Elvano tersenyum kecut di samping ranjang tempat Olivia terbaring tak sadarkan diri. Sebelah tangannya mengusap puncak kepala wanita itu. ‘’Maafin aku. Maaf karena membuat kamu seperti ini.’’ ‘’Mmaksakan maaf karena terlalu memaksakan diri untuk terus bersama kamu hinggga kamu harus terbaring di sini. Tapi, kamu harus tau, aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintai kamu, Liv.’’ Elvano tak kuasa membendung air matanya, rasa bersalah menggerogoti hati pria itu karena rasa bersalahnya terhadap Oliv yang telah kehilangan calon buah hatinya. Elvano tak bisa bayangkan bagaimana reaksi Oliv saat sadar nanti dan tau bayinya sudah tak bersamanya lagi. ‘’Tuan muda,’’ Roy yang selalu siaga di samping sang bos, takut-takut bertanya. Namun, ini harus ia lakukan. ‘’Bagaimana dengan apa ya

