Untuk pertama kalinya Zachary melapisi seluruh tubuhnya dengan sihir angin miliknya. Hal itu ia lakukan supaya lebih mudah untuk bergerak, mengayuhkan kaki ketika berlari tidak akan lagi terasa berat. Untungnya, letak sekolah berada di ujung kota atau bisa dibilang perbatasan antara kota sihir dengan bagian luar yaitu tempat para keluarga rendahan.
Sekitar lima menit digunakan Zachary untuk berlari dari rumahnya menuju sekolah. Sesampainya Zachary di sekolah, ia langsung menuju bangunan baru tempat penelitian sihir alam. Zachary mengingat masa-masa saat ia baru memasuki sekolah sihir dan bertemu kembali dengan Sera setelah begitu lama. Setiap ada hari libur yang paling Zachary ingat adalah Sera selalu menyempatkan dirinya untuk mempelajari hal-hal baru di sekolah. Entah membaca buku di perpustakaan atau melatih sihirnya seorang diri, tetapi diam-diam Zachary memerhatikan dari kejauhan.
Zachary membuka pintu terburu-buru. Alas pintu dan lantai saling bergesekan menghasilkan suara decit yang membuat ngilu. Benar saja Sera berada di dalam ruangan, Zachary melihatnya menutup telinga dengan kedua telapak tangan karena suara decit pintu. “Sera, kau tidak apa-apa?” tanya Zachary sambil berjalan mendekati.Sera termenung menatap Zachary seakan-akan melihat malaikat dari langit.
Zachary melambaikan tangan pelan di depan wajahnya. “Sera, ada apa denganmu?”
Seketika itu Sera mengedipkan matanya lalu menunduk malu. “Emm, bukan apa-apa. Aku hanya terkejut kau bisa mengetahui aku berada di sini,” ujar Sera dengan tangan menyilang ke bawah. Senyum tipis terlihat di wajah Zachary. “Tidak penting mengetahui kau ada di sini. Tapi, bisakah aku meminta bantuanmu?”
Sera menatap Zachary, matanya berbinar-binar. “Bantuan, tentu! Dengan senang hati akan kubantu, tapi … membantu apa?”
“Pagi tadi ibuku terjatuh dari atas kasur, kakinya membentur meja jadi ia harus terbaring di ranjang. Aku kemari mencari dirimu karena tadi suhu tubuh ibu mulai naik,” jelas Zachary.
“Ya ampun, jika suhunya semakin meningkat itu akan gawat. Kita harus cepat pergi ke rumahmu, kebetulan aku baru menyelesaikan ramuan pada kertas yang kau temukan tempo hari di gubuk taman,” ujar Sera.
“Kalau begitu, ayo kita pergi!” Zachary menggenggam lengan Sera erat dan menariknya untuk pergi. Sera begitu terkejut hingga tak bisa berkata-kata, yang dapat dilakukan hanya mengikuti arahan Zachary yang terus menggenggam tangannya selama perjalanan.
Sampailah keduanya di kediaman keluarga Theora. “Ayo masuk, Ibu ada di dalam.” Zachary mempersilahkan masuk seraya membukakan pintu.
“I- iya, terima kasih.” Sera menjawab sambil menunduk sesaat.
Tiba di depan kamar, Sera bertemu dengan ayahnya Zachary. “Permisi Paman, sudah lama ya kita tidak berjumpa.” Sera menyapa dengan basa-basi.
Ayahnya Zachary sempat lupa kepada Sera untuk sesaat tetapi dalam sesaat juga mengingat Sera yang pada saat kecil sering bermain dengan Zachary dan Hans di dekat ladang. “Ya ampun, hampir saja aku melupakanmu. Kau sudah sangat besar sekarang, terakhir melihatmu saat masih berebut permen degan Zachary.”
Mendengar hal itu membuat Sera tersipu malu. “Kalau begitu, aku izin melihat kondisi bibi di dalam. Zachary tadi memberi tahu jika suhu tubuh bibi terus naik.”
“Silahkan masuk, kau begitu baik ingin jauh-jauh datang ke sini.” Ayah Zachary berkata. Sera hanya menyeringai lalu masuk ke dalam kamar ditemani Zachary sementara ayahnya menunggu di luar. Sera berjalan perlahan mendekati ibu Zachary yang terbaring lemas dan sedikit pucat wajahnya. “Permisi Bibi, apakah ada keluhan lain selain suhu tubuh yang meningkat?” tanya Sera.
“Nyeri di kepala ….” Ibu Zachary menjawabnya lemah.
Sera berpaling melihat Zachary. “Biarkan aku memeriksa penyakitnya menggunakan sihirku,” ujar Sera.
Zachary mengangguk. “Lakukan yang terbaik, ya.”
Perkataan Zachary terdengar penuh dengan harapan. Seperti meminta dari lubuk hatinya yang terdalam dengan tulus kepada Sera. Hal itu membuat Sera merinding untuk sesaat di seluruh tubuhnya.
Sera mengumpulkan energi sihir di telapak tangannya lalu memulai pemeriksaan. “Sihir alam: Rangkaian Bunga Pemeriksa.”
Rangkaian bunga yang diciptakan dari sihir Sera mulai bekerja dengan menyemprotkan sedikit serbuk bunga ke udara. Sementara itu, Sera terfokus dengan pengumpulan energi sihir di tangannya. Beberapa menit kemudian, Sera menyudahi sihirnya lalu menghampiri Zachary yang tengah duduk menunggu di sudut kamar.
“Bagaimana keadaanya? Apakah kau sudah menemukan akar penyakitnya?” Zachary bertanya terlebih dulu sebelum Sera mengatakan sepatah kata pun.
Sera menghela napasnya. “Aku tidak mengerti. Walaupun tubuhnya benar-benar memiliki suhu tinggi dan bekas memar di kaki memang nyata adanya. Tetapi, aku tidak mendapatkan hasil apa pun soal nyeri di kepalanya. Oh iya, di sekolah tadi kau juga mengatakan ibumu jatuh dari atas kasur, bagaimana kronologinya?”
“Ibu berkata saat itu ia dalam keadaan sadar tetapi ia tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri. Seperti ada yang menggerakkannya,” ujar Zachary.
“Ya ampun, apa-apaan itu. Terdengar sangat tidak mungkin jika penyakit biasa.”
“Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi pada ibu. Satu-satunya yang ada di pikiranku hanyalah meminta bantuanmu, Sera.”
Sera kembali terdiam untuk sesaat hanya karena kalimat yang diucapkan Zachary entah kenapa. “Hei Zachary, bisakah kau izinkan aku untuk menggunakan ramuan yang baru saja kuselesaikan dari kertas yang kau temukan,” pinta Sera.
“Apa? Kau ingin mencoba ramuan itu pada ibuku? Jangan berbuat macam-macam ya!” Rasanya Zachary ingin teriak karena tidak terima dengan permintaan Sera. Apa boleh buat ia harus berbicara dengan perlahan supaya tidak mengganggu sang ibu yang tengah beristirahat.
“Percayalah padaku, Zachary. Siang tadi tanganku tidak sengaja terkena pisau kecil yang biasanya digunakan untuk memotong tanaman obat. Aku mencoba mengenakan ramuan itu pada tanganku dan benar saja beberapa menit setelah itu lukanya menghilang.”
“Tetapi ini serius Sera, hanya karena memar di sebelah bagian kakinya ibuku bahkan tak dapat berdiri walaupun dibantu. Kurasa ini bukan hal yang biasa.”
“Aku mengerti dan aku juga serius. Jika kau meminta yang terbaik dariku, biarkan aku melakukan ini.”
Zachary menghempaskan napas begitu berat. “Jika memang seperti itu, lakukanlah yang terbaik dari apa yang kau bisa lakukan.”
Akhirnya Zachary mengiyakan permintaan Sera. Sera mengambil ramuan yang telah ia racik dari dalam tasnya. Sera menyimpan racikan itu di dalam toples kaca berukuran sedang. Sera mengambil sedikit demi sedikit ramuannya menggunakan jari telunjuk lalu mengoleskannya di area kaki ibu Zachary yang memiliki memar. Sera juga mencoba mengoleskan ramuan pada kening ibu Zachary berharap nyerinya berkurang.
Hari telah larut, rembulan menenangkan suasana langit malam yang sulit `tuk di genggam. Ibu Zachary telah tertidur selagi menunggu efek dari ramuannya berjalan. Ayah Zachary kini menggantikan anaknya untuk menjaga sang istri di kamar hingga siuman. Sementara itu, Sera bersama dengan Zachary tengah duduk di halaman depan rumah menikmati angin malam.
“Hei, Zachary. Terima kasih ya untuk tehnya. Aku tidak menyangka lelaki seperti dirimu dapat membuat the seenak ini,” ujar Sera tersenyum manis sambil menaruh cangkir kopi yang sudah diseruput habis sebelumnya.
“Itu dipetik langsung dari bukit dan diolah oleh warga di sekitar sini.”
Saat tidak diajak berinteraksi, Zachary lebih memilih untuk diam malah terkesan seperti melamun. Oleh karena itu, Sera mencoba untuk mengobrol lebih banyak dengan Zachary. “Jika soal ibumu, kau tidak perlu cemas. Aku akan mendoakannya setiap saat aku bisa berdoa.”
“Terima kasih, Sera.” Zachary hanya menjawab singkat.
“Oh iya, omong-omong di mana Hans? Aku tidak melihatnya sejak datang.”
“Ah iya, aku baru ingat. Aku memintanya mengikat gandum yang tersisa juga mengunci pagar ladang. Tapi seharusnya ia sudah kembali sejak tadi, mengapa ia belum kembali juga, ya?”
“Kakak! Kakak! Kemarilah dan lihat apa yang aku temukan!” Hans berteriak dari sambil berlari dari arah ladang.
Sera tertawa kecil. “Panjang umurnya! Baru saja dibicarakan, langsung muncul orangnya. Ayo kita hampiri dia,” ajak Sera.
Zachary tak mengatakan sepatah kata pun tetapi langsung beranjak dari kursinya menghampiri Hans. Sera mengikuti jalannya Zachary dari belakang. “Hans, apa yang kau temui di ladang sampai-sampai kembali ketika larut seperti ini” tanya Zachary yang cemas dengan adiknya.
“Aku menemukan jimat sihir yang terkubur di ladang kak. Tadi, setelah aku mengikat semua sisa gandumnya aku tersandung jatuh dan dengan tidak sengaja menemukan jimat ini.” Hans menyerahkan jimat yang ia temukan kepada Zachary.
Zachary mengamatinya dengan teliti. “Dari bentuknya ini merupakan buatan penyihir tipe shaman yang sudah berpengalaman. Di tambah lagi ada rambut ibu yang terikat degan jimat ini,” kata Zachary.
“Tunggu, apa? Rambut ibumu terikat pada jimat itu?” tanya Sera yang kebingungan dengan perkataan Zachary.
Zachary mengangkat tali jimatnya. “Lihatlah badan jimat ini, batu delima diikat dengan rambut panjang putih beruban yang mana hanya ibuku yang memilikinya, tak ada yang lain.”
“Siapa yang berani menyakiti ibu dengan cara licik seperti ini, tidak akanku maafkan!” Hans bergumam.
“Siapa pun itu yang pasti pelakunya memiliki perasaan tidak suka terhadap keluarga kita. Jimat seperti ini yang menarget satu orang khusus pastinya dibuat oleh penyihir yang hebat,” ujar Zachary.
“Entahlah kak, yang ada di pikiranku hanya bangsawan sombong itu,” ujar Hans.
“Maksudmu Redd?” tanya Zachary memastikan.
“Siapa lagi jika bikan dirinya. Saat bertemu dengannya beberapa hari lalu aku melihat kalung di lehernya dengan bentuk yang sama persis seperti jimat yang aku temukan.” Lalu Hans memalingkan pandangannya ke samping.
Sera mendekati Zachary untuk melihat jimat yang ditemukan Hans, adiknya. “Satu-satunya cara adalah menghancurkan jimat itu untuk menghapus efek negatif yang dibawanya.” Sera memberikan sarannya.
“Baiklah jika hanya memang itu caranya,” desis Zachary.
Zachary melempar jimat itu ke arah langit lalu diikuti tangan kanannya bergerak seolah menjadi pisau yang akan memotong jimatnya menjadi bagian-bagian kecil. Sihir angin pembelah milik Zachary memotong habis jimatnya hingga hancur seperti debu. Amarah menyelimuti pikiran Zachary permasalahan jimat tersebut.
“Kau sangat hebat dengan sihirmu itu!” Sera memuji Zachary sambil menepuk pundaknya.
Zachary tersenyum lebar. “Saat ini jimatnya sudah hancur, tetapi apa ada yang berubah sekarang?”
Untuk beberapa saat ketiganya terlarut dalam kesunyian malam ….
“Zachary, Hans!” Suara ayahnya yang berteriak dari dalam rumah.
Zachary dan Hans memasuki kamar ibunya, Sera membuntuti di belakang. Betapa terkejut mereka ketika melihat nyonya keluarga Theora sudah dapat duduk dan mukanya tidak lagi pucat.
“Apakah Ibu benar-benar sembuh?” tanya Hans yang masih tak percaya.
Ibunya lantas mengangkat kedua tangannya bermaksud untuk berpelukan. Kakak beradik itu berlari layaknya anak kecil yang dijemput pulang di sekolah. Tanpa disadari, Zachary menitihkan setetes air mata yang sudah begitu lama terlihat sejak terkahir kali Zachary menangis.
“Terima kasih ya kalian sudah merawat ibu dengan baik dan tulus. Kau juga Sera, aku ucapkan terima kasih untuk melakukan yang terbaik,” ujar ibu Zachary. “Ibu juga terkejut sebenarnya setelah mengalami pendarahan tiba-tiba. Setelah beberapa hari mendadak pendarahan itu menghilang dan ibu malah terjatuh dari atas ranjang. Sebuah pengalaman yang aneh dan tak terlupakan bagi Ibu,” tambahnya. Sera yang melihat kehangatan di antara keluarga Zachary tersenyum lebar.