Makan malam

1291 Kata
Saat itu umur Alif masih di bilang terlalu dini untuk mengenal alat-alat olahraga dan teman-temannya. Tapi anak itu sudah antusias masuk ke dalam latihan taekwondo. Mama dan Papanya bahkan setuju aja. Walau anak mereka merasa nyaman. Setiap hari Alif latihan. Tanpa mengenal rasa lelah. Bocah laki-laki itu mereasa sangat bebas di kala berlatih taekwondo atau olahraga di pagi hari ini. Dia merasa dunianya hanya sebatas itu. Nilai di non-akademik nya pun bagus. Hanya saja di akademik dia sangat kurang. Di kelas tiga dasar. Hari itu mereka di kirim ke luar kota untuk tanding dengan salah satu angkatan di sana. Alif yang terpilih pun semakin bangga dengan keberhasilannya. Namun, ada salah satu teman Alif yang merasa iri dengan kemampuan Alif sendiri. Rasa iri itu memang wajar saja. Tapi sangat di sayangkan kalau rasa iri bercampur dengan rasa dendam. Sehari sebelum keberangkatan ke luar kota. Alif di tahan dengan temannya itu. Mereka sempat larut dalam perdebatan yang cukup panjang. Sampai Alif sendiri jengah dan muak akhirnya pun mendorong tubuh temannya sampai tersungkur di lantai kamar mandi. Karena tidak terima dengan perbuatan Alif. Temannya tadi berdiri dan ikut membalas. Dan perkelahian itu pun tidak terelakkan lagi. Alif sudah terlanjur emosi pun memakai jurus taekwondo yang selama ini dia pelajarin. "Kamu nggak pantas pergi ke pertandingan itu. Seharusnya aku yang pergi bukan kamu?!" teriak temannya mengamuk. Wajah Alif kecil memerah. Sehingga tanpa pikir panjang melayangkan tendangan yang mampu membuat temannya jatuh dan tak berdaya di lantai nan dingin itu. Alif sendiri tergugu di tempat. Matanya menatap khawatir temannya itu yang sudah tidak sadarkan diri. Alif ingin mendekat. Tapi sudah terdahulu oleh gurunya yang tiba-tiba datang. "Apa yang terjadi?" tanya pria yang selama ini Alif panggil guru pelatih. Alif bungkam dan tidak berani menjawab. Guru tadi segera membawa tubuh buh temannya ke kuar dari sana. Pertandingan batal karena temannya tadi cidera. Begitu parah cideranya. Alif bahkan di intograsi dan anak itu memilih tetap bungkam saja. Hingga semuanya terkuak setelah temannya tadi sadar. Alif di ke luarkan dari tempat latihan karena sudah menggunakan jurus untuk melukai teman sendiri. Hal itu membuat Alif cukup terpuruk. Sejak itu Alif memutuskan tidak mau memegang alat yang berhubungan dengan taekwondo dan alat olahraga lainnya. Bisa di bilang Alif cukup trauma. Karena takut menyalahgunakan kemampuan yang dia punya. Membuat anak itu pindah aliran yaitu memilih belajar giat segiatnya dan mengasah otaknya yang selama ini tidak pernah ia asah sedikit pun. "Alif tidak akan pernah jadi seorang taekwondo yang terkenal karena kehebatannya. Karena seorang Alif sudah di takdirkan untuk jadi seorang kutu buku." Seringai temannya kala itu. Alif menatap datar temannya. Meski kedua tangannya di sisi kanan dan kiri terkepal kuat. Alif berjalan tergesa dan sengaja menabrak bahu temannya. Membuat anak laki-laki itu jatuh ke lantai. Senyum miring Alif tercipta. Lebih tepatnya menyeringai ke temannya itu. "Meski aku nggak mau berlatih lagi. Setidaknya kamu tetap kalah kalau berhadapan dengan ku," balas Alif yang masih tersenyum miring. Mengingat masa lalunya itu. Mampu membuat Alif menghela napas panjang. Mengusap wajahnya keruh. Sungguh pertanyaan Aura yang di kolam renang tadi itu membuat dirinya terus kepikiran. Alif membuka pintu gudang. Aura tidak tau kalau di dalam sini ada terdapat beberapa alat latihan taekwondo dan sebagainya. Entah sengaja atau tidak. Alif tetap mengoleksi barang ini meski dia tidak pernah berlatih lagi sejak itu. Dia hanya takut melukai orang terdekatnya kalau dia sedang kehilangan kendali. "Ck!" decaknya saat memegang salah satu barbel kecil. Meletakkan alat itu ke tempat semulanya lagi. Kemudian Alif menatap lengannya yang tak seberapa. "Apa Aura suka cowok jago berantem?" gumam Alif. Lelaki itu merogoh saku celananya saat merasakan getaran dari ponselnya di dalam sana. Mama: nanti malam ajak Aura ke sini buat makan malam bersama. Kamu sejak nikah nggak pernah ajak istri kamu ke sini! Alif mendengkus geli membaca serentetan pesan dari Mamanya itu. Alif menghela napas berat. Bersandar di tembok gudang samnil bersedekap dadaa. Alis lelaki itu bertaut. Mencoba mengambil barbel yang sudah dia letakkan tadi. Kemudian mengangkatnya berulangkali. Sama seperti dia dulu yang masih suka melatih ototnya. Baru tiga kali mengulang hal yang sama. Alif sudah merasakan sakit di bagian lengannya. Mungkin karena sudah tidak terbiasa dengan benda itu lagi. "Nggak guna banget!" Sinting Alif sendiri. Memijit lengannya berharap mengurangi rasa nyeri itu. "Alif! Lo di mana sih?!" Teriakan itu berasal dari suara Aura yang dalam rumah. Memang gudang berada di belakang rumah. Sehingga suara dari dalam rumah dapat terdengar. *** Malam harinya sesuai dengan permintaan sang Mama. Alif membawa Aura ke rumah orangtuanya. Aura dengan celana kulot dan tuniknya berwarna coksu itu duduk manis di samping pengemudi. Sepanjang perjalanan tidak ada yang buka suara. Karena Aura sibuk dengan ponselnya sedari tadi. Dan Alif fokus mengemudi. Tapi tak urung Alif merasakan di duakan dengan ponsel Aura sendiri. Keduanya sampai di depan halaman rumah Ratna dan Beni. Mungkin karena mendengar suara mobil Alif. Ratna langsung ke luar untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya. "Assalammualaikum, Ma." Salam Aura, mencium tangan Ratna dengan sopan. "Waalaikumsalam, sayang." Ratna menyambut Aura dengan hangat. Memeluk Aura dengan senang hati. "Mama tuh kangen banget sama kalian, semenjak nikah. Nggak pernah main ke sini," ujar Ratna sedikit merajuk. "Kita sibuk sama kuliah, Ma," balas Alif dari arah belakang. Mendengkus melihat drama Mamanya yang sering dia lihat ketika tinggal di sini. "Iya, Ma. Kita sibuk karena mau ujian semester lima juga sekarang," sahut Aura. Ratna tersenyum manis. Mengusap kepala Aura dengan lembut. "Nggak apa-apa kalau gitu, Mama bisa maklumi. Tapi kalau bisa kalian usahakan ke sini seminggu sekali atau minimal sebulan sekali," jawab Ratna. "Ya, udah kita masuk aja, yuk. Mama udah masah banyak buat kamu." sambung Ratna. Membawa Aura masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Alif yang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Berasa kayak anak tiri aja," gumamnya, mengikuti Mama dan Aura dari belakang. Di meja makan sudah ada Beni yang duduk di kursi kepala keluarga. Aura langsung menyalim tangan Beni begitu juga dengan Alif. Setelah itu Alif mendorong kursi untuk Aura dan mempersilahkan istrinya itu duduk. "Duh, anak Mama perhatian sekali sama istrinya." Kagum Ratna yang sudah duduk di dekat Beni. Alif hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sedikit salah tingkah. Sedangkan Aura hanya terkekeh pelan dengan rona merah di pipinya. Siapapun yang di posisi Aura pasti akan meleleh dengan perhatian kecil dari Alif. Melihat Ratna yang mengambilkan nasi untuk Beni. Aura jadi berinisiatif sendiri. Mengambil piring Alif yang kosong, menjadikan lelaki itu terdiam sesaat karena tadi baru saja hendak mengambil nasi. Alis terangkat satu. Menatap aneh yang di lakukan Aura sekarang. Mengulum bibirnya saat Aura menoleh ke arahnya dan bertanya; "Kamu mau lauk apa?" Sungguh kali ini Aura mungkin pake 'aku-kamu' karena ada Papa dan Mama Alif di sini. Namun, Alif tetap menikmati tingkah Aura yang terlihat sangat perhatian. Beda banget sama di rumah, Aura akan bersikap semanis mungkin kalau wanita itu lapar dan mau di masakkan makanan enak untuknya. "Pake ayam goreng aja, sama sayur terus jangan lupa sama sambal matahnya," balas Alif. Melipat kedua tangannya di depan dadaa. Terus memperhatikan Aura yang sigap mengambil lauk untuknya. "Makasih istri ku," ucap Alif menerima piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk. Aura melotot kecil, melirik ke Mama dan Papa. "Apaan sih, kamu," bisiknya mencubit pinggang Alif kecil membuat lelaki itu memekik tertahan. Beni yang mendengar percakapan anak dan menantunya terkekeh geli. "Bedanya, Ma. Aura pengantin baru. Bawaannya mau bermesraan terus," celutuk pria itu. Aura jadi menunduk malu. Mengambil nasinya sendiri. Lain halnya dengan Alif dia hanya bisa tersenyum kemenangan. Aura sedikit tersentak saat Ratna tiba-tiba meletakkan sayur asem ke atas piringnya "Mama masak sayur asem buat kamu. Kata Asna kamu suka banget sama sayur ini," jelas Ratna. Aura mengangguk kecil. "Makasih, Ma," balasnya tersenyum. "Sama-sama sayang. Makan yang banyak, biar kalian ada tenaga buat cucu untuk Mama sama Papa," ucap Ratna dengan mata berbinar. Dan tersentak saat Alif tersedak mendadak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN