Pagi itu, Jakarta terbangun dengan riuh yang biasa—deru mesin kendaraan, teriakan pedagang, dan aroma asap knalpot yang bercampur dengan wangi tanah basah. Tapi bagi Erika, semua itu hanyalah latar samar dari pertarungan besar yang sedang menunggu di depan. Ia duduk di kursi belakang mobil hitam Alvaro, jemarinya saling meremas hingga memutih. Pandangannya keluar jendela, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang menjulang, seolah ikut mengawasi setiap langkahnya. Di sampingnya, Alvaro duduk dengan wajah dingin dan rahang mengeras. Sopir mereka, Reno, membawa mobil dengan tenang. Mereka dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang Jona janjikan—kantor kecil di pusat kota yang katanya aman untuk membicarakan rencana. Erika menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan pesan

