Malam semakin larut, sesekali burung malam berdecit dan menghilang di balik pohon. Angin berhembus pelan, menerpa rumah sederhana Zizi. Masuk melalui celah jendela kamar yang terbuka. Daster kaos nya yang selutut berwarna pink. Terlihat indah menempel di tubuhnya. Sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih. Dan Zizi tidak peduli bajunya tersingkap, memperlihatkan sebagian kaki-kakinya yang ramping, putih, dan halus. Zizi tak sempat lagi menutup kaki indahnya, tidak sempat pula menutup jendelanya yang terletak agak tinggi. Karena ia sedang fokus menangis tanpa suara, ia telan sesenggukannya dalam-dalam. Semua rasa sakit dan kecewa atas sikap Kevin ia tumpahkan ke dalam bantal. Membuat bantal itu berbasah-basah. Dan Zizi terus saja menangis, meratapi nasibnya yang tidak di ing

