Sampai di depan ruangan penyimpanan, pintu besi menutup rapat. Tidak ada satu pun meja yang terlihat untuk menaruh berkas sementara, bagian ubin juga begitu kotor berdebu. Zachary berpikir keras bagaimana caranya untuk membuka pintu ruangan tanpa membuat berkasnya rusak. Akhirnya ia memutuskan untuk menendang pintu dengan sekuat mungkin hingga terbuka tetapi masih menjaga berkas yang ada di tangannya dengan baik.
“Hei, apa kau yakin dengan itu?” tanya Sera.
“Tenang, saja. Sebentar lagi pasti pintu ini akan terbuka,” ujar Zachary begitu yakin seraya menendang pintu sekuat tenaga.
Beberapa kali Zachary menendang pintu, akhirnya saat tendangan yang sedikit lebih kuat dilakukannya pintu besi itu terbuka. Hampir saja tumpukan berkas yang ia bawa berjatuhan. Selepas itu, Zachary diikuti Sera memasuki ruang penyimpanan dengan berhati-hati. Lalu, Zachary dan Sera menaruh berkas yang dibawa ke atas meja kayu dengan kain putih bersih menutupi permukaannya.
“Fyuuh, membawa tumpukan berkas itu sangat melelahkan,” kata Zachary.
“Apa tumpukan berkas ini akan kita biarkan berada di atas meja begitu saja?” tanya Sera sambil menggaruk lengannya.
“Aku juga bingung, tetapi yang diminta guru Diana hanyalah menyimpannya di ruangan ini. Ia tidak memberitahu harus disimpan di sebelah mana.”
Sera mengambil selembar berkas dari tumpukan paling atas. Diamatinya dengan serius satu persatu. “Aneh … ada kategori nilai tulis, praktik, psikis, fisik dan jangkauan kemampuan.”
Zachary berpikir sesaat mendengarnya. “Tunggu, memangnya ada tes psikis dan fisik? Lalu apa maksudnya jangkauan kemampuan?”
Lalu Zachary menghampiri Sera untuk melihat berkas yang dilihatnya. Dalam berkas tersebut tertulis nilai dengan jangkauan skor 1-20. Berkas yang sedang dilihat memiliki 19 skor tes tulis, 4 skor praktik, 2 skor psikis, dan sisanya kosong. Zachary dan Sera kebingungan melihatnya. Terlebih lagi kolom nama diisi dengan kode, pada beberapa bagian juga memiliki kode yang tidak jelas.
“Kepalaku hampir meledak mencoba untuk memahaminya,” ujar Sera.
“Guru Diana mengatakan berkas ini adalah hasil ujian kenaikan kelas beberapa tahun lalu. Tetapi aku bahkan tidak tahu ada tes fisik dan psikis.”
Sera menghela napas. “Sekolah ini penuh dengan misteri.”
“Sudahlah, letakkan kembali berkas itu. Ayo kita keluar, udara di dalam sini tidak enak,” ucap Zachary.
Menjelang petang langit mulai kemerahan. Burung-burung kembali ke sarangnya dan burung burung hantu bersiap untuk berburu mangsa. Sekolah menjadi begitu sepi, dari jauh terlihat seperti bangunan tua yang masih berdiri dengan pencahayaan yang minim. Satu dua lampu menyala, beberapa berkedip-kedip, dan sisanya padam tak lagi teraliri listrik.
Zachary dan Sera terlihat keluar dari gudang penyimpanan berkas. Tak lupa Zachary kembali menutup pintunya rapat-rapat. Baru saja akan melangkahkan kaki `tuk pergi, kejadian tak terduga datang. Mereka mendengar suara dentuman yang begitu nyaring, terdengar dari arah belakang gudang penyimpanan.
“Ya ampun, suara apa itu?” tanya Sera yang terkejut.
“Sepertinya itu berasal dari arah lapangan, ayo kita pergi ke sana!”
Di tengah lapangan kala sekolah sangat sepi. Ternyata suara dentuman barusan berasal dari ledakan sihir milik Hans dan Redd yang tengah bertarung dengan sengit. Keduanya terlihat dipenuhi amarah, mengeluarkan sihir dengan serius dan tidak peduli dengan sekitarannya. Sampai-sampai struktur tanah lapangan menjadi hancur tak beraturan, rerumputan tercecer di mana-mana.
“Akanku hancurkan kepalamu!” teriak Hans. “Sihir angin: Hempasan Bumi!” Hans mengangkat tangannya dengan telapak mengarah ke belakang. Setelah itu, Hans mengangkat telapak tangannya dan angin besar menghempaskan Redd sampai terjatuh.
Redd tidak ingin jatuh dan menyerah begitu saja. Ia bangkit lalu menapakkan telapak tangannya di atas tanah lapangan yang sudah tidak datar.
“Tidak usah kau berlagak kuat jika kau akan tumbang setelahnya!” Hans kembali berteriak sambil tertawa kecil. “Sihir angin: Lingkaran Area Angin!” Seketika lapangan dilingkari oleh sihir angin milik Hans.
Angin sihir dari Hans begitu kencang hingga menerbangkan tanah halus beserta rerumputan. Baik Redd ataupun Hans sendiri tidak ada yang dapat bergerak karena angin yang kencang. Tiba-tiba sorot mata Redd menjadi begitu tajam kepada Hans sambil tersenyum setengah dan telapak tangannya masih menempel kokoh di atas tanah. Tak lama setelah itu, Redd memejamkan matanya. Tanah lapangan yang semula sangat hancur mendadak berubah menjadi batuan yang begitu keras begitu pun dengan tanah halus yang berterbangan terbawa sihir angin Hans. Berubah menjadi batu-batu kecil yang sangat mengganggu.
Struktur tanah lapangan berubah menjadi batuan, ditambah dengan sihir angin Hans yang menciptakan pusaran. Batu-batu yang berterbangan beberapa ada yang memiliki ujung tajam, beberapa kali menghantam tubuh Hans. Hingga tangan Hans yang digunakan untuk melindungi wajahnya terluka, tergores serpihan batu yang tajam. Tidak hanya Hans, tangan Redd juga mengalami luka tetapi hanya tergores sedikit saja.
“s**l, jika begini terus aku akan mendapat lebih banyak goresan,” batin Hans mengeluh. “Sihir dasar: Pembatalan Sihir!”
Lingkaran sihir angin yang melingkari lapangan berangsur melambat lalu menghilang. Suasana lapangan sangat kacau, setetes darah mengalir ke jari Hans. Lalu Hans kembali menatap Redd dengan penuh amarah, Redd balik menatapnya tetapi dengan tambahan senyum lebar. Dataran yang sudah menjadi bebatuan tiba-tiba berubah kembali seperti semula, tanah yang berwarna kecokelatan. Hans kebingungan dengan sihir apa yang digunakan Redd sampai-sampai dapat merubah tanah menjadi batuan dalam waktu yang singkat.
“Cepat sekali! Pasti sihir tanah yang ia gunakan adalah sihir tingkat I.” Hans bergumam.
Redd dengan begitu gesit berlari ke arah Hans sambil menyiapkan kepalan tangannya. Hans yang terlambat menyadari hal itu membuatnya tak dapat menghindar. Alhasil, pukulan Redd menghantam perut Hans hingga terdorong hampir jatuh.
Hans membatin, “Ia cepat … fisiknya juga kuat. Dengan sihir yang kuat, orang ini sangat pantas `tuk menjadi rivalku!” Hans seraya tersenyum jahat.
Hans tidak terjatuh hanya karena satu pukulan dari Redd. Ia memasang kuda-kuda untuk kembali membalas Redd. Beberapa pukulan ditangkis, setelah itu keduanya bertarung dengan adu pukulan tanpa bantuan sihir sedikit pun. Walaupun banyak yang ditangkis, siapa sangka beberapa pukulan Hans setelahnya malah mengenai wajah Redd. Lalu tiba saatnya bagi Redd yang menemukan celah lengah dari Hans langsung memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Redd mencakar luka di tangan Hans yang membuatnya mendapat luka di tangan yang semakin besar.
“Tingkat III tidak perlu berlagak melawan tingkat I,” ucap Redd merendahkan.
Setelahnya, dengan cepat Redd membungkukkan badan lalu meluruskan sebelah kakinya. Tanpa basa-basi ia lalu mendorong kakinya itu ke arah Hans, alhasil Hans pun terjatuh.
Bersamaan dengan Hans yang terjatuh, Zachary dan Sera datang bersamaan. Keduanya begitu terkejut saat melihat kondisi lapangan yang bisa diibaratkan seperti kapal yang menghantam gunung es dalam kecepatan tinggi. Hancur dan berantakan. Zachary hingga benar-benar terpaku melihat lapangan sekolah yang seharusnya dilapisi rerumputan hijau kini seketika berubah menjadi hancur tak karuan.
Tak lama, Zachary dan Sera melihat Hans kembali bangkit dan membalas serangan Redd. Adu pukulan di antara keduanya tak dapat dihindarkan lagi, terlebih keduanya sudah terlanjut terbawa emosi sejak awal. Jadi, mau tak mau Zachary harus membiarkan adiknya bertarung terlebih dahulu hingga emosinya mereda.
Dari atas pohon yang dahannya cukup besar, terdengar suara tertawa kecil yang sedikit menggelikan. Zachary memandangi bagian atas pohon itu dalam beberapa saat dengan penuh rasa penasaran. Tak lama menunggu, seseorang yang misterius turun dari atas pohon itu. Berdiri dengan tegap membelakangi Zachary dan Sera. Tubuhnya tidak terlalu besar dengan pakaian serba putih dengan sedikit motif berwarna kuning. Rambut blonde hingga sepatu kulit berwarna hitam. Zachary merasa tak asing degan orang tersebut, seperti sudah sering melihatnya tapi entah itu di mana. Benar saja dugaan Zachary tentang orang yang tidak asing, saat berbalik ternyata orang itu adalah Julian.
Zachary menatap Julian Aneh. “Untuk apa kau di atas pohon itu? Menjadi mata-mata?”
Julian tersenyum. “Tidak, aku hanya menonton pertarungan di antara kaki tanganku bersama adikmu. Emosi mereka sedang meluap, bukan tak mungkin akan saling melukai bahkan mereka bisa saja saling ….” Julian berucap dengan begitu santai dan sengaja menggantungkan akhir kalimatnya.
“Orang gila!” seru Zachary. Namun, Julian hanya menyeringai mendengarnya.
“Hei, omong-omong aku tidak menyangka kau bisa berteman baik dengan gadis pembuat onar itu,” kata Julian.
Mata Sera melotot setelah mendengarnya sambil memasang wajah geram.
“Apa yang kau maksud dengan pembuat onar, ha?” tanya Zachary dengan nada sinis.
“Tanyakan saja sendiri kepadanya. Dia masih memiliki hutang kepadaku dan tak kunjung dibayar hingga saat ini,” ujar Julian dan setelah itu ketiganya terdiam membisu.
Di sela suasana sepi di antara ketiganya, pukulan tangan Redd dan Hans saling berhantaman. Dari hal itu menyebabkan ledakan gelombang sihir yang menciptakan hembusan angin begitu kencang hingga daun-daun berterbangan. Zachary menoleh ke arah adiknya dan Redd yang masih melakukan adu jotos.
Zachary berjalan beberapa langkah mendekati Hans dan Redd. “Hei kalian berdua, berhenti!” teriak Zachary.
Namun, ucapan Zachary tidak digubris sama sekali. Sepertinya Hans dan Redd terlalu fokus untuk bertarung hingga tidak mendengar ucapan Zachary.
Zachary mengulangi ucapannya, “Berhenti sebelum aku-“
Perkataan Zachary harus terhenti karena pertengkaran Hans dan Redd kembali menciptakan ledakan gelombang sihir. Karena hal itu, Zachary harus melindungi matanya dari debu tanah yang berterbangan.
“Kalian, berhentilah!” Sekali lagi Zachary berkata tetapi masih tidak dihiraukan Hans dan Redd.
Hingga habis sudah kesabaran Zachary. Ia mengepal tangannya kuat-kuat hingga urat di lengannya terlihat lebih jelas, gigi atas dan bawah saling bergesekan.
“Sihir angin ….” Zachary mengangkat tangan kanannya, seluruh energi sihir terpusat di ujung jemari Zachary. Sementara itu, Julian membisu di belakang Zachary melihat energi sihir Zachary yang begitu besar.
Zachary membanting lengan kanannya ke bawah seraya berkata, “Typhoon!” Sontak tercipta angin puyuh yang begitu tinggi menerbangkan Hans dan Redd ke udara. Pusaran angin tidak begitu besar, tetapi kecepatannya terlihat cukup untuk menghancurkan pepohonan dalam sekejap.
Zachary menghempaskan napasnya perlahan. “Rasanya akibatnya mengabaikan Zachary.”
Di dalam pusaran angin, Hans dan Redd tak dapat melakukan apa pun. Sihir pusaran angin yang dibuat Zachary sangatlah kuat, tubuh Hans juga Redd hanya berputar-putar tanpa tahu kapan sihirnya akan berhenti. Hingga dari kejauhan terlihat seorang penyihir terbang menggunakan sapu sihir. Semakin mendekat, penyihir itu nampak menggunakan topi besar khas penyihir dengan ujung yang sedikit bengkok. Rambutnya berwarna pucat dengan setelan baju penyihir yang rapi.