal

1079 Kata
Suara tawa yang manis dengan kekehan kecil membuat siapapun yang mendengarnya ikut gemas. Tubuh mungil yang tak sepadan dengan pipi bulat yang memerah serta gigi kelinci yang membuatnya kian manis. Langkah mungil yang diiringi oleh suara gemerincing dari sepatu yang dipakainya dan kedua tangann yang bersusah payah membawa sebuah mobil mainan untuk diberikan kepada teman-teman barunya. "Mobil. Liam bawa mobil-mobilan, ambil." Tak dapat dipungkiri kebahagiaan yang dirasakan oleh Liam kecil yang notabenenya adalah anak tunggal dapat berinteraksi dengan anak-anak seusianya tanpa harus khawatir dengan omelan dari pengasuhnya. Sejak usia empat puluh hari Liam sudah diasuh oleh seorang wanita kepercayaan keluarga Admaja bernama Wiwit, sehingga tak jarang Wiwit berani mengomel dan melarang Liam jikalau anak itu sulit untuk diasuh, apalagi belakangan ini Liam terus saja merengek ingin memiliki seorang teman untuk diajaknya bermain dikala bosan belajar bersamanya. Ditengah keramaian yang penuh haru itu Liam kecil itu tampak meneteskan air matanya, hal itu tak luput dari perhatian kedua orangtuanya yang mengamatinya dari kejauhan. Menyadari sesuatu terjadi pada sang putra, segera mereka mendekati Liam untuk menenangkannya. "Ada apa, Nak?" Liam kecil yang dipeluk oleh sang ibu pun tak dapat membendung air matanya dan menangis keras. Melihat Liam yang tak kunjung tenang, mereka membawanya sedikit menjauh dari keramaian dan mencoba kembali menghibur Liam. "Tenang ya, Nak. Ada Papah dan Mamah disini," ucap Darren menepuk-nepuk punggung Liam yang masih bergetar dengan terisak-isak. Sebenarnya pun sebagai orang tua. Aretha dan Darren cukup heran dengan Liam yang tiba-tiba saja menangis sementara mereka sangat tahu kalau sang putra bukanlah tipikal anak yang mudah menangis. Sekalipun Liam rewel pasti akan dengan mudah membalikkan suasana hatinya. "Anak Papah kecapean, ya?" Liam menggeleng sambil terus menangis. "Mau pulang, Nak?" Sekali kali Liam menggeleng bersamaan dengan Setelah berkali-kali mencoba akhirnya Liam menjadi tenang dan dapat diajak berbicara. "Anak mamah kenapa?" Darren memindahkan Liam ke pangkuan Aretha, "Coba ceritakan sama mamah dan papah." "Li-liam suka, Pah." "Lalu apa alasan Liam menangis? Apa ada sesuatu yang ingin Liam katakan pada Papah dan Mamah?" Aretha bertanya dengan sangat lembut, harap-harap putranya ingin terbuka. Liam menyeka air matanya dengan tangan mungilnya lalu menatap kedua orang tuanya, "Liam ingin mereka jadi teman." "Tentu saja. Kapanpun Liam bisa berkunjung dan bermain kesini. Papah dan Mamah tidak akan melarang." Anggukan kecil dari Liam, "Bu-bukan itu, Pah." "Kalau begitu jelaskan pada kami. Biar Papah dan Mamah tahu maksud Liam," bujuk Darren. "Liam hanya kesepian. Banyak teman-teman Liam yang memiliki saudara untuk diajak bermain dan bercanda, ta-tapi kenapa Liam cuma ada Biwit?" Saat detik itu juga Aretha dan Darren terasa tersadar atas apa yang dirasakan oleh putra semata wayangnya. Kesepian diantara keramaian tentu menjadi perasaan kekal dalam benak Liam yang tak selalu didampingi oleh kedua orangtuanya. Sepanjang waktu mereka sibuk dengan kesibukan dan urusan pekerjaan membuat Liam kecil hidup dengan kesepian yang dibungkam oleh keadaan. Melihat kedua orangtuanya yang hanya diam tanpa sepatah kata tentu membuat anak lelaki itu semakin dilanda gundah. "Liam kesepian. Liam cuma ingin teman yang selalu ada untuk Liam," adu Liam. "Biwit kan ada, Nak?" Aretha menimpali. Liam menggeleng cepat, "Memang ada. Tapi bukan Biwit yang Liam maksud." "Biwit akan sedih mendengarnya. Selama ini Liam selalu senang kan jika ditemani oleh Biwit?" Kali ini Darren yang menimpali. Rasa bersalah muncul dalam benak Liam. Dia tidak bermaksud untuk tidak menganggap Biwit, dia hanya ingin memiliki teman yang seusianya. "Maaf, Pah." Liam menunduk sambil memainkan kedua jari-jari mungilnya. Darren memeluk putranya, "Tidak apa. Papah dan Mamah akan lebih sering bermain dengan Liam. Kami akan berusaha." _______________________________________ Waktu telah berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa usia Liam telah genap berusia lima belas tahun. Selama itulah Liam hidup tanpa ditemani oleh saudara kandung yang diinginkannya. Tak memaksa, namun masih ada setitik harapan bagi Liam untuk memiliki seorang adik untuk menemaninya. Meskipun sekarang dia sudah memiliki banyak teman seusianya, tapi tak menutup kemungkinan rasa kesepian terkadang hadir menemaninya. Setiap kali Liam melihat Hardin berinteraksi dengan sang adik membuat rasa iri kembali muncul tanpa diminta. Apalagi dia dapat juga merasakan perasaan hangat yang belum pernah dirasakannya sebagai anak tunggal. Bahkan tak jarang Liam memilih menginap di rumah Hardin hanya untuk bermain dengan adik kembar Hardin yang baru saja berusia lima tahun. Tawa mereka yang mengisi relung kosong dalam jiwanya dapat sedikit demi sedikit menghibur rasa kesepian yang selalu menemaninya hampir belasan tahun. Sepulang sekolah Liam berencana mengunjungi toko buku yang berada tak jauh dari sekolahnya. Tak jauh, namun butuh waktu sepuluh menit berjalan kali untuk sampai di toko buku tersebut. Toko buku tersebut sudah menjadi tempat belajar Liam sejak masuk sekolah menengah pertamanya. Sesekali dia datang untuk membeli buku ataupun menghilangkan rasa jenuh usai pulang dari sekolahnya. Hari ini Liam membutuhkan banyak informasi untuk mempersiapkan materi yang akan dipaparkannya didepan teman-temannya sebelum menempuh ujian praktek minggu depan. Presentasi ini pun menjadi salah satu nilai tambah bagi mereka yang suka rela untuk menyampaikan materi didepan teman-teman kelasnya. Maka dari itu Liam dengan berani mengajukan diri agar nilai kelulusannya dapat semakin baik dan memuaskan. Oleh karena itu, diakhir masa sekolah menengah pertamanya Liam disibukan dengan kegiatan belajar. Bahkan terkadang Liam harus memotong waktu tidurnya agar nilai ujiannya memuaskan karena, sulit sekali bagi Liam untuk mencapai target ranking yang dimilikinya sekarang. "Mau gue anter, Raf?" Di sekolah Liam memang lebih sering dipanggil Rafi atau Fidan, sesuai dengan nama depannya. Hanya orang tertentu yang memanggilnya dengan nama tengah, yaitu Liam. "Ga usah, Din. Gue nunggu Biwit jemput aja," tolak Liam sambil memasukan bukunya satu persatu ke dalam tasnya. "Udah mau malem. Gue anter aja ya? Ga jauh rumah Lo dari sini," bujuk Hardin. "Makasih, tapi gue nunggu aja. Bentar lagi Biwit sampe kok, ga enak kalau gue balik sama Lo tapi Biwit kesini." "Kalau gitu gue duluan ya, Raf. Sampai rumah kabarin jangan sampe Biwit nyariin Lo ke rumah gue nanti." Memang benar beberapa waktu lalu Liam pergi ke taman dekat sekolahnya untuk bermain dengan anak-anak panti asuhan. Tapi karena kelalaiannya Liam lupa untuk memberitahu orang rumah, sehingga mereka mencari Liam sampai ke rumah Hardin. "Ga bakal, Din. Gue udah kirim pesan ke Biwit. Bentar lagi Biwit mesti sampe kok, hati-hati dijalan." "Besok jangan lupa bawa materinya. Gue tunggu di ruang aula besok," teriak Hardin sambil berlari kecil ke mobilnya. Setelah Hardin pergi, Liam memilih duduk didepan toko sembari menunggu dia menikmati kopi dan biskuit yang dibelinya. Dari posisinya duduk dia dapat melihat orang-orang sibuk berlalu lalang didepannya. Tak jauh dari tempatnya duduk terdapat kerumunan yang menarik perhatiannya. Pada awalnya Liam hanya memandangnya, tapi lama-kelamaan dia menjadi tertarik untuk mencari tahu bahkan menghampiri kerumunan tersebut. TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN