“Jangan pulang, Kevin. Aku takut…” lirih Zizi memelas. Membuat kaki Kevin seketika terhenti, tidak sanggup melangkah pergi. "Ku mohon, jangan pergi, Kevin. Ya?" Pinta Zizi lagi, seraya kedua tangannya menggenggam semakin erat tangan Kevin. Tangan besar itu terasa dingin dalam genggamannya. Kevin menghela nafasnya panjang, tubuhnya berputar, menghadap Zizi, meneliti wajah wanita itu yang tetap cantik dibawah sinar rembulan. “Dasar penakut!” desis bibir bergaris tegas tersebut. Perlahan ia menarik tangannya dari genggaman tangan Zizi. “Kalau kamu memang takut, harusnya tadi jangan ceroboh, membiarkan pintu rumahmu tidak di kunci itu sangat bahaya, gimana kalau yang muncul, orang gila? Kamu mau orang gila itu makan lalu mandi, setelah itu tidur di kamarmu.” Dengan jari telunjuknya, Kevin men

