Hari libur sudah tiba. Aura tidak tahu harus ngapain sekarang. Alif dari setengah jam yang lalu sudah ke luar dari kamar. Dan dia tidak tahu ke mana suaminya itu sekarang.
Aura menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Wajah bantalnya sangat kentara sekali. Kening Aura mengernyit mendengar suara yang asalnya dari samping rumah.
Dia pun lantas beranjak dari tempat tidur. Membuka gorden sedikit untuk melihat di luar sana. Mulutnya terbuka sedikit, melihat Alif sedang berenang di kolam renang hanya menggunakan boxer saja.
Aura tersenyum miring. Enak juga tuh, kalau berenang di pagi yang indah ini. Lalu Aura berjalan ke dekat kamar mandi, mengambil handuknya sekalian juga handuk Alif. Baik sekali kan, dia sebagai istri.
"Alif!" teriak Aura ketika sampai di kolam renang.
Wanita itu hendak menjeburkan dirinya, tapi terurung melihat Alif sudah naik ke atas permukaan.
"Eh, udah selesai renangnya?" tanya Aura.
Alif mengangguk. Lelaki itu hanya tidak bisa lama-lama di dalam kolam renang dan itu bisa membuatnya masuk angin nantinya.
"Cepat banget, sih." Aura memberenggut. "Padahal gue mau berenang bareng sama lo, eh." Wanita itu menggigit bibirnya karena sudah keceplosan.
Alif tersenyum senang. "Yah, senang banget kalo kamu mau berenang bareng sama ku. Tapi aku nggak bisa lama-lama di kolam renang," ujar Alif jujur.
"Nggak asik banget sih, lo!" sentak Aura. Sebenarnya menghilangkan rasa malu karena sudah keceplosan tadinya.
Wanita itu maju ke depan. Mendekati Alif dan begitu cepat memeluk tubuh lelaki itu dan mendorong mereka berdua masuk ke dalam kolam renang.
Alif memekik tertahan karena sudah terlanjur masuk ke dalam kolam secara tiba-tiba. Apalagi dia tidak sengaja meminum air kolam.
Keduanya menegangkan tubuh di dalam kolam. Aura tertawa pelan melihat hidung Alif yang memerah serta terbatuk kecil. Alif pun jadi terdiam dan menatap lekat Aura yang sedang tertawa.
Tangan Alif terulur, merapikan rambut Aura yang sudah basah. Mengusap pipi wanita itu dengan lembut. Alif sedikit menarik sudut bibirnya dan memiringkan kepalanya hendak mencium Aura.
Namun, wanita itu sudah meringsut menenggelamkan kepalanya ke dalam air. Membuat Alif hanya bisa mencium angin saja.
"Hahaha ...." Tawa Aura kembali menguar melihat wajah Alif yang masam. Wanita itu menimbulkan kepalanya sedikit tidak jauh dari Alif.
"Aura," panggil Alif dengan suara menggeram.
"Apa?" balas Aura mengejek.
"Awas aja kalau dapat," ancam Alif dan mulai berenang untuk menangkap Aura. Tapi wanita itu sigap kembali menenggelamkan kepalanya ke kolam dan berenang untuk menghindari Alif.
"Kejar aja kalau kamu bisa," ucap Aura ketika sudah sampai di sudut kolam.
Alif mendelik ketika melihat Aura di sana. Lelaki itu mengusap wajahnya agar menghalau air di permukaan wajahnya. Alif kembali berenang mengejar Aura yang kini juga sudah berenang.
Keduanya terus begitu dan berhenti setelah Alif menangkap pinggang Aura. Melilitkan tangannya di sana.
"Dapat!" seru Alif senang.
Aura mendengkus tidak suka.
"Curang lo!" alibinya memikul bahu Alif agak kencang. Alif sebenarnya mau meringis tapi dia tahan karena biar tak di anggap cupu dengan istrinya ini.
Alif menatap tanya. "Curang dari mana coba?" ujarnya.
Satu tangannya beralih memegang antara leher dan pipi Aura. Membuat wanita itu sedikit merinding.
"Kami harus di hukum karena udah buat aku masuk ke kolam lagi," ucap Alif, mengusap ibu jarinya di bibir Aura.
Senyum menantang Aura pun terbit. "Hukuman apa?" tanyanya.
Wajah Alif ikut meringsut mendekat wajah Aura. Lelaki itu memasang senyum kemenangannya.
"Bikin kamu nggak bisa jalan, mungkin." ujarnya sedikit menimang.
Aura mendelik. "Lo, ah!" sentaknya. Hendak melepaskan tangan Alif yang ada di pinggangnya, tapi lelaki itu malah menekan di sana. Sehingga Aura tidak bisa bergerak hanya untuk melarikan diri.
Dan semakin pasrah saat Alif menyapu bibirnya. Awalnya Aura terkesan menolak, namun lama-kelamaan tetap menikmatinya.
Alif membuka matanya di saat ciuman itu masih berlanjut. Melihat Aura yang kini menutup mata. Tangan wanita itu sudah melingkar di lehernya tanpa dia pinta sama sekali.
Aura melepaskan ciuman mereka. Seketika asupan udara sudah menipis. Sialnya mata Aura malah salah fokus dengan bibir Alif yang tipis itu. Serta d**a yang naik turun.
Tatapan Aura beralih ke otot tangan Alif. Lelaki itu sama sekali tidak memiliki otot seperti pada umumnya. Bahkan lengan Alif sama seperti cewek. Aura mengusung senyum, mengusap bahu Alif.
"Gue penasaran kenapa lo, nggak punya otot?" tanya Aura pelan.
Alif menelan salivanya. Membuat jakun lelaki itu naik turun. Dan lagi-lagi membuat Aura salah fokus. Tangannya ingin sekali memegang itu, tapi sekuat tenang Aura menahannya.
Satu tangan Aura yang ada di leher Alif pun berjalan menuju pipi lelaki itu. "Kenapa nggak di jawab?" tanya Aura.
Alif yang sedari tadi bungkam, akhirnya memilih jujur. "Karena aku nggak pernah megang alat olahraga sejak kejadian mengenaskan itu," balasnya tersenyum kecut.
Aura mengernyit heran. Merapikan rambut Alif yang juga basah. "Kejadian apa?" Ia bertanya lagi.
Alif mengalihkan pandangannya dari Aura. Melihat keterdiaman Alif, Aura pun jadi mengerti. Wanita itu mengangguk samar. "Kalau belum siap cerita nggak apa-apa." kata Aura.
Wanita itu menunduk dan mendaratkan bibirnya di lekukan leher Alif. Mengecupnya pelan di sana dan tentu lebih dari itu saja Aura lakukan.
Mata Alif terpejam rapat. Menikmati sentuhan Aura yang begitu memabukkan. Alif menengadahkan kepalanya. Membuka mata dan melihat langit yang cerah pagi ini.
"Udah, Ra," cegah Alif. Menahan pergerakan tangan Aura yang sudah bergerilya ke mana-mana.
Wajah Aura langsung menekuk. Apalagi rona merah sangat jelas di pipi wanita itu. "Kenapa? Bukannya lo suka gue gituin? Kayak selama ini?" tanya Aura.
Wajah Alif pun ikut memerah. "Aku cuman nggak mau kelepasan di sini," jawab Alif kemudian.
Aura menangkup wajah Alif. Melingkarkan kakinya di pinggang Alif. Untung saja lelaki itu sigap menahan pinggang Aura.
"Nggak apa-apa. Kalau pun ada yang lihat, itu salah mereka. Lagian kita udah halal," balas Aura terkesan acuh.
Setelah itu mencium bibir Alif brutal. Ada yang aneh hari ini dengan diri Aura. Kenapa dia begitu agresif sekarang? Dan dia juga selalu membayangkan adegan plus-plus-nya saat bersama Alif.
Persetan dengan semua itu! Aura tidak peduli. Yang penting dia puas dan Alif juga sama. Kan, sama-sama beruntung bukan?
Aura mendongak untuk memberikan akses kepada Alif agar lebih leluasa memberikan jejak di lehernya. Lagian tidak akan yang melihat tanda merah itu. Karena Aura selalu senantiasa memakai jilbab saat di luar rumah.
Karena itu ajaran dari Mamanya sejak dia masih kecil.
"Lif," suara Aura tertahan. Wajah keduanya memerah.
Dan tanpa di perjelaskan kalian pasti tau apa yang terjadi.
Alif menahan napas melihat pantulannya di depan cermin. Memegang lehernya karena ada dua tanda ruam di buat Aura tadi.
"Sial! Kenapa Aura pake buat ini, sih!" ujar Alif kesal sendiri.
Bukan apa, nanti pasti semua orang menatap Alif aneh karena tanda itu. Setelah menyelesaikan ritual mandinya. Alif ke luar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang.
Dia menatap Aura dengan helaan napas gusar.
"Ra!" panggilnya. Mendekati Aura yang kini melakukan rutinitas skincarenya.
Jangan salah, meski Aura tomboy dia juga selalu memperhatikan perawatan wajah serta tubuhnya.
"Apa?" Aura menatap Alif lewat cermin.
"Kok, sampai kelepasan sih, kamunya, sampai buat tanda di sini." tunjuk Alif ke lehernya.
Aura sontak berdiri dan melihat leher Alif. Wanita itu meringis. Menggigit bibirnya, menatap Akif tak enak.
"Sorry, Lif. Gue nggak sengaja tadi." ucapnya sesal sambil menunduk.
"Terus, aku besok kuliah gimana?" tamya Alif lemah.
Aura mengulum bibirnya. Dia mendongak dengan binar mata. Segera mengambil foundation.
"Nah, pake ini aja. Bisa nutupin itu kok." usul Aura.
Alif menaikksn satu alisnya, menatap Aura ragu. "Emang bisa?" tanyanya.
Aura menghela napas. Mendudukkan Alif di pinggir kasur. Dan segera menorehkan foundation itu ke leher Alif.
Sambil memperhatikan Aura Alif bertanya. Yang pertanyaannya mampu membuat Aura mati kutu.
"Lagiannya, Ra. Kamu tumben banget agresif kayak tadi."